My Lovely Girl

My Lovely Girl
Bab 15



Zea meninggalkan meja makan dan langsung menuju kamar momy abel.


"Mom ...." Panggil Zea sambil mengetuk pintu kamar itu.


"ya sayang ... masuklah," jawab Abel yang sudah duduk di sofa dekat balkon.


"Momy, kenapa duduk disitu ... anginnya lumayan kencang, nanti Momy masuk angin," kata Zea menghampiri Abel.


"Tidak sayang ... Momy suka disini karena ini adalah tempat dimana Dady dan Momy biasa melewati pagi," sahut Abel sambil menatap langit biru.


" Momy merindukannya??" tanya Zea lalu duduk di sebelah Abel.


Abel hanya tersenyum mendengar pertanyaan Zea sambil menundukkan pandangannya.


"Aku tahu bagaimana rasanya merindukan seseorang yang sudah tiada, Mom," jawab Zea sambil mengusap punggung tangan Abel.


Abel mengangkat pandangannya dan menatap mata calon menantunya yang sudah berair.


"Sayang ... maafkan Momy, kau jadi mengingat mendiang ibumu karena Momy," kata Abel sambil menangkup pipi Zea.


Zea berkedip dan seketika air matanya tumpah.


"Tidak Mom ..." kata Zea sambil mengusap air matanya.


"Ada Momy disini Zea, jadi jangan pernah merasa kesepian, oke," kata Abel menguatkan Zea.


Zea pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada Abel, lalu Abel memeluknya dengan penuh kehangatan.


'Pelukan ini ... aku sangat merindukan pelukan sehangat ini,' batin Zea sambil mempererat pelukannya.


Dibalik pintu kamar itu, ada Dev yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka.


Pria itu terenyuh melihat pemandangan itu.


'Kurasa ... aku sudah menemukan wanita yang tepat untuk Momy,' batin Dev sambil tersenyum.


"boleh aku bergabung?" tanya Dev pada 2 sosok wanita cantik yang berpelukan.


Zea dan Abel pun menoleh pada sumber suara dengan masih tetap berpelukan.


"Kau menguping Dev?" tanya Abel pada putranya.


Dev hanya tersenyum sambil berjalan menghampiri ibu dan calon istrinya.


"Dasar penguntit," kata Zea dalam pelukan Abel tanpa melihat kearah Dev.


"Heyy ... kau mengatai ku didepan Momy ku." Protes Dev lalu duduk disebelah abel sambil mencium tangannya.


" Aku tidak peduli karena memang itulah dirimu," sahut Zea Cuek.


" Singkirkan tangan mu dari Momy ku," ucap Dev yang ingin melepaskan tautan tangan Zea yang melingkar di pinggang abel.


"No, pergilah Dev. Jangan ganggu kami," jawab Zea yang semakin mempererat pelukannya.


"Heyy, dia Momy ku kalau kau lupa," sahut Dev sambil menyenderkan kepalanya dibahu Abel, lalu Abel mengusap kepalanya.


" Dia juga Momy ku ..." jawab Zea lagi sambil menjulurkan lidahnya pada dev.


Mereka berpandangan tajam dengan Abel yang masih berada ditengah tengah mereka.


"Sudahlah, kalian berdua putra putri ku," kata Abel menengahi, lalu memeluk keduanya.


" Dia hanya calon menantu Mom," kata Dev tak mau kalah.


"Ya, menantu kesayangan Momy," jawab Zea mencubit tangan Dev di belakang Abel.


"Sudah - sudah ... kalian ini seperti anak kecil saja," kata Abel lalu beranjak dari sofa itu.


Abel berjalan menuju lemarinya dan mengambil beberapa pakaian beserta pakaian dalam nya.


"Kemarilah sayang ..." kata Abel memanggil Zea.


Zea menghampiri Abel, dan Abel memperlihatkan dress selutut pada Zea yang berwarna maron.


"Ini pasti akan cocok di badanmu," kata Abel menempelkan dress itu pada tubuh Zea.


"Ini salah satu dress yang diberikan Dady nya Dev ketika Momy ulang tahun," kata Abel menerawang masa lalunya.


"Dan Momy masih merawat serta menyimpannya hingga kini, tapi kenapa Momy malah menyuruh aku untuk memakainya?" tanya Zea memandang wajah sang calon mertua.


"Karena Momy tahu kau lebih membutuhkannya," kata Abel tersenyum melihat penampilan Zea yang hanya memakai kemeja panjang sepaha, tanpa mengenakan bra.


Untungnya kemeja itu berwarna hitam jadi tidak terlalu memperlihatkan puncak dadanya.


"Oh my God ... aku lupa hal ini," kata Zea dan menyilangkan kedua tangannya diatas dadanya.


"Beby ... jangan tutupi pemandangan indah itu," kata Dev yang sedari tadi melihat pemandangan wanita **** di depannya.


Lalu Zea pun keluar dari kamar itu sambil membawa baju itu, dan langsung mengganti pakaiannya ketika sudah berada di dalam ruang ganti.


"Mom ... bisakah mempercepat pernikahan kami," ucap Dev pada Momynya yang fokus dengan majalahnya.


"Kenapa? ada apa Dev?" tanya Abel memandang wajah Dev yang serius.


"Mom, aku tidak tahan bila berada didekatnya, aku ingin sekali membawanya keranjang ku," kata Dev jujur dengan apa yang dia rasakan.


Abel langsung menatap tajam putranya itu.


PLAKK


Abel menjitak kepala putranya.


"kalau kau berani menyentuhnya, maka Momy sendiri yang akan menjauhkan Zea darimu!" ucap abel tegas.


Dan keluar dari kamarnya meninggalkan Dev yang sedang tertawa karena ancaman dari abel.


Ketika melewati kamar Zea, wanita itu berhenti dan masuk kedalam kamar itu.


"Sayang, kau sudah mengganti bajumu?" tanya Abel melihat Zea baru keluar dari ruang ganti.


"Ya Mom," sahut Zea dan memperlihatkan penampilannya pada Abel.


'Sebenarnya ini bukan Seleraku,' batin Zea karena memang Zea berpenampilan sedikit tomboy dan selalu memakai celana kemanapun dia pergi agar mudah mengendarai motornya.


"Kau sangat cantik memakai baju ini, sayang," kata Abel memutar tubuh Zea.


"Thanks Mom," Jawab Zea.


Lalu mereka keluar dan menuju ruang tengah.


"Momy tidak istirahat di kamar?" tanya Zea yang duduk disebelah abel.


"aku merasa bosan di kamar terus sayang, lagian Momy juga merasa lebih baik," jawab Abel sambil tersenyum pada Zea.


Tiba - tiba ada wanita yang masuk kedalam mansion dan dia adalah Lena, mantan kekasih Dev.


"Selamat pagi aunty ..." kata Lena langsung menuju ruang tengah.


"Tidak kah kau punya sopan santun, Nona?" tanya Zea risih dengan perbuatan Lena yang langsung nyelonong masuk tanpa permisi.


Zea melihat penampilan dari wanita itu yang sangat **** dan tak mungkin dia adik dari Dev karena kata Dev adiknya masih remaja.


"Sudahlah sayang ... dia memang sudah terbiasa kemari," jawab abel takut ada keributan di mansionya.


Lena menatap tajam kearah Zea yang sepertinya sangat dekat dengan Abel.


Bahkan abel sudah memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Lena, duduklah," kata Abel.


"Aunty apa kabar?? aku dengar Aunty sedang tidak enak badan, jadi aku kemari untuk menjenguk dan menemani Aunty, karena aku tahu Aunty pasti sangat kesepian disini," kata Lena panjang lebar dengan nada yang mendayu.


Zea hanya melihat datar pada sosok wanita yang berada di depannya.


"Kau tidak perlu datang kemari lagi Lena, karena Momy sudah tidak kesepian lagi sejak dia memiliki seorang menantu," kata Dev dengan nada dingin yang tiba-tiba muncul di ruangan itu.


"Dev, bicaralah baik - baik pada lena," sahut Abel menoleh pada Dev.


" Aku sudah bicara baik - baik Mom," kata Dev lalu duduk di sebelah Zea dan mencium puncak kepalanya.


Lena mengepalkan tangannya melihat perlakuan manis Dev pada Zea dengan tatapan penuh amarah.


"Oiya Lena, perkenalkan ini Azelia, calon istri Devandra. Dan sayang, dia Lena Teman sekaligus mantan pacar Dev," kata Abel memperkenalkan 2 gadis itu.


"Mom, tidak usah memperjelas masa lalu," kata Dev melihat sinis pada lena.


lalu Zea mengulurkan tangannya pada lena tapi wanita itu hanya mengabaikannya.


"Sepertinya ada masa lalu yang belum terselesaikan," ucap Zea tersenyum miring ketika Lena tak membalas jabatan tangannya.


"Aunty, ini aku bawakan kue kesukaan Aunty, dan saya langsung pamit ya Aunty, besok aku akan kemari lagi," kata Lena pada Abel sambil beranjak dari sofa itu.


"Terimakasih atas kunjungan mu dan kue ini, tapi Aunty minta kau tidak usah kemari lagi sebelum aku mengundang mu, karena Aunty takut calon istrinya Dev salah paham dengan kedatangan mu," ucap Abel tegas, Lena langsung tersentak dengan ucapan tegas Abel yang tidak memperbolehkan dia untuk ke mansion ini lagi.


"Bukan cuma mansion Lena, tapi juga ke seluruh perusahaan ku!" sahut Dev tegas tanpa melihat kearah Lena yang sudah menahan amarahnya.


"B _ baik Aunty," sahut Lena sambil mengepalkan tangannya, dan keluar dari mansion itu.


'Wanita itu sudah merebut posisi ku di keluarga ini, lihat saja nanti, aku akan membalasnya,' batin Lena.


"Aaaarrgghhhh ... wanita sialan!!" teriak Lena ketika didalam mobil sambil memukul kemudinya.


"Dev, kau milikku ... hanya milikku," ucap Lena dingin.