
Hari bahagia pun tiba.
Dimas dengan lantang mengucap janji suci pernikahan pada Anggita.
Wanita cantik dan seksi yang berhasil memikat hatinya, dan memberikan kehormatannya padanya.
Dimas sangat mencintai Anggita, dia sampai berani melawan Daddy nya hanya demi menikahi Anggita.
Pria itu juga rela kehilangan fasilitas mewah serta perusahaan Daddy nya hanya demi Anggita.
Meskipun tanpa harta dari Daddy nya, Dimas tetaplah pengusaha serta Dokter yang terkenal.
Karena Pria itu juga mendirikan bisnisnya sendiri sambil menjalankan profesinya sebagai seorang dokter.
Semua tampak hadir dalam pernikahan itu, termasuk Sia, kakak perempuan Dimas satu-satunya.
Kini Dimas dan Anggita sudah resmi menjadi sepasang suami istri, semua tampak bahagia menyaksikan pernikahan mereka.
Semua keluarga dan tamu yang hadir tampak menyalami mereka secara bergantian sembari mengucapkan selamat pada kedua mempelai.
" Selamat Dimas, Akhirnya kau menemukan cinta mu. semoga kalian bahagia," kata Sia memberi selamat pada adiknya.
" Thanks, Kak."
" Hai, Anggita. Aku Sia, kakak satu-satunya Dimas," kata Sia mengenalkan dirinya pada Gita.
" Hai, Kakak Ipar. Senang bertemu dengan mu. Terimakasih sudah datang ke pesta kami," ucap Gita sendu.
" Hei, jangan memikirkan hal yang tak penting. Cukup jalani hidupmu bersama pria menyebalkan ini. Dan berbahagialah," kata Sia menasehati Gita.
" Hai boy, hai girl." Dimas menggendong kedua ponakan nya.
" Hai Uncle, aku ingin meminta adik bayi pada Uncle," kata keponakan laki-laki nya.
Semua tampak tertawa mendengar celotehan kedua anak kecil itu.
" Kenapa kalian tidak meminta pada Momy kalian saja?" kata Gita mengambil keponakan perempuan Dimas lalu menggendongnya.
" Momy bilang, Kita akan cepat mendapatkan adik bayi, jika memintanya dari Uncle Dokter," sahut Anak perempuan Sia.
Semua tertawa mendengar nya.
.
.
Di Altar yang lain, Dev dan Zea berdiri sambil menyalami para tamu yang mengucapkan selamat atas pernikahan mereka.
" Kapan acara ini akan berakhir?" tanya Dev berbisik pada Zea.
" Ada apa, Beby? Apa kau kebelet?" tanya Zea sambil menyalami para tamu.
" Ya, junior ku kebelet ingin memasuki mu." Zea langsung menginjak kaki Dev dengan keras.
" Aaww ... Beby, Itu sakit!!" pekik Dev.
" Rasakan itu," sahut Zea meninggalkan Dev yang sedang kesakitan di atas altar.
" Sayang, apa yang kau lakukan pada suami mu?" tanya Lisa.
Lisa mengelus kepala Zea, wanita paruh baya itu memandangi Gita yang terlihat sendu.
" Mom, Aku merasa aneh pada sikap Gita," kata Zea memandang ekspresi Gita yang terlihat sedang tidak baik-baik saja.
" Ya, ada satu hal yang sedang dia pikirkan, sayang."
" Apa Momy tahu? apa yang mengganggu pikiran Gita di hari bahagia nya ini?" tanya Zea menegakkan posisi duduknya.
Lisa tak menjawab, dia hanya tersenyum lalu meninggalkan Zea.
Lalu ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
" Aku tahu itu kau, Dev," kata Zea tanpa menoleh kearah suaminya.
" I love you, Maukah kau berdansa denganku, Beby?" tanya Dev sambil mengulurkan tangannya.
" Boleh juga," sahut Zea menyambut uluran tangan dari Dev.
Lalu mereka berdansa dengan alunan musik yang melow di lantai dansa.
Semua orang tampak bersorak pada pasangan pengantin yang terlihat sangat mesra di lantai dansa.
Disusul oleh Kakek Zea yang menarik Nenek Rose untuk berdansa.
" Aku masih sangat kuat berdansa dengan mu, Rose," kata Dipta di tengah gerakan dansanya.
" Hmmm, Aku tahu Pak tua."
Lalu Adi menarik tangan Lisa agar berdansa dengan nya.
" Aku tidak mau kalah dengan pasangan pengantin baru kita, Honey," kata Adi sambil berdansa.
Lisa hanya tersenyum dan mengikuti langkah Adi.
" Kau ingin berdansa, Tuan putri?" kata Dimas menggandeng tangan Gita.
"Tidak, aku lebih suka melihat mereka berdansa," sahut Gita.
" Tapi aku tidak menerima penolakan." Dimas langsung menggendong Gita ke lantai dansa.
Lalu bergabung dengan yang lain. Mereka semua berdansa di tengah kebahagiaan ini.
.
.
" Jadi mereka sudah menikah?" kata Yosi mendengar kabar pernikahan Dimas dan Anggita.
" Ya, Tuan. Dan Nona Sia juga hadir disana," kata asisten nya.
" Hmmm, Jadi Dimas benar-benar menentang ku demi wanita itu."
Yosi mengepalkan tangannya sambil menatap keluar jendela besar di ruangan nya itu.
" Laksanakan rencana kita!!" tegas Yosi.