
Kini keluarga besar Pradipta pulang dengan perasaan yang tenang, setelah melihat kondisi Zea yang baik-baik saja, setelah tersadar dari komanya.
Meskipun dia masih tak mengingat orang-orang terdekatnya, tapi dengan Zea menderita amnesia membuat hubungan keluarga itu harmonis.
Zea yang dulu sangat berbeda dengan yang sekarang.
Bahkan Zea melupakan rasa bencinya pada Gita dan Lisa.
"Ku harap Zea tak kembali menjadi Zea yang dulu lagi," kata Lisa yang berada di dalam mobil bersama kedua orang tuanya.
"Ada apa, sayang?" tanya Lisa menoleh pada Gita yang duduk di bangku penumpang.
" Aku takut jika ingatannya nanti kembali, dia akan kembali membenci ku dan Momy," sahut Gita melihat ke luar jendela.
"Doakan saja yang terbaik untuk Zea, Honey," jawab Adi yang sedang fokus menyetir.
"Pah, kita tak kembali kerumah kan? aku harus secepatnya mengurus kuliah ku agar aku bisa secepatnya kembali kemari," sahut Gita yang sadar mobil ini menuju arah mansionya.
"Kau akan berangkat besok, sayang. Dan Dimas akan mengantar mu," kata Adi.
"WHATT ... Pah aku bisa pergi sendiri," sahut Gita tak terima.
"NO Honey, aku tidak akan membiarkan putri-putri Papah pergi sendirian setelah apa yang terjadi pada Zea!" sahut Adi tegas.
"Tapi Pah, itu terlalu berlebihan," jawab Gita kekeh.
"NO, JANGAN MEMBANTAH," jawab Adi dengan nada yang dingin dan penuh penekanan.
"Ikuti apa keputusan dari Papah, sayang. Itu demi kebaikanmu," sahut Lisa dengan suara lembutnya.
"BUT MOM __"
"STOP!!" kata Lisa memotong perkataan Gita yang akan mengeluh seperti biasanya sambil mengangkat satu tangannya tanda bahwa dia tak boleh membantah.
"Huuffft." Gita menghembuskan nafasnya dengan kasar sembari melihat keluar jendela mobil.
'Dokter gadungan, akan ku buat kau ilfil berada di dekat ku,' batin Gita.
.
.
.
Dev masuk kedalam kamarnya dan melihat Zea sudah tertidur pulas diatas ranjang.
Pria itu menghampiri ranjang itu dan membenarkan selimutnya.
"Aku senang kau sudah sadar meskipun kau tak mengingat ku," kata Dev pelan dan mencium kening sang istri yang sedang terlelap itu.
Lalu Dev kembali ke meja kerjanya yang menghadap ke ranjang.
"Huuffft ... sampai kapan pekerjaan ini akan menumpuk," gumamnya melihat banyak berkas yang harus dia selesaikan.
Sore menjelang, Dev masih sibuk dengan laptopnya sehingga dia tak sadar ada sepasang mata yang memandangnya dengan intens.
'Benarkah dia suamiku?' batin Zea melihat wajah Dev yang begitu tampan ketika sedang serius.
zea mengetahui Dev adalah suaminya itu dari Gita.
"Kapan kita menikah?" tanya Zea memberanikan diri.
Dev menghentikan kegiatannya ketika mendengar suara seseorang yang sedang berbicara padanya. Dan langsung melihat kearah sumber suara.
"Beby, kau sudah bangun?" tanya Dev tersenyum.
"Itu tidak menjawab pertanyaan ku," sahut Zea ketus.
'Oh my, kenapa dia masih ketus padaku, sedangkan dia sangat menempel pada Gita yang dulu selalu bertengkar dengan nya,' batin Dev.
Lalu pria itu berjalan menghampiri Zea.
"STOP, TETAP DI SITU," ucap Zea sambil mengangkat satu tangan nya pada Dev agar tak melanjutkan langkahnya.
"Heii, aku tidak akan menyakiti mu, Beby," sahut Dev yang masih melangkahkan kakinya.
"Jawab saja pertanyaan ku," sahut Zea.
"Kita menikah saat dirimu masih keadaan koma di rumah sakit," jawab Dev lalu duduk di tepi ranjang.
"WHAT ... KAU LANCANG SEKALI, TUAN!" kata Zea setengah berteriak.
"Tidak, aku sudah meminta izin pada Papah Adi dan dia merestuiku," jawab Dev.
"Tapi kau tetap lancang karena kau tak menungguku sadar terlebih dahulu dan tak menunggu jawaban ku," sahut Zea tak terima.
"Ku rasa itu tak perlu karena kita sudah bertunangan dan bahkan akan menikah, jadi aku hanya mempercepatnya," kata Dev menaikkan bahunya.
"Tapi aku tak merasa bahwa aku mencintaimu," jawab Zea ketus.
"Ya, itu benar. Dan aku tahu bahwa kau belum mencintai ku," jawab Dev.
"Tapi kenapa kau malah menikahi ku sebelum aku mencintaimu," sahut Zea.
"WHY?" tanya Zea melihat punggung kokoh suaminya.
"CUKUP AKU YANG MENCINTAIMU DAN KAU PASTI AKAN MENCINTAIKU," Jawab Dev lalu melanjutkan pekerjaannya.
Zea tak menjawab dan masih terpaku mendengar jawaban dari sang suami sambil menatap tajam kearah Dev.
"Jangan menatapku seperti itu, Beb. Kau akan terpesona pada suami tampan mu ini," kata Dev yang sadar sedang di tatap oleh sang istri.
"iiishhh ... menyebalkan," jawab Zea ketus dan memalingkan pandangannya.
"Tolong panggilkan perawat, aku ingin berendam di bathtub," kata Zea setelah lama terdiam.
Lalu Dev memencet tombol di bawah mejanya dan suster pun datang.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" kata seorang perawat yang masuk kedalam kamar.
"Aku ingin berendam di bathtub, tolong bantu aku," ucap Zea ramah.
"Baik Nona." Lalu perawat itu mengambil kan kursi roda untuk membawa Zea kedalam kamar mandi.
Ketika melewati meja kerja Dev, Zea menatap tajam pada Dev dan Dev juga menatapnya.
"JANGAN MENGINTIP," kata Zea ketus sambil membulatkan matanya dan Dev hanya tersenyum mendengar peringatan dari sang istri.
Zea pun berendam di bathtub dengan air hangat dan busa sabun yang melimpah, wanita itu menyenderkan kepalanya ke pinggiran bak itu sambil memejamkan matanya.
"Hmmm, nikmatnya," gumamnya.
"Tetaplah di kamar ku, Suster. Aku ingin berendam sebentar, nanti aku akan memanggil mu dan tolong siapkan baju gantiku," kata Zea yang asik merendam tubuhnya.
"Baik Nona," jawab suster itu.
"Ah ya, siapa mamamu?" tanya Zea menoleh.
"Nama saya Mirna, Nona," jawabnya.
"Oke. terimakasih Suster Mirna," ucap Zea.
"Sama-sama, Nona." Lalu suster pun keluar dari kamar mandi.
.
.
Sekitar 15 menit kemudian, Zea memanggil susternya tapi perawat itu tak kunjung menghampiri nya.
"Suster Mirna!!" Panggil Zea yang kesekian kalinya.
"Kemana dia," gumamnya.
Lalu ada seseorang yang masuk kedalam kamar mandi dan Zea menyadarinya.
"Kenapa lama sekali, Suster?" tanya Zea tanpa menoleh ke belakang.
"Suster Mirna pulang, karena dia menerima telpon bahwa anaknya sakit dan harus dibawa kerumah sakit," jawab seseorang yang berdiri di belakang Zea.
"Dev?" ucap Zea langsung menyilangkan tangannya untuk menutupi area dadanya yang terbuka.
"Tidak usah menutupi nya karena aku sudah melihatnya," kata Dev berbohong.
Dev menghirup nafas panjang dan langsung menghembuskannya agar dia bisa berkonsentrasi dan tak tergoda oleh tubuh mulus Zea yang kini terpampang nyata di depan matanya.
Lalu Dev mengangkat tubuh Zea dari bak bathtub dan menurunkannya di bawah shower.
Zea masih terpaku sambil menyilangkan tangannya di dadanya.
"Berbalik dan jangan mengintip," ucap Zea ketus.
Dev tersenyum lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Zea. dengan cepat Zea menyalakan air shower dan membersihkan sisa busa sabun yang menempel.
Setelah selesai Zea langsung memakai bath rop nya.
"Sudah, mana kursi rodanya," ucap Zea di belakang Dev.
Dev langsung berbalik dan langsung menggendong tubuh Zea keluar dari kamar mandi menuju walkin closed.
"Dev, apa yang kau lakukan," kata Zea.
"Aku ingin membantu mu, Beby. Dan aku tidak membutuhkan kursi roda untuk membawamu keluar dari kamar mandi," sahut Dev tersenyum smirk.
Lalu Dev mendudukkan Zea di meja marmer yang ada di tengah walkin closed, dimana suster Mirna sudah menyiapkan pakaian Zea dengan lengkap disana.
"Thanks," ucap Zea menundukkan kepalanya.
"Tak usah berterima kasih padaku karena aku suami mu, dan aku sangat siap direpotkan oleh mu," sahut Dev mencium kening Zea dan keluar dari ruangan itu.
"Panggil aku jika kau sudah selesai dan kalau kau mau, aku bisa membantumu memakai kan pakaian mu," ucap Dev menoleh pada Zea.
"Iiishh ... aku bisa memakainya sendiri," sahut Zea ketus.