
Perlahan Dimas menyusuri bibir sexy Gita dan menyesapnya perlahan.
Kemudian Dimas menggigit perlahan bibir Gita agar terbuka, lalu dia menyusuri bibir itu menggunakan lidahnya dengan perlahan.
Gita merasakan jantungnya berdegup begitu kencang atas ciuman pertamanya ini sambil menutup matanya.
"Balas ciuman ku," ucap Dimas lirih ketika melepaskan ciumannya sambil menatap mata Gita yang sudah terbuka.
Lalu Dimas melanjutkan ciumannya lagi dengan perlahan dan kini Gita mulai membalas ciuman pria tampan itu, dengan melakukan sama yang seperti Dimas lakukan pada bibirnya.
Gita menikmati ciuman pertamanya itu, dan mengalungkan tangannya di leher kokoh Dimas.
Lalu Dimas mengangkat tubuh Gita dan mendudukkan nya di meja marmer yang ada di dapur itu.
Dimas merasa gairah nya mulai terpancing, saat Gita mulai membalas ciuman nya. Lalu menekan tengkuk leher Gita agar memperdalam ciumannya.
Dan Kini ciuman yang mulanya perlahan, kini semakin menggebu seakan menuntut untuk melakukan yang lebih.
Bahkan tangan Dimas kini sudah masuk kedalam kaos Gita, dan menyusuri punggung mulus calon istrinya itu.
Namun tiba-tiba Ponsel Gita berbunyi, dan seketika alarm di otak dua insan itu tersadar dan melepaskan pagutan di bibirnya.
Dimas menatap manik mata Gita lalu mengusap bibir sexy Gita yang terlihat basah akibat ciumannya tadi.
Lalu Gita mengambil ponselnya yang berbunyi di saku celananya dan mengangkat teleponnya yang tertulis nama momy di layar ponselnya itu.
"Halo, mom," sapa Gita.
"Sayang, apa kau sudah sampai di apartemen mu?" tanya lisa di seberang telepon nya.
"Ya, mom. Aku sudah ada di apartemen ku, ada apa, mom?" kata Gita sambil menahan dada Dimas dengan tangannya.
Pasalnya disaat Gita mengangkat telepon nya, Dimas sedang asik menyusuri leher jenjang Gita dengan hidung mancungnya dan itu membuat Gita merasa darahnya berdesir.
"Tidak apa, sayang. Momy hanya ingin memastikan kau sampai apa belum, ya sudah istirahatlah. Bye, sayang," kata Lisa.
"Bye, mom," sahut Gita lalu mengakhiri panggilan itu.
Lalu Dimas mengambil ponsel Gita dan menaruhnya di meja itu.
Tanpa basa-basi, Dimas langsung menyusuri leher mulus Gita yang begitu menggoda di matanya sambil memasukkan tangannya kedalam kaos Gita.
"DIMAS, STOP IT," ucap Gita menahan kepala Dimas agar berhenti menciumi lehernya, yang pasti bisa membuat nya kehilangan kendali.
Dimas tersenyum smirk lalu mengecup bibir Gita sekilas, lalu menurunkan Gita dari meja marmer itu.
"Aku ingin secepatnya menikahi mu," ucap Dimas sambil menyentuhkan keningnya di kening Gita.
"Tidak, karena saat ini kau hanya di kuasai oleh nafsu mu," jawab Gita menatap mata Dimas.
"Oh God, aku bisa gila bila aku berjauhan dengan mu, Honey," ucap Dimas dengan bibir yang bersentuhan dengan bibir merah Gita.
"Dimas ... STOP!" tegas Gita menahan kepala Dimas dan menjauhkan nya dari kepalanya.
"Kita bisa kehilangan kendali dan melakukan nya sebelum pernikahan kita," kata Gita lagi dan menarik tangan Dimas menuju sofa lalu duduk di sofa itu.
"Kau ingin kita melakukan itu di malam pengantin kita?" jawab Dimas memandang Gita yang tampak berjalan kearah dapur lagi.
"Ya, karena aku akan melakukannya hanya dengan suami ku," jawab Gita dengan membawa minuman dan cemilan dari dapur, dan menghidangkan nya di meja dekat sofa.
"Honey, aku calon suamimu. Dan sudah pasti kau akan melakukannya dengan ku," sahut Dimas sambil mengangkat bahunya
"Oh, tidak bisa, Pak Dokter. Kau bahkan belum melamar ku secara resmi, jadi banyak kemungkinan yang bisa terjadi," ucap Gita lalu meminum jusnya.
"Jadi kau belum yakin padaku, Honey?" tanya Dimas memandang tajam kearah Gita.
Dan hal itu membuat Dimas tertawa dengan perkataan absurd dari calon istri nya sambil mengacak rambut nya.
"Ini sudah memasuki jam makan siang, apa kamu tidak lapar?" tanya Gita.
"Eemm ... ayo kita makan siang bersama dan setelah itu aku akan langsung kembali, karena penerbangan ku nanti jam 6 sore," sahut Dimas.
Lalu mereka keluar dari apartemen Gita dan berjalan menuju lift.
"Kita makan di restoran sebelah saja, disana makanannya lumayan enak," ucap Gita setelah mereka keluar dari lift.
Dimas dan Gita berjalan kaki sambil bergandengan tangan dijalan trotoar itu, karena memang jaraknya yang lumayan dekat dengan gedung apartemen Gita.
Setelah sampai di restoran itu, mereka langsung masuk dan memesan makanan.
Mereka duduk di dekat jendela sambil melihat lalu lalang para pejalan kaki.
Disaat mereka tengah menunggu makanannya ada seseorang yang memanggil Gita dari arah belakang.
"Anggita ...," panggil seorang pria dari belakang Gita.
Gita pun menoleh dan senyum nya merekah saat melihat pria tampan yang memanggilnya.
"Kak Arga ...," ucap Gita bangkit dari kursinya.
"Hai, apa kabar? lama kita tak berjumpa," kata pria yang bernama Arga sambil memeluk Gita sesaat dan mencium pipi kanan dan kiri Gita.
Dimas menatap tajam pada sosok pria itu sambil menahan kekesalannya.
"Kabar ku baik, Kak. Ya, aku pulang ke kotaku dan aku baru kembali hari ini untuk menyelesaikan tugas akhir kelulusan ku," jawab Gita dengan eng wajah yang begitu sumringah.
'Siapa pria ini, kenapa Gita begitu senang bertemu dengan nya? apa dia salah satu mantannya?' batin Dimas galau.
"Duduklah, Kak. Kita makan siang bersama," kata Gita mempersilahkan Arga duduk.
"Apa aku tidak menggangu acara kalian?" tanya Arga sambil duduk di kursi itu.
"Tidak, Kak. Aku akan memesankan makanan untuk Kak Arga," kata Gita lalu memanggil pelayan dan memesan kan makanan dan minuman untuk Arga.
"Kau masih ingat makanan dan minuman favoritku?" tanya Arga sambil tersenyum menawan.
"Ya, tentu. Aku tidak akan lupa dengan hal itu," jawab Gita sambil tertawa pelan.
"Ehem ... ehemm," Dimas berdehem karena merasa terabaikan oleh sang calon istri, karena kedatangan pria yang bernama Arga.
"Oh iya, kenalkan Kak. Dia Dimas," ucap Gita memperkenalkan Dimas pada Arga.
Lalu Arga mengulurkan tangannya pada Dimas.
"Haii, namaku Arga, Salam kenal," ucap Arga sopan.
"Haii, namaku Dimas, CALON SUAMI ANGGITA," sahut Dimas dengan menekan kan kata calon suami dan menjabat tangan Arga dengan erat sambil menatap nya dengan tajam.
Arga mengerutkan keningnya melihat sikap Dimas dan begitu terkejut saat pria itu menyebutkan bahwa dirinya adalah calon suami Anggita.
Wanita yang sejak dulu dia taksir, tapi dia tidak pernah mengutarakan perasaan nya. Karena prinsip yang dia sepakati bersama ayahnya.
Bahwa sanya, Arga tidak boleh berhubungan dengan wanita manapun selama menempuh pendidikan nya.
'Jadi dia sudah bertunangan, dan lagi-lagi aku kalah sebelum bertanding,' batin Arga galau mengingat setiap dia ingin mengutarakan perasaan nya, tapi selalu saja Gita sedang menjalani hubungan dengan seorang pria.
Dan saat ini, dimana dia sudah di pertemukan kembali dengan keadaan yang sangat memungkinkan karena dia sudah menjadi seorang pengusaha yang cukup sukses, dan ingin mengutarakan perasaannya, tapi dia harus mengurungkan niatnya karena sang pujaan hati kini sudah mempunyai calon suami.