My Lovely Girl

My Lovely Girl
S2 Valerie - Irza 53



~Kepergian Valerie~


" Ada apa, Kak? kenapa Kakak mengunjungi ku secara mendadak?" tanya Lenski.


Anak itu menatap lekat wajah tak biasa Valerie dan dia langsung mengerti jika sang kakak sedang ada masalah.


" Aku hanya merindukan mu," sahut Valerie tersenyum kecut.


" Aku juga merindukan Kakak!" Lenski langsung memeluk erat tubuh Valerie dan mengusap punggung nya karena dia tahu apa yang Valerie rasakan meskipun wanita itu tak menceritakan apa yang terjadi padanya.


Air mata Valerie berjatuhan dan dia langsung menghapus nya sembari masih memeluk erat tubuh mungil Lenski.


" Kakak harus pergi untuk sementara waktu, tapi Kakak berjanji akan selalu menghubungi mu," kata Valerie saat melepaskan pelukannya.


" Kemana? bersama siapa? apa Kak Irza tahu?" tanya Lenski penuh curiga.


Valerie tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


" Aku baru tahu dari uncle Kiki bahwa kita memiliki sebuah penginapan di area perbukitan. Dan kakak ingin kesana untuk memastikan hal itu," kata Valerie yang memang benar adanya.


Namun Irza tak tahu tentang hal itu. Lenski menganggukkan kepalanya namun dia masih menaruh curiga pada sang Kakak yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja.


" Baiklah. Jaga dirimu baik-baik disini, dan belajar yang giat agar kau bisa membesarkan perusahaan Ayah dan juga penginapan kita, Hmmm?"


Lenski menganggukkan kepalanya dan Valerie mencium kening nya.


.


.


Kini Valerie sudah ada didalam taksi setelah berpamitan pada Lenski. Dia memutuskan untuk pergi dari negara itu dan akan menuju penginapan tua milik almarhum ayahnya yang tidak satu pun tahu keberadaan nya.


Uncle Kiki menghubungi nya dan memberi tahu bahwa Ayahnya memiliki sebuah penginapan tua di daerah terpencil di area perbukitan.


Sebelum pergi dari negara itu. Valerie ke sebuah bank untuk mengambil uang yang berjumlah cukup banyak. Lalu dia pergi lagi menggunakan bus agar jejak nya tak terlacak.


Setelah tiba di luar kota dia akan langsung naik ke bus yang lain dan itu dilakukan nya sampai beberapa kali karena dia tak mau Irza mudah untuk menemukan keberadaan nya.


Kini Valerie sudah ada di dalam kapal yang akan siap berlayar ke negara sebelah. Dia memutuskan untuk tak menggunakan pesawat komersil karena itu pasti akan membuat jejaknya bisa terlacak dengan identitas nya disana.


Dia ingin pergi sejauh-jauhnya dari Irza meskipun dalam keadaan hamil karena dia begitu kecewa pada sang suami.


Bahkan dia belum sempat mengabari bahwa dirinya tengah hamil dan hanya dirinya yang tahu. Valerie juga merusak dan membuang ponsel nya karena takut jika Irza bisa melacak nya.


Lalu ada seseorang yang menghampiri nya dan menawarkan makanan untuk nya. Valerie menatap kearah Roti tersebut lalu melihat kearah seseorang yang sudah berdiri di hadapannya.


" Terimakasih, Bibik."


Valerie mengambil roti itu dan langsung memakannya karena dia memang belum makan selama seharian ini.


Wanita paruh baya itu tersenyum dan duduk di samping Valerie. Dia melihat penampilan Valerie sederhana dan hanya membawa tas ransel yang berukuran kecil.


" Kau mau kemana, Nak?" tanya wanita itu.


" Aku mau ke desa x, Bibik," sahut Valerie sambil mengunyah roti nya.


Wanita itu tersenyum dan masih memperhatikan Valerie.


" Tujuan kita sama, aku juga ingin kesana. Kau sendiri?" tanya wanita paruh baya itu lagi.


Valerie hanya menganggukkan kepalanya cepat sambil terus memakan roti pemberian wanita itu.


" Kau terlihat sangat lapar dan lelah," sahut wanita itu dan Valerie hanya tersenyum menanggapi nya.


" Kau sudah menikah? lalu kenapa kau pergi sendirian? itu akan berbahaya, Nak," kata wanita itu saat melihat cincin di jari manis Valerie.


Valerie hanya tersenyum dan tak menjawab pertanyaan dari wanita itu.


" Dimana suami mu? kenapa dia membiarkan istri cantik nya pergi seorang diri seperti ini?"


Valerie menoleh dan melihat kearah wajah keriput wanita itu.


" Dia sudah meninggal," sahut Valerie dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Wanita itu langsung memegang tangan Valerie dan membawa nya ke pelukannya.


" Aku turut berdukacita," kata wanita itu.


Valerie kembali menetes kan air matanya dalam pelukan itu.


' Ya, dia sudah meninggal.' batin Valerie.


Lalu mereka melanjutkan obrolan nya bersama dan mereka saling mengenal karena tujuan mereka sama.