
"Sekarang aku mengerti apa maksud mu menyuruhku untuk secepatnya menikahi zea," kata Dev menganggukkan kepalanya.
"Oh ... come on Dev. Kenapa kau jadi lemot begini?? Ck ck ck cinta ternyata membuat mu bodoh," kata Dimas dengan suara yang mengejek.
"Ck, kau hanya belum pernah merasakannya," sahut Dev.
"Wait ... aku akan segera merasakannya dan aku harap aku tak sebodoh dirimu," jawab Dimas.
Dev hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan dari Dimas.
"Ada satu pertanyaan yang ingin ku tanyakan pada mu, Dev."
"Hmmm cepat katakan," sahutnya sambil melihat kearah jam tangannya.
"Eemm ... ini tentang wanita yang tadi," kata Dimas ragu.
"Wanita yang mana?" tanya Dev menaikkan salah satu alisnya.
"Wanita yang tadi mengacungkan jari tengahnya padamu," jawab Dimas datar.
"Maksud mu Anggita?" kata Dev mengerutkan keningnya sambil melihat pada Dimas .
"Jadi namanya Anggita?" sahut Dimas sambil mengingat wajah wanita cantik yang tadi di temuinya.
Dev hanya melihat heran pada Dimas yang terkenal suka di kejar-kejar wanita sekarang ingin mengejar wanita.
"Hmm ... namanya Anggita Pradipta. Saudara tiri dari Azelia Pradipta Dinata, calon istri ku," kata Dev menekan kata calon istri.
"Ck, tidak usah memperjelasnya, Dev. Aku tidak tertarik pada wanita mu," sahut Dimas.
"Good ... jadi kau tertarik pada Anggita?" tanya Dev heran.
"Bukan tertarik, hanya saja aku penasaran pada sosok wanita itu, tadi dia juga mengacungkan jari tengahnya pada ku," kata Dimas sambil membuka berkas yang ada di mejanya.
Dan sontak membuat Dev menertawainya.
"Wahahaha ... belum apa-apa dia sudah mengacungkan jari tengahnya padamu?? Hahaha ... itu artinya dia tak tertarik pada mu, Dimas," ejek Dev pada rivalnya sambil tertawa.
"Kita buat kesepakatan," kata Dimas tiba-tiba, membuat Dev menghentikan tawanya.
"WHAT?? kesepakatan untuk apa?" kata Dev mengerutkan keningnya.
"Aku akan membantumu untuk mengatakan keadaan zea pada tuan Adi, agar kau bisa menikahinya tanpa curiga tentang tujuanmu sebenarnya," kata Dimas serius.
"Dan kau harus membantu ku untuk bisa menarik perhatian Anggita," kata Dimas lagi sambil menatap manik mata Dev dengan tajam.
"Hmmm ... Not bad," jawab Dev dengan menganggukkan kepalanya.
"Deal??" Kata Dimas mengulurkan tangannya.
"Deal," sahut Dev membalas jabatan tangan Dimas.
.
.
Didalam kamar perawatan zea. Adi serta Abel menanti kedatangan Dev dengan gelisah, karena mereka pikir pasti ada masalah serius tentang keadaan zea.
"Kenapa Dev lama sekali?? Apa ada sesuatu yang serius dengan keadaan zea??" kata Abel sambil melihat kearah pintu.
"Kita tunggu saja dulu," jawab Adi.
"Mas, apa Daniel belum mengabarimu?" tanya Lisa mengalihkan pembicaraan agar mereka tidak gelisah.
"Belum, mungkin dia sedang sibuk dengan study nya," sahut Dimas sambil memeriksa ponselnya.
"Tapi kenapa perasaan ku tidak enak," kata Lisa memegangi dadanya.
.
.
Seorang pemuda sedang menjalani hukumannya yang diberikan oleh sang nenek karena sudah berani melanggar kesepakatan yang telah dibuat, sebelum pemuda itu pulang dengan alasan ingin menemui sang kakak untuk mengucapkan selamat.
Neneknya sudah memberi izin untuk pulang hanya 1 hari tapi malah membengkak jadi 3 hari.
"Ayo cepat Daniel, kau harus mengisi bak kamar mandi sampai penuh," kata seorang nenek yang tak lain adalah ibu kandung dari Adicipta.
"Ayolah nek, apa nenek tidak kasian pada cucumu yang tampan ini?" kata Daniel mengeluh.
Ya, sejak kembalinya Daniel ke rumah sang nenek, dia langsung di sambut oleh sejumlah hukuman yang sudah di tetapkan oleh sang empunya rumah karena sudah mengingkari kesepakatannya.
Daniel, dihukum untuk mengisi bak kamar mandi yang besar bahkan bisa di samakan dengan kolam saking besarnya.
Dan pemuda itu mengisi air dengan cara mengambil air dari sumur yang berada di dekat kebun, dengan menggunakan drum yang di angkat langsung dengan kedua tangannya bahkan sesekali dia angkat drum itu ke bahunya.
Maka jangan heran di usianya yang masih remaja dan masih duduk di bangku SMA, Daniel memiliki tubuh yang atletis dan kekar dengan otot lengannya besar.
Akibat dari setiap hukuman berat yang diterima nya dari sang nenek.
Akan tetapi, Daniel tak pernah menolaknya, karena dia tahu bahwa itu termasuk didikan dari sang nenek agar Daniel menjadi pria yang tangguh dan kuat.
"Ayo ... cepat Daniel!! kau harus menjadi pria yang bertanggung jawab karena kelak kau akan memiliki tanggung jawab yang besar di keluarga ini ..." teriak neneknya yang semakin membuat Daniel bersemangat.
Rose mendidik cucunya itu dengan sangat keras, karena dia adalah satu-satunya cucu laki-laki di keluarga Pradipta dan dia yang akan mewarisi semua usaha dikeluaga itu.
"Nenek, ini ada telepon dari tuan Adi," kata seorang pelayan dan memberikan telepon itu pada rose.
"Ada apa Adi?" kata rose dengan lantang.
" Dimana Daniel ibu? Sejak kepulangan nya kerumah ibu, dia sama sekali tidak menghubungi ku," tanya Adi.
"Jangan terlalu memanjakan nya Adi, dia sedang aku hukum," jawab rose yang masih mengawasi Daniel.
"Ibu ... jangan terlalu keras padanya," sahut adi.
" Tidak bisa Adi. dia adalah pewaris tunggal keluarga Pradipta dan dia harus memiliki fisik yang kuat serta otak yang cerdas. Kau urus saja keluarga mu disana, biar Daniel aku yang urus dan sampaikan salam ku pada cucu cantik ku," kata Rose lalu mematikan panggilan teleponnya.
Adi tersenyum getir ketika panggilan nya sudah dimatikan oleh sang ibu, karena ibunya sama sekali tidak curiga dengan apa yang sebenarnya menimpa cucu cantiknya.
Dan untung saja Daniel sangat sibuk disana jadi tidak sempat menghubungi nya maupun zea yang sedang terbaring koma.
"Bagaimana keadaan Daniel, Mas?" tanya Lisa.
"Jangan khawatir, dia baik-baik saja," jawab Adi melihat kearah Zea yang belum sadarkan diri.
"Ohh ... syukurlah," sahut Lisa.
"Hubungi Gita, tanyakan apa dia masih ada disini," kata Adi memerintah pada Lisa.
Lalu Lisa mengambil ponselnya yang berada di dalam tas dan langsung menghubungi putrinya.
"Hallo Mom." Sapa Gita menjawab telepon dari sang Momy.
"Sayang, kau dimana? Apa kau masih di rumah sakit?" tanya Lisa.
"Aku di kantin rumah sakit Mom, ada apa?" Jawab Gita sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Kemarilah, papah mencari mu," ucap Lisa melihat kearah Adi.
"Benarkah, Papah mencari ku Mom?" tanya Gita semangat.
" Ya, cepatlah kemari atau papah akan menyeret mu dari tempat mu berada!" bukan Lisa yang menjawab melainkan Adi dengan suara beratnya yang terdengar dingin yang membuat Gita tak bisa membantah nya.
"B-baik pah," jawab Gita gugup dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Mampus kau gita," gumamnya sambil menepuk jidatnya. Lalu beranjak dari kursi kantin dan berjalan meninggalkan tempat itu.