
Zea keluar dari kamar Dev dan menuju dapur. Dia membawa beberapa cemilan dan minuman untuk menemaninya nonton film di ruang tengah yang lebar itu.
Dev keluar dari kamar dan melihat Zea yang sedang asyik menonton film di ruang tengah sambil bar selonjor di atas sofa besar itu.
"Beby, kau tidak mengajakku nonton?" kata Dev menghampiri Zea dengan membawa laptop nya.
"Tidak, karena aku yakin kau akan mengganggu ketenangan ku," sahut Zea tanpa menoleh kearah Dev.
Dev Tergelak mendengar jawaban dari wanita yang sedang mewarnai hari-harinya kini.
Lalu Dev duduk disebelah Zea dengan menyilang kan kakinya dan meletakkan bantal di atas kakinya beserta laptop nya.
Tidak ada obrolan sama sekali, Zea sibuk menonton film actionnya sambil mengunyah cemilan.
Dan Dev sibuk dengan laptopnya menyelesaikan pekerjaan nya.
Kini sudah jam 12 malam Dev baru menyelesaikan pekerjaannya.
"Aahh ... akhirnya selesai juga," kata Dev sambil meregangkan otot-otot nya yang kaku.
Pria itu menutup laptopnya dan menoleh kearah wanita yang sudah terlelap dengan tangan yang masih memegang toples cemilan.
"Gadis ini benar-benar merubah hidupku yang membosankan, dan sekarang bila aku jenuh dengan pekerjaan ku, aku bisa menggodanya," ucap Dev pelan sambil mengusap kepala Zea.
Lalu Dev merebahkan tubuhnya di samping wanita itu juga dan memeluknya.
.
.
Di kediaman Pradipta.
"Gita, kapan kau lulus dari kuliahmu?" tanya Adi pada anak tirinya itu disela makan paginya.
"Mungkin 2 bulan lagi pah, aku sedang menyiapkan skripsi ku," sahut Gita sambil mengunyah makanannya.
"Habiskan dulu makanan yang ada di mulut mu, baru bicara lagi," kata Daniel menasehati kakaknya.
"Ckk, peraturan dari mana itu," sahut Gita cuek, sambil mengunyah lagi seakan tak mendengarkan nasehat dari Daniel.
"Itu peraturan dari keluarga ku," sahut Adi datar.
"Dan dengan kau tidak mengikuti peraturan dari keluarga kami itu sudah membuktikan bahwa kau memang tak pantas menjadi bagian dari keluarga kami," sahut Daniel tanpa melihat kearah Gita yang sudah emosi dengan ucapan Daniel.
"Daniel apa yang kau bicarakan," kata Lisa tak terima.
"Tenang Mom, sikapnya juga membuktikan bahwa dia juga tak pantas menjadi bagian dari keluarga Pradipta," sahut Gita yang sudah memandang tajam kearah Daniel.
"Yaa, kau juga tak sopan pada Momy dan kakak mu, Daniel," jawab Lisa.
"I don't care," sahut Daniel.
Lalu pergi meninggalkan meja makan itu karena memang makanannya sudah habis.
"Pah, lihat Daniel. Dia begitu tak sopan padaku dan juga Momy, ini pasti ajaran dari Zea," kata Gita mengadu pada Adi.
"Iya mas, Gita benar, dia seakan begitu membenciku dan Gita padahal kami tidak pernah berbuat masalah padanya. Kami juga selalu bersikap baik padanya," Ucap Lisa menimpali.
"Aku yakin mom, ini pasti ulah Zea. Dia sudah meracuni otak Daniel agar tidak menghormati kita," sahut Gita.
"Zea ... gadis brutal itu benar-benar licik. Dia sudah mengambil kendali putra ku."
"CUKUPP!!!" bentak Adi dengan nada yang dingin.
Lalu Adi meninggalkan meja makan itu.
"Aku tahu papah sangat mempercayai Zea karena dia putri kandung mu, dan aku hanya putri tiru mu," kata Gita yang membuat Adi menghentikan langkahnya.
"Papah begitu tidak adil padaku, papah selalu mengutamakan Zea di banding aku. Yaa aku tahu, aku cukup sadar diri pah, bahwa aku hanya anak tiri mu," ucap Gita lagi dengan nada yang hampir berteriak.
Adi menoleh pada Gita dengan mata tajamnya.
"Katakan, apa yang tidak kau punya dari apa yang sudah aku berikan pada Zea," sahut Adi dengan nada yang cukup tenang.
Gita tak langsung menjawab karena memang Adi sudah memberikan semua fasilitas secara adil bahkan sama dengan Zea.
"Ayo jawab" tanya Adi masih tenang.
"Papah memberikan perusahaan keluarga yang paling besar pada Zea. Papah tahu aku belajar dengan sangat giat untuk mendapatkan perusahaan itu, tapi papah malah memberikan itu pada Zea," jawab Gita memberanikan diri.
"Kau tahu Gita, aku sudah menyiapkan perusahaan untuk mu dan juga Daniel," sahut Adi.
"Tapi itu perusahaan kecil, papah sangat tidak adil padaku dan juga Daniel dengan hanya memberikan kami perusahaan yang kecil," jawab Gita dengan nada tinggi.
"CUKUP KAK GITA!!" teriak Daniel yang dari tadi melihat perdebatan itu dan cukup kesal dengan apa yang sudah Gita lakukan.
"Diam kamu Daniel, jangan ikut campur!!" bentak Gita.
"Aku juga yakin bahwa papah memang sengaja menjodohkan Zea dengan Dev, kan? Padahal papah pasti sudah sangat tahu bahwa aku sangat tertarik pada Dev dan Zea tidak, tapi apa ... Papah malah menerima lamaran Dev pada Zea," ucap Gita lagi dengan sambil menghapus air mata yang tiba-tiba menetes.
"Sudah Gita, sudah." Lisa menenangkan gita.
"Tidak mom, papah harus sadar bahwa dia sudah tidak adil padaku dan juga Daniel. Dia hanya menyayangi Zea dan hanya memberikan yang terbaik pada Zea, tidak padaku dan juga Daniel," kata Gita sambil pura-pura terisak.
Daniel yang mendengar perkataan Gita hanya mengerutkan keningnya.
'Aku tahu ini hanya sandiwara mu kak, dan kau juga membawa namaku agar aku merasa iri pada kak Zea. Benar-benar akting yang bagus,' batin Daniel tersenyum miring.
"Aku tidak pernah merencanakan perjodohan dengan Devandra. Asal kau tahu Gita, Lisa yang dengan sengaja mengundang Dev kemari dan ingin memperkenalkannya dengan mu, dan ternyata Dev menyetujuinya. Tapi Dev ingin berkenalan dengan kedua putriku. Dan tanpa ku sangka Dev memilih Zea dan langsung melamarnya," sahut Adi panjang lebar.
"Dan ternyata putri kesayangan papah sudah menggoda Dev, sebelum dia berkenalan dengan ku," jawab Gita.
"Dia tidak seperti itu kak Gita, kalau memang kak Zea sudah menggoda kak Dev, untuk apa kak Zea ingin kabur melalui balkon waktu itu yang sudah pasti sangat membahayakan nyawanya," ucap Daniel tak terima.
"Kau masih saja membelanya Daniel," sahut Gita lagi.
Gita menghampiri Daniel dan langsung menampar pipinya.
PLAKK
"Kau pikir aku selalu playing fiktim? Kau tak tahu apapun tentang aku, DAN!!" bentak Gita pada adiknya itu dengan tangannya yang menampar pipi Daniel.
"CUKUP!!!" bentak Adi pada kedua anaknya.
"Daniel, masuk ke kamar mu." Perintah Adi dengan nada yang tegas tak ingin di bantah.
"Gita, semua alasan mu tidak masuk akal, dan untuk perusahaan yang aku berikan pada Zea karena itu memang haknya Zea. perusahaan itu bukan milik papah, perusahaan itu milik almarhum mamah nya Zea yang diwariskan pada Zea," Ucap Adi lagi dengan suara yang tegas.
"Sudah cukup untuk hari ini, jangan sampai kau memancing kemarahan papah," ucap Adi lagi dengan suara yang sangat mengintimidasi.
Lalu Adi meninggalkan ruang makan itu dan masuk ke ruang kerjanya.
'Ini baru permulaan pah, aku akan merebut semua yang seharusnya menjadi milikku,' batin Gita dengan melihat kepergian Adi.
"Sudah cukup Gita, jangan memancing kemarahan papah, karena itu bisa membahayakan posisi kita di rumah ini," ucap Lisa karena dia sangat takut bila Adi menceraikan nya.
.
.
Di kediaman Bramasta.
Zea terbangun dari tidurnya karena merasa perutnya tertindih oleh sesuatu yang berat.
Wanita itu mengerjapkan matanya melihat sekeliling dan menoleh pada seseorang yang tidur sambil memeluk tubuhnya.
"Aaaarrgghhhh ...." Teriak Zea ketika melihat ada pria yang tidur disampingnya.
Dev langsung terjaga karena teriakan wanita itu. Dan langsung duduk bersamaan dengan Zea.
"Ada apa??" tanya Dev kaget dan melihat kearah Zea.
"Apa yang kau lakukan padaku, TUAN MESSUM!!" teriak Zea yang kaget dengan apa yang dia lihat, sebabnya Dev tidur disampingnya dengan kaki yang ada di atas perut nya dan tangan Dev yang berada didalam sweater nya bahkan berada diantara gunung kembarnya.
"Akuu ... hanya ingin menghangatkan mu, Beby." Bantah Dev sambil menguap.
"Alasann ... DASAR TUAN MESSUM" kata Zea sambil memukulkan bantal pada dev lalu beranjak dari sofa menuju kamar tamu yang ada disebelah ruangan itu.
Dev hanya tertawa dan memegang kepalanya yang tak pusing.
'Dia benar-benar gadis bar bar yang ****,' batin Dev tersenyum melihat kepergian Zea.
"Tunggu ... aku ingat ukuran dadanya yang montok," kata Dev sambil melihat genggaman tangannya.
Pria itu beranjak dari sofa dan masuk ke kamarnya.
Zea berendam di dalam bathtub dengan busa sabun yang melimpah. Dia mengingat apa yang baru saja terjadi.
"Harusnya aku menonjok wajah nya sampai giginya rontok, dan dia akan menjadi pria jelek," kata Zea pelan sambil menggosok badannya.
'Tapi kenapa aku bahkan nyaman di dekatnya,' batin Zea.
Di dalam kamar mandi yang berbeda, Dev juga berendam di bathtub dengan pikiran yang hampir sama dengan Zea.
'Ohh God, ingin sekali aku membawanya ke bathtub ini bersama ku dan membersih tubuhnya yang indah itu,' batin Dev membayangkan Zea di sampingnya.
Lalu dengan waktu yang bersamaan Dev dan Zea keluar dari kamarnya yang bersebelahan.
Pandangan mereka bertemu dan Zea langsung mengalihkan pandangannya.
"Ayo kita sarapan." Ajak Dev.
Lalu mereka makan pagi bersama.
Mereka makan pagi bersama tanpa obrolan sama sekali dan sibuk dengan makanannya masing-masing.
Lalu ada pelayan yang turun dari tangga dengan membawa nampan makanan yang sudah kosong.
"Momy sudah makan pagi?" Tanya Dev dan Zea bersamaan. Lalu mereka berpandangan.
"Sudah Tuan, Nona," sahut pelayan itu sambil tersenyum.
"Kau ..." kata Dev dan Zea bersamaan lagi dan saling memandang.
"Bicaralah dulu," kata Dev mengalihkan pandangannya ke makanan yang ada di depannya.
"Tidak, kau dulu," sahut Zea sambil mengacak makanannya.
"No, kau lah dulu," sahut Dev lagi.
Lalu mereka berpandangan tajam setajam silet. 😁
"Ckk, aku lupa," sahut Zea mengalihkan pandangannya.
"Aku juga lupa," kata Dev sengaja meniru Zea.
"Kau bercanda?? Kau meniru ku kan ..." kata Zea dengan nada dingin.
"Tidak, untuk apa aku meniru mu," sahut Dev datar.
Lalu Zea pergi meninggalkan meja makan itu.
"Heii, kau belum menghabiskan makanan mu, Nona," kata Dev memandang kepergian Zea sambil tersenyum miring.
Tapi wanita itu tidak menghiraukan perkataan Dev.
"Aku sangat suka menggoda mu, Beby," ucap Dev pelan.