
Dimas terpaku mendengar kan ancaman dari sang Daddy. Dan tanpa berpikir panjang Dimas langsung menjawab ancaman dari Yosi tak kalah telak.
" Ambil semua fasilitas yang kau berikan padaku, karena aku memang tak pernah meminta nya dari mu!!"
Yosi menghentikan langkahnya ketika mendengar ucapan dari Dimas.
Pria itu menoleh dan berkata.
" Baiklah, ternyata kau lebih memilih bersama anak wanita murahan itu dari pada Daddy mu sendiri." Yosi langsung meninggalkan mansion itu dengan segala kesalahannya, serta kekecewaan nya pada sang putra yang lebih memilih wanita itu di banding dirinya.
Dimas menghampiri Lisa dan Gita yang sedang menangis.
Pria itu berlutut di hadapan dua wanita yang terlihat sangat terluka dengan hinaan dari Daddy nya.
" Maaf, maaf jika Aunty begitu sakit hati atas perkataan Daddy. Aku mohon maaf atas nama Daddy," kata Dimas menundukkan kepalanya sambil berlutut di hadapan Lisa dan Gita.
" Tidak, Dimas. Kau jangan meminta maaf pada ku, aku memang pantas menerima hinaan dari Yosi." ucap Lisa sambil terisak.
" Sebenarnya ada masalah apa Momy dengan uncle Yosi?" tanya Gita memberanikan diri.
Dimas menggenggam tangan Gita, dan menggelengkan kepalanya saat Gita melihat kearah nya.
" Gita, antar kan Momy mu ke kamar," kata Adi.
Lalu Gita membawa Momynya masuk dan beristirahat di kamar.
" Duduklah, Dimas." Adi menyuruh Dimas untuk duduk di sofa untuk mengajaknya bicara.
ll
" Yang aku dengar dari perdebatan mereka tadi, dulu tuan Yosi memiliki hubungan dengan Lisa dan bahkan hampir menikah. Tapi disaat hari pernikahan nya. Lisa tak hadir melainkan dibawa oleh seorang pria yang ternyata teman dari Yosi. Dan saat itu Lisa dalam keadaan hamil." Adi menjelang pada Dimas apa yang dia dengar.
" Ya, aku ingat. Saat itu daddy sangat terpuruk, hingga dia pergi meninggalkan aku dan kakak ku keluar negeri." sahut Dimas mengingat masa kecilnya yang ter abaikan oleh Yosi gara-gara masalah itu.
" Lalu apa kau yakin dengan perkataan mu tadi, Dimas?" tanya Adi.
" Ya, Uncle. Aku serius, aku sangat mencintai Anggita, Uncle. Aku rela kehilangan segalanya asal kan aku bisa bersamanya," sahut Dimas begitu yakin atas keputusan nya.
" Aku sudah mengerti akar dari masalah ini, Dimas. Ini hanya salah paham, Momy di jebak hingga akhirnya dia hamil ... Aku," kata Gita sendu.
Lalu terduduk di lantai sambil terisak.
Wanita itu tak kuasa menahan air matanya saat mengingat jati dirinya yang sangat tidak di inginkan kehadiran nya.
" Honey ...." Dimas langsung menghampiri Gita, Lalu memeluknya dengan erat.
Gita semakin terisak di dalam pelukan Dimas.
" Aku tak pantas untukmu, Dimas. Dan uncle Yosi benar. Aku hanya anak haram yang bahkan ayah ku sendiri tidak menginginkan kehadiran ku," kata Gita begitu sakit akan kenyataan ini.
" Aku tidak ingin kalian terpisah gara-gara masa lalu ini. Jadi kalian akan langsung menikah nanti di pesta pertunangan itu," sahut Adi memutuskan.
.
Sementara di tempat lain, tepatnya di resort milik Devandra.
Zea, disibukkan dengan kedatangan adik iparnya yang super cerewet dan manja.
Alina, selalu menempel pada Zea dan itu membuat Dev sangat kesal dengan tingkah sang adik yang tak memberinya kesempatan untuk berdua dengan sang istri.
" Mom ... bisakah Momy memanggil Al, agar tak menempel terus pada istri ku, Mom." Dev meminta bantuan Abel agar bisa memisahkan al dengan Zea.
" Kau tahu sendiri adik mu, kan Dev." sahut Abel menahan tawanya.
" Come on, Mom. Kalau begini aku tak bisa memproduksi cucu untuk Momy," bujuk Dev.
Abel tertawa mendengar perkataan dari putra nya itu sambil menghendikkan bahunya.
.
.
Di kediaman mansion Ganendra. Yosi masuk ke dalam mansion dan langsung memerintahkan pada seluruh pelayan agar tak membolehkan Dimas masuk kedalam mansion.
Yosi juga memerintahkan pada asistennya untuk mencabut seluruh fasilitas nya untuk Dimas.
" Cepat, siapkan pesawat pribadi. Aku akan kembali hari ini," kata Yosi pada asistennya.
" Baik, Tuan." sahutnya.
" Kau sudah mencabut semua fasilitas Dimas?" tanya Yosi.
" Akan saya urus secepatnya, Tuan."
Yosi langsung masuk kedalam kamarnya.
Pria paruh baya itu sedang menatap langit di balik jendela balkon kamar nya.
" Sorry, Dimas. Aku tak bisa menerima perempuan itu. Kalau saja dia bukan putri dari Lisa, mungkin aku akan langsung menerimanya di keluarga kita," Gumamnya sambil menerawang jauh ingatan tentang Lisa yang sangat mengecewakan nya.
" Lisa, sampai sekarang aku masih tak percaya kau telah menghianati ku."