
S2 Valerie - Irza 37
Kini Irza dan Valerie pun sudah kembali ke villa, mereka sedang dalam perjalanan menuju villa yang mereka tempati. Pria itu tampak sangat terburu-buru karena mendengar permintaan dari sang istri.
Bahkan saat Valerie merengek meminta untuk mampir ke sebuah kedai es cream pun Irza tak mengindahkannya permintaannya.
Fokus nya kini hanya pada permintaan awal sang istri yang ingin bercinta di berbagai tempat. Sebagian seorang pria normal tentu saja membuat Irza bersemangat untuk segera menghujam sang istri.
.
.
Mobil yang di tumpangi Irza dan Valerie pun kini sudah memasuki gerbang villa. Irza keluar dari mobilnya dan tampak berjalan kearah pintu samping untuk membukakan pintu mobil untuk sang istri.
Dia melihat wajah cemberut Valerie, dia tahu apa sebabnya tapi dia tak mencoba untuk membujuk nya. Karena Valerie tak kunjung keluar dari mobil, Irza langsung membopong tubuh sang istri serta memanggulnya layaknya sebuah karung.
Valerie hanya diam dan tak memberontak karena dia sudah malas berdebat dengan sang suami.
Pelayan tampak tersenyum saat membuka kan pintu untuk mereka. Namun dia hanya bisa menundukkan wajahnya saat Valerie menatapnya dengan tatapan memohon.
Dan akhirnya mereka sudah tiba di dalam kamar utama. Irza menghempaskan tubuh sang istri ke ranjang dan dia langsung membuka seluruh pakaian nya.
" Aku tidak akan memberikan jatah mu sebelum kau memenuhi permintaan ku," ucap Valerie mencebik.
Irza tak menghiraukan ancaman dari sang istri, dia hanya terus melepaskan kain yang melekat pada tubuhnya sambil berjalan kearah ranjang.
" Aku akan memenuhi semua permintaan mu, tapi bukannya kau sudah mengatakan permintaan pertama mu padaku tadi, Honey?"
Valerie berdecak sambil mengalihkan wajahnya.
" Tapi aku ingin es cream itu sekarang!" tegas Valerie.
" Setelah ini kita akan membelinya, bahkan jika perlu akan ku beli dengan tokonya sekaligus," sahut Irza yang kini sudah merangkak kearah sang istri yang bersandar di dashboard ranjang.
Valerie menelan saliva nya dengan susah payah saat melihat tubuh hot sang suami. Dia selalu berdebar saat melihat kejantanan sang suami yang menjulang di hadapan nya.
Tanpa basa-basi lagi, Irza langsung memagut liar bibir mungil Valerie. Dia menautkan kedua tangannya dengan tangan sang istri dan mengunci pergerakan nya.
Valerie hanya mampu pasrah karena dia pun juga tak bisa menolak pesona dari Irza yang memang sangat kuat.
Mereka saling memagut dan juga berperang lidah. Hingga tak terasa semua pakaian yang di kenakan oleh Valerie kini sudah tak lagi melekat pada tubuhnya.
" Aaahh ... Lakukan sekarang, Honey."
Irza tersenyum penuh kemenangan saat dia berhasil membuat sang istri bergairah.
Tapi dia tetap bermain di area dada bulat Valerie. Karena sudah merasa tak tahan, Valerie membalikkan tubuhnya hingga dia kini sudah berada di atas tubuh sixpack sang suami.
" I'm on top, Honey."
Irza tersenyum miring saat melihat bagaimana liarnya sang istri saat ini.
Valerie melakukan penyatuan nya dan mulai bergerak di atas tubuh sang suami dengan tangan yang bertumpu di atas dada bidang Irza.
Pria itu melenguh keras saat Valerie menggoyang kan pinggulnya. Dia mengangkat tangan nya dan menangkup benda bulat yang menggantung indah di hadapannya.
Lenguhan dan ******* terdengar bersahut-sahutan di dalam kamar panas itu. Mereka melakukan percintaan itu sepanjang hari hingga sore menjelang.
Bahkan mereka melakukan hal itu di setiap sudut di kamar itu dan bukan hanya di ranjang.
.
.
Satu Minggu berlalu.
Kini Irza dan Valerie sudah bersiap untuk meninggalkan villa tersebut.
Selama beberapa hari terakhir, mereka tak lagi keluar untuk berkeliling. Melarikan hanya melakukan adegan panas di segala ruangan yang ada di villa itu.
Bahkan Irza juga meminta pelayan untuk datang ke villa itu hanya saat pagi hari. Karena dia ingin bebas melakukan percintaan panas bersama sang istri di villa itu.
Semua ruangan yang ada di villa itu sudah mereka tempati untuk bercinta. Dan sangat sesuai dengan permintaan konyol Valerie saat berada di atas balon udara.
Dan kini saatnya mereka meninggalkan villa itu. Sebenarnya mereka berniat untuk langsung pulang ke Paris.
Tapi Irza mengundurkan niatnya karena mendapatkan telepon dari sang kakak Gita. Ada pekerjaan di negara dimana sang kakak tinggal dan Irza memutuskan untuk pergi kesana terlebih dahulu.
Dan Valerie pun tak keberatan dengan hal itu karena dia juga merindukan Gita dan juga Ivander, keponakan Irza.