My Lovely Girl

My Lovely Girl
Bab 11



"Shiittz" umpat Dev sambil melihat kearah mobil yang melaju kencang itu.


Dev membantu Zea untuk bangun dan melihat kearah tangan Zea yang tergores karena jatuh di atas trotoar dengan lumayan keras.


"Tangan mu terluka, Beby" ucap Dev memegang tangan Zea.


"Ini hanya luka kecil, tidak masalah," sahut Zea melihat wajah Dev yang khawatir.


"Siapa orang tadi yang ingin menabrak ku. Apa kau melihatnya??" tanya Dev sambil merangkul bahu Zea kembali ke perusahaan.


"Aku lihat yang mengendarai mobil itu seorang wanita," jawab Zea fokus pada jalanan.


"Shiiittt, sepertinya aku tahu siapa yang ada di dalam mobil itu," ucap Dev.


Zea tidak membicarakan tentang insiden ini lagi sampai mereka tiba di perusahaan.


Dev mengantarkan Zea sampai ke ruangannya dan meminta asisten Zea untuk mengantarkan kotak P3K keruangan Zea.


"Biarkan aku mengobatinya sendiri, Dev," ucap Zea yang melihat Dev membuka kotak P3K itu.


"Tidak, aku yang akan mengobatinya!" sahut Dev tegas seakan tidak ingin di bantah.


Lalu Dev mengobati luka di lengan Zea dengan perlahan.


"Aauuuww." Pekik Zea.


"Apa sakit?" tanya Dev melihat wajah Zea.


"Tidak, rasanya nikmat sekali," sahut Zea ketus.


Dev tertawa pelan mendengar jawaban dari Zea.


"Lebih nikmat jika kita bercinta," ucap Dev random.


Pria itu sangat suka menggoda Zea karena itu bisa membuat moodnya langsung membaik.


"Akan ku sumpal mulut messum mu itu jika terus bicara tentang hal menjijikkan itu," jawab Zea kesal.


Dev tertawa melihat ekspresi wajah Zea yang menurutnya sangat menggemaskan itu.


"Itu bukan hal menjijikkan Beby, itu hal yang sangat menyenangkan," goda Dev lagi.


"Hentikan ucapan mesum mu itu, Tuan. Atau ku patahkan leher mu itu," sahut Zea sambil mencebik.


Dev hanya menggelengkan kepalanya mendengar perkataan brutal dari wanita itu.


Zea memandang wajah Dev yang fokus mengobati lukanya.


'pria ini tampan, sangat tampan tapi juga sangat menyebalkan,' batin Zea.


"Ada apa Beby ... kau terpesona dengan ketampananku??" kata Dev sadar jika sedang diperhatikan oleh Zea.


"Iiishhh, benar-benar menyebalkan," ucap Zea memutar bola matanya.


"Done." Dev meletakkan kotak P3K di meja.


"Thank you," kata Zea melihat lukanya yang sudah di obati.


"Hanya itu??" jawab Dev memandang wajah Zea.


"Lalu?? Kau ingin aku bercinta denganmu karena kau sudah mengobati ku??" Sahut Zea ketus.


Dev tertawa pelan mendengar Jawaban dari Zea.


"Boleh juga ..." kata Dev dengan wajah yang menggoda.


Lalu Zea meninju keras lengan Dev.


"Aaaw, itu sakit Beby ..." kata Dev memegang lengannya.


"Itu sedikit pelajaran untuk pria messum seperti mu," ucap Zea ketus lalu beranjak dari sofa itu.


Tapi Dev menahan tangannya.


"Aku sangat suka bila menggodamu seperti ini," ucap Dev memeluk tubuh Zea dari belakang.


"Karena itu akan membuat mood ku sangat baik." Dia menghirup aroma tubuh Zea dari tengkuk lehernya.


Hal itu membuat tubuh Zea bergidik dan jantungnya berdegup kencang.


'shitt, kenapa jantungku berdebar seperti ini,' batin Dev dan Zea bersamaan.


Mereka menikmati pelukan itu dengan memejamkan matanya hingga tak sadar Zea menyandarkan kepalanya di dada bidang Dev dan memegang tangannya yang melingkar di perutnya.


"Ehhem ... ehhemm, sepertinya papah masuk di waktu yang tidak tepat," kata Adi yang tiba-tiba masuk ke ruangan Zea karena mendengar tangan Zea terluka.


Mereka spontan melepaskan pelukannya dan menoleh kearah papah Zea berada.


"Tidak pah, syukurlah papah datang di waktu yang tepat," ucap Zea menghampiri Adi.


"Beby apa maksud mu??" Kata Dev mengikuti Zea.


"Pergilah Dev, bukankah kau ada pekerjaan di perusahaan mu," kata Zea sambil menarik tangan Adi agar duduk di sofa.


"Kau mengusir ku Beby??" sahut Dev.


"Tidak, bukannya kau memang sedang sibuk di perusahaan mu?" bantah Zea.


'huuufft ... mereka mulai lagi,' batin Adi mendengar pertengkaran kecil dari anak dan calon menantunya.


"Tapi aku masih ingin disini, Beby," jawab Dev kekeh lalu duduk di sofa itu juga.


"Untuk apa? Aku banyak pekerjaan Dev, jangan mengganggu ku," sahut Zea ketus.


"STOP ... biarkan papah yang pergi," kata Adi menengahi, lalu keluar dari ruangan itu.


'Mereka sama-sama keras kepala, bagaimana nanti mereka membina keluarga yang utuh jika terus bertengkar seperti itu,' batin Adi pusing mendengar pertengkaran kecil yang mereka lakukan.


"Semua gara-gara kamu Dev, papah jadi pergi kan" Kata Zea yang akan keluar mengejar papahnya tapi Dev menarik tangannya dan langsung memeluknya dengan erat.


'kenapa aku selalu berdebar saat dia memelukku,' batin Zea terpaku dalam pelukan Dev


"Tunggu sebentar, aku hanya ingin menikmati pelukan ini, aku ingin kau merasakan detak jantungku yang berdegup begitu kencang bila bersama mu," ucap Dev sambil memejamkan matanya.


Lalu Zea menempelkan kupingnya ke dada pria itu dan merasakan detak jantungnya.


'kau juga merasakan hal yang sama dengan ku dev, perasaan apa ini?' batin Zea galau dan membalas pelukan Dev.


"Kau juga merasakannya ..." kata Dev yang juga merasakan detak jantung Zea bahkan tanpa melakukan hal yang sama seperti Zea.


Wanita itu hanya tersenyum dibalik dekapan dada pria tampan itu.


.


.


"Aaaarrgghhhh ... aku gagal mencelakai Dev Karena wanita itu!! Siapa sebenarnya wanita itu!!" teriak Lena kesal dan membanting pintu kamarnya.


"Nic?? Kau mengenal wanita itu??" tanya Lena menoleh kearah nico yang berada di ambang pintu.


"Ya, dia kekasihku yang kini di rebut oleh Dev," jawab Nico lalu masuk ke kamar Lena.


Lena dan Nico adalah saudara sepupu, ibu dan ayah Lena meninggal karena kecelakaan.


Lena yang masih kecil dirawat oleh keluarga Nico yang notabene adalah keluarga satu-satunya yang dimiliki oleh Lena.


Ibu Lena adalah adik kandung dari ayah Nico, maka dari itu Lena tinggal bersama di mansion keluarga Nico.


"Bagaimana mungkin Dev merebut kekasih mu itu, Nic?" tanya Lena frustasi.


"Karena dia menggunakan kekuasaannya untuk mengikat Zea dan menjadi kan Zea calon istrinya," sahut Nico geram dan meremas botol mineral yang di genggam nya.


"WHAATTT ... jadi mereka sudah bertunangan??" tanya Lena kaget mendengar informasi ini


"Ya, Zea tidak bisa menolak karena ini sudah jadi keputusan dari papahnya, tuan Adicipta," jawab Nico frustasi.


"Hah, jadi kau sedang patah hati, Nic." Ejek Lena menghampiri Nico.


"Bagaimana dengan kauz Lena??" Jawab Nico balik bertanya.


Lena tak menjawab pertanyaan Nico, wanita itu hanya melipat tangannya didada sambil membuang nafas kasar.


"Bagaimana kalau kita bekerjasamaz" sahut Lena pada Nico.


"Maksud mu??" tanya Nico sambil menoleh kearah Lena dan mengerutkan keningnya.


"Aku punya rencana yang bagus, Nic," ucap Lena dan membisikkan sesuatu ke telinga Nico.


" Okey, aku akan mengikuti rencana mu," sahut Nico tersenyum miring.


.


.


Malam menjelang, Zea dan Adi bersiap untuk menghadiri pesta kecil yang di adakan di lobi perusahaan.


Pesta itu di adakan dalam rangka bergabungnya Zea di perusahaan Pradipta corp dan menjabat jadi CEO perusahaan raksasa itu.


Zea hanya menggunakan dress pendek yang panjangnya selutut dengan model Sabrina yang berwarna nude dan menggunakan blazer yang senada.


Zea memang tidak suka berpakaian terlalu **** karena tak mau mempertontonkan tubuk sexinya.


Zea mempunyai dada bulat yang cukup besar, membuat dadanya menyembul keluar dan hanya menutupinya dengan rambut yang tergerai.


Wanita itu berpose di depan cermin, di kamar pojok ruangannya itu.


Dia menoleh ketika ada seorang pria yang tiba-tiba masuk keruangan nya.


"Swiiiittt ... swiiiittt," Daniel bersiul melihat sang kakak yang sudah terlihat cantik.


"Iiiissshh, kau mengagetkan ku saja. Ku kira siapa yang datang, ternyata cuma anak tengil yang menyebalkan," jawab Zea sambil merapikan rambutnya kedepan agar menutupi dadanya.


"Kenapa kak?? Kau menunggu seseorang yang datang kemari??" tanya Daniel menghampiri Zea.


"Tidak, aku tidak menunggu siapapun, " sahut Zea lalu mengambil tasnya.


"Aku tahu kakak pasti mengira kak Dev yang datang kemari, iya kaaan ...." Ejek Daniel.


Pipi Zea tiba-tiba memerah mendengar ejekan dari adiknya itu.


"Tidak, untuk apa aku menunggu pria mesum itu," jawab Zea lalu keluar dari ruangan itu.


"Kau sudah siap, sayang?" tanya Adi yang sudah menunggu Zea di depan pintu ruangannya.


"Iya pah, aku sudah siap," sahut Zea sambil mengapit lengan sang papah.


"Heiii, kalian melupakanku!!" teriak Daniel lalu mengapit kan tangan kiri Zea pada lengannya.


Mereka pun berjalan menuju lift untu turun kebawah dimana pesta itu berlangsung.


Ting...


Pintu lift terbuka, seketika itu pandangan semua orang tertuju pada 3 orang yang bergandengan kelaur dari dalam lift.


"Putri tuan Adi sangat cantik yaa, ingin sekali aku menjadikannya menantuku," ucap salah satu tamu disana.


"Huusshh, dia sudah punya calon suami, dan kau tau calonnya?? Dia adalah Devandra Bramasta. Kau pasti tidak akan bisa mengambilnya dari tuan Devandra," sahut tamu yang lain.


Dan perbincangan itu terdengar oleh dua sosok perempuan yang memandang sinis kearah 3 orang yang baru keluar dari lift itu.


"Ini benar-benar menyebalkan Mom," kata Gita kesal mendengar semua orang menyanjung Zea.


"Sabaarr sayang," sahut Lisa menasehati putrinya.


"Ini perusahaan yang aku incar Mom, dan kini perusahaan ini ada ditangan gadis brutal itu," ucap Gita kesal.


"Tenang sayang, masih banyak perusahaan papah yang akan menjadi milikmu nantinya," Kata Lisa sambil mengusap punggung putrinya itu


"Tapi semua perusahaan kecil Mom," Jawab Gita mencebik.


"Bukankah kau sudah belajar keras, sayang. Kau bisa membesarkan perusahaan mu sendiri dan menyaingi perusahaan Zea," sahut Lisa menasehati.


"It's hard Mom," jawab Gita malas.


Lisa hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan dari anaknya yang ingin sesuatu dengan cara instan.


Zea yang sedang berada di podium bersama Adi dan Daniel tampak mengedarkan pandangannya seolah sedang mencari seseorang.


'Apa dia tidak akan datang? Ini pesta penting ku masak dia tidak datang?' batin Zea galau.


"Sssttt, kau mencari kak Dev?" bisik Daniel sambil menyenggol lengan Zea.


"Tidak," sahut Zea singkat.


'iiishh, ada apa dengan ku, kenapa aku malah mengharapkan pria itu datang,' batin Zea Yang tak sadar dirinya sedang di panggil oleh Adi untuk memberi sedikit sambutan serta pidato.


"Kau sedang melamun?" tanya Adi ketika Zea tersadar dari lamunanya.


"Maaf pah," ucap Zea lalu wanita itu memulai pidatonya dan menyapa para tamu yang datang.


Setelah hampir menyelesaikan pidatonya, ada sosok pria tampan yang memandang kearah Zea dengan membawa buket bunga ditangannya.


Lalu Zea turun dari podium setelah selesai memberi sambutan hangat pada semua tamu yang hadir di pesta itu.


Zea mengedarkan pandangannya dan tiba-tiba ada seorang pria yang memberikan buket bunga ke hadapannya.


"Maaf, aku terlambat," ucap pria itu.


Zea menerima buket bunga itu dan melihat kearah pria tampan yang berada di hadapannya.


"Dev..." Sahut Zea tersenyum manis.