
Yosi tersenyum miring sambil menatap tajam kearah Dimas yang sedang menatapnya.
" Terimakasih atas ajakan mu, Dev." Pria paruh baya itu menoleh pada Dev.
"Aku sangat tersanjung, karena putra ku sendiri tak mengundang ku," kata Yosi menatap sinis pada Dimas.
' Sepertinya aku punya rencana lain,' batin Yosi.
' Sepertinya benar dugaan ku, mereka sedang ada masalah,' batin Dev melihat ketegangan antara ayah dan anak itu.
" Ayolah, Uncle. Momy pasti sangat senang jika bertemu dengan mu," bujuk Dev.
Yosi tampak diam dan berpikir sejenak.
" Baiklah, aku juga lama tak bertemu dengan Abel," jawab Yosi mengiyakan ajakan dari Dev.
Dia berjalan menuju pintu masuk pesta dan melewati Dimas yang berdiri tepat di jalan menuju pintu gerbang.
Lalu Dev berjalan di belakang Yosi dan berhenti di samping Dimas.
" Kau berhutang penjelasan padaku," kata Dev lalu melangkahkan kakinya lagi mengikuti Yosi.
Dimas menoleh pada Dev dan Yosi yang kini mulai memasuki pintu gerbang pesta.
" Aku tahu, Dad. Kau pasti punya rencana lain di balik ini semua."
.
Yosi memasuki area pesta yang berada di tepi pantai. Pria paruh baya itu mengedarkan pandangannya seakan sedang mencari seseorang.
" Yosi ... kau kah itu?" Panggil seseorang dari samping nya.
Yosi menoleh kearah seseorang yang memanggilnya dan tersenyum setelah melihat orang tersebut.
" Oh god, ini benar kau?" kata Abel menghampiri Yosi.
Yosi merentangkan tangannya saat Abel berjalan menghampiri nya.
Mereka pun berpelukan, melepas kerinduan karena memang cukup lama mereka tak bertemu.
Yosi adalah salah satu sahabat dari Gustave Bramasta, dan dia juga cukup dekat dengan Abel sebagai seorang teman.
" Maaf, karena aku tidak hadir saat Gustave meninggal. Aku turut berduka, Abel."
Meskipun kini sudah satu tahun Gustave meninggal, Yosi tetap mengucapkan bela sungkawa pada abel. Lalu melepas pelukannya.
" Tidak masalah, Yosi. Aku mengerti," jawab Abel.
" Uncle, aku tinggal keatas sebentar," pamit Dev.
Yosi hanya menganggukkan kepalanya.
" Duduklah disini, Yos." Abel menggandeng tangan Yosi dan mendudukkan nya di kursi.
Bagaimana kabar mu? Kenapa kau baru kemari? ini kan pernikahan putra mu juga," kata Abel.
" Kabar ku baik, Aku kemari hanya untuk memenuhi undangan dari Dev," jawab Yosi dengan suara beratnya.
Dimas memasuki area pesta dan berhenti tepat di belakang Yosi dan Abel yang sedang berbincang.
" Apa maksud mu, Yos? apa Dimas sengaja tidak mengundang mu?" tanya Abel penasaran.
" Ya ... mungkin karena aku menentang hubungan mereka," jawab Yosi sambil menyesap wine yang di hidangkan oleh pelayan.
" Why ... Anggita gadis yang cantik, dia baik dan sangat pintar. Jadi apa alasan mu tidak merestui hubungan mereka?" tanya Abel.
Yosi tersenyum miring mendengar perkataan dari Abel, lalu meletakkan gelas yang sudah kosong itu di meja.
PRANK ...
Terdengar suara nampan dan gelas kaca yang terjatuh, Abel dan Yosi pun melihat ke asal suara.
Lisa terkejut melihat Yosi berada di dalam pesta itu, dia berjalan mundur dan menabrak seorang pelayan yang sedang membawa beberapa gelas kosong dengan nampannya.
Lalu semua gelas dan nampan yang berbahan stainless itu terjatuh ke lantai dan menimbulkan suara yang begitu keras hingga semua orang menatap pada mereka.
" Lisa ...," kata Yosi melihat Lisa yang masih terpaku di tempatnya.
Abel mendengar Yosi menyebut nama Lisa dan bertanya.
" Kau mengenalnya?"
Yosi menganggukkan kepalanya dan melihat kearah Abel.
" Dia adalah alasan ku kenapa aku menentang hubungan Dimas dan Anggita."
Abel tampak terdiam mendengar perkataan Yosi sambil mengerutkan keningnya.
" Apa dia adalah Lisa yang sama dengan seseorang yang dulu menghianati mu?" tanya Abel mengingat nama seseorang yang dulu hampir menikah dengan Yosi.
" Oh my God, kenapa jadi serumit ini." Abel memegang kepala nya yang tak sakit.
.
Sementara Lisa masih tampak shock dengan apa yang dia lihat. Lalu Adi menghampiri nya.
" Lisa, are you ok?" kata Adi mengusap lengan sang istri dan merangkulnya.
Lisa menatap pada suaminya dan berkata.
" Dia datang."
Adi mengerutkan keningnya mendengar ucapan Lisa.
Lalu Lisa menunjuk kearah Yosi dan Abel yang tampak sedang berbincang.
" Yosi ...," kata Adi melihat kearah tangan Lisa menunjuk.
" Aku takut, Mas. Dia pasti akan menghancurkan kebahagiaan putri ku," kata Lisa dengan nada yang bergetar.
" Putri kita, Kau lupa bahwa ada namaku di belakang nama gita, sayang?" jawab Adi mengusap lembut puncak kepala Lisa dan menyandarkan kepalanya di dada bidang nya.
Lisa tampak terisak di dalam dekapan Adi, dan Yosi melihat hal itu.
' Keluarga yang bahagia,' batin Yosi.
.
.
Dimas kini berada di dalam lift, dia berniat akan menyusul Gita dan akan turun lagi ke acara pesta bersama sang istri.
Ting ...
Pintu lift terbuka, Dimas langsung keluar dari lift dan berjalan menuju kamar nya.
Ketika ingin membuka pintu kamarnya, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangannya.
" Dev ...," kata Dimas menoleh.
" Aku menagih penjelasan mu," kata Dev.
" Baiklah," sahut Dimas dan berjalan menuju beranda depan resort yang bisa melihat ke lokasi pesta berlangsung.
" Sorry, aku tak mengatakan hal ini pada mu," kata Dimas melihat kearah pesta.
" Aku tidak butuh permintaan maaf mu," sahut Dev menatap tajam pada Dimas.
" Daddy menentang hubungan ku dengan Anggita karena Anggita adalah putri dari seseorang yang dulu menghianati Daddy, yaitu Mom Lisa," kata Dimas menjelaskan.
" What ...," Dev terkejut mendengar nya.
Dia merasa tidak punya wewenang untuk ikut campur dengan masalah ini. Karena dia juga tahu bagaimana hancurnya Yosi dulu hingga tega meninggalkan Dimas dan Sia.
Mereka terdiam lama, karena mereka bingung harus berbuat apa.
" Sayang, aku sudah siap," kata Gita yang tiba-tiba muncul di belakang Dev dan Dimas.
Dev dan Dimas menoleh secara bersamaan dan melihat penampilan Gita.
Wanita itu terlihat begitu cantik dengan gaun berwarna cream yang sangat kontras dengan warna kulit nya.
Dimas tersenyum dan menghampiri Gita.
" You look so beautiful," kata Dimas lalu mencium kening Gita.
" Dev ...," panggil Zea yang kini sudah siap untuk bertarung dengan sang suami.
Dev tampak terkejut melihat penampilan Zea yang hanya mengenakan kaos singlet ketat dan hanya menutupi area dadanya yang bulat.
Serta memperlihatkan perut rata yang terdapat tindik di pusarnya, lalu mengenakan celana legging hitam yang panjangnya hanya selutut dan itu membungkus indah bokong sintal nya.
Gita dan Dimas tertawa melihat penampilan Zea yang seperti ingin melakukan olahraga itu.
" Ze, kau mau kemana dengan pakaian itu?" kata Gita sambil tertawa.
" Mungkin dia ingin joging sebentar di tepi pantai, sayang. Sebelum Dev menghajar nya habis - habisan di ranjang," kata Dimas sambil tersenyum.
" Ya ... itu bisa jadi, Honey," sahut Gita.
Dev menghampiri Zea dan berdiri dihadapan sang istri dengan tubuh kekarnya, dan menutupi tubuh Zea yang terlihat sangat seksi dari Dimas.
" Come on, Dev. Aku sudah memiliki wanita terseksi di hadapan ku," kata Dimas merengkuh pinggang ramping Gita.
Lalu mereka berciuman tanpa menghiraukan keberadaan Dev dan Zea.