My Lovely Girl

My Lovely Girl
Bab 33



Dev menggandeng tangan Zea menuju ruang makan untuk sarapan bersama.


Pria itu sangat perhatian pada Zea, dia memundurkan kursi dan mempersilahkan istri nya untuk duduk lalu dia duduk di sampingnya.


"Sayang, kenapa kau tak memakai kursi roda mu?" tanya abel sambil mengambilkan makanan untuk menantu dan putranya.


"Aku seperti orang lumpuh jika aku memakai kursi roda, Mom. Dan aku tidak suka itu," jawab Zea.


Abel tersenyum mendengar ucapan dari menantu nya.


"Tapi sayang, kau akan capek bila terus memaksa dirimu untuk berjalan. Sementara kondisi mu belum terlalu pulih," sahut Abel memberi piring yang sudah terisi penuh makanan pada Zea.


"Terimakasih, Mom," kata Zea mengambil piring itu.


"Tapi sungguh, Mom. Aku sudah sangat membaik dan aku sudah tak memerlukan kursi roda itu lagi," ucap Zea.


"Ya, kau memang wanita yang kuat," jawab Abel sambil memberikan piring yang berisi makanan pada Dev.


" Terimakasih, Mom. Ya ... Itu karena dia sangat bersemangat untuk bertanding dengan ku, Mom," sahut Dev mengambil piring itu dari tangan Abel.


"Bertanding apa maksud mu, Dev?" tanya abel duduk di kursi yang berhadapan dengan Zea.


"Dia ingin bertanding bela diri dengan ku, Mom," jawab Dev sambil menyantap makanannya.


"WHAT ... kau akan bertanding dengan istri mu, Dev? jangan gila, Dev. Dia belum pulih total," kata Abel mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


"Dia yang meminta, Mom," jawab Dev.


"Dan kau menuruti nya, begitu?" sahut Abel.


"Tenanglah, Mom. Aku akan bertanding dengan nya saat aku sudah pulih total dan aku akan berlatih untuk mengalahkan nya," jawab Zea dengan percaya dirinya.


"Tapi sayang ... Momy tetap tak akan mengijinkan pertandingan konyol itu!" jawab Abel tegas.


"Momy tenanglah, aku pasti bisa mengalahkan pria mesum itu, lihat saja nanti," kata Zea sambil menyantap makan paginya.


"we'll see," sahut Dev menghendikkan bahunya.


Abel tak bisa berkata-kata lagi dan hanya menggeleng kan kepalanya melihat tingkah laku anak dan menantunya yang sangat di luar batas.


.


.


.


Di kediaman Pradipta, semua anggota keluarga berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama.


"Kau sudah mengemasi barang mu, Honey?" tanya Adi pada putri tirinya.


"Sudah, Pah. Aku hanya membawa sedikit barang ku karena aku tidak akan lama," jawab Gita.


"Sebelum kau pergi kesana, mampirlah dulu ke mansion Dev, dan berpamitan pada Zea," kata Lisa.


"Ya, Mom. Aku akan mampir kesana," sahut Gita.


Lalu terdengar bel pintu berbunyi dan pelayan langsung membukakan pintu nya.


"Silahkan masuk, Tuan. Anda sudah di tunggu di ruang makan," ucap pelayan itu dengan ramah.


"Terimakasih, Bik," sahut Dimas dan langsung masuk kedalam mansion manuju ruang makan.


"Selamat pagi semua, maaf mengganggu acara makan pagi kalian," kata Dimas saat berada di ruang makan yang luas itu.


"Dimas, kau sudah datang? kemarilah, kita sarapan bersama," kata Lisa mempersilahkan sang calon menantu.


"Terimakasih, Aunty. Kebetulan sekali aku memang belum sarapan," kata Dimas lalu duduk di sebelah Gita.


"Apa kau tidak sibuk hari ini, Dimas?" tanya Adi yang kini sudah menyelesaikan makan paginya.


"Tidak, Uncle. Aku memang sengaja meluangkan waktu ku agar bisa mengantarkan calon istri ku," kata Dimas menyenggol lengan Gita.


"Iiishhh ... dasar Dokter gadungan," kata Gita ketus.


"Hmm ... syukurlah kalau begitu, Uncle tinggal dulu untuk bersiap pergi ke kantor," kata Adi meninggalkan ruang makan itu.


"Ini Dimas. Silahkan di makan dulu," kata Lisa sambil memberikan piring yang sudah penuh dengan makanan pada Dimas.


"Terimakasih, Aunty. Wahh ... sepertinya ini enak sekali," ucap Dimas.


"Ya, ku anggap itu sebagai pujian," sahut Lisa.


"Aunty tinggal dulu untuk melayani Uncle. Gita, layani Dimas dengan baik," kata Lisa lalu pergi dari ruangan itu.


Dia memang sengaja meninggalkan Gita dan Dimas berdua agar mereka bisa saling mengobrol.


"Hmm ... aku sudah kenyang, aku tinggal dulu kedalam," kata Gita beranjak dari kursinya tapi Dimas menahan tangan nya.


"Heii, kau bisa makan sendiri disini," ucap Gita mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Dimas tapi tidak bisa.


"Hufft ... baiklah baiklah, sekarang lepaskan tanganku," ucap Gita menyerah.


"Good girl," ucap Dimas mengacak rambut Gita.


.


.


Kini Dimas dan Gita sudah siap untuk pergi, begitupun dengan Adi yang sudah siap untuk berangkat ke perusahaan.


"Jaga dirimu baik-baik disana, sayang," kata Lisa merangkul bahu putrinya.


"Ya, Mom. Momy juga jangan terlalu sibuk dengan geng arisan Momy," ucap Gita mencium tangan sang Momy dan juga mencium pipinya.


"Iishh, kau ini," kata Lisa mencubit hidung mancung Gita.


"Pah, aku pergi dulu. Jaga kesehatan papah dan jangan sering lembur di kantor, nanti Momy bisa stres karena sendirian di mansion besar ini," ucap Gita yang membuat Adi tertawa lalu mencium tangan Adi dan juga mencium pipinya.


"Iya, Honey. Papah tidak akan meninggalkan momy terlalu lama di mansion, karena momy bisa berubah menjadi singa yang lapar bila di tinggal sendiri di mansion," ucap Adi yang langsung mendapatkan pukulan dari Lisa.


"Aku pamit dulu, Uncle," kata Dimas mencium tangan Adi dan Lisa bergantian.


"Ya, hati-hati dijalan, Dimas. Uncle titip Gita pada mu," ucap Adi.


Lalu Dimas dan Gita masuk kedalam mobil range Rover milik Dimas dan mengendarai mobil itu keluar dari halaman mansion Pradipta.


Begitupun dengan Adi yang langsung berangkat menuju perusahaan nya bersama supir.


"Hufft ... sepertinya aku mulai kesepian lagi," ucap Lisa setelah mengantarkan suami dan anaknya ke depan mansion.


"Kita mampir dulu ke mansion, Dev" kata Gita tanpa menoleh pada Dimas.


"Ya, aku juga harus mengecek kondisi Zea saat ini, karena kemarin suster yang bertugas disana mendadak pulang karena anaknya sakit," jawab Dimas yang tampak fokus mengendarai mobilnya.


Sesampainya di mansion Bramasta, Dimas dan Gita langsung masuk kedalam mansion dan menuju ruang tengah.


"Aunty ... dimana Zea?" tanya Gita pada Abel yang sedang duduk di sofa ruang tengah.


"sayang ... kau sudah datang? Zea baru saja masuk ke kamarnya," kata Abel menoleh pada Gita.


"Baiklah. Aku akan menemuinya dulu, Aunty," sahut Gita berjalan menuju kamar Zea.


"Kalian sudah sarapan?" tanya Abel.


"Sudah, Aunty," sahut Gita dan Dimas bersamaan.


Abel tersenyum mendengar kekompakan Dimas dan Gita.


Tok tok tok


Gita mengetuk pintu kamar Zea.


CEKLEK ...


"Masuklah," kata Dev membuka pintunya.


"Dimana Zea?" tanya Gita saat tak melihat Zea di dalam kamar.


" Dia sedang di kamar mandi," jawab Dev duduk di kursinya.


"Oke," sahut Gita duduk di sofa kamar itu.


"Kapan kalian akan mengadakan pesta pertunangan kalian?" tanya Dev sambil memeriksa dokumen di tangannya.


"Mungkin minggu depan," jawab Dimas.


"Tidak, Pak Dokter. Aku ingin menunggu Zea sembuh total, baru kita bisa mengadakan pesta pertunangan itu," kata Gita sambil mengecek ponselnya.


CEKLEK ...


Terdengar pintu kamar mandi di buka dan Zea keluar dari kamar mandi.


"Gita ... sejak kapan kau disini?" tanya Zea menghampiri Gita dengan berjalan perlahan.


"Wait ... Zea kenapa kau tak menggunakan kursi roda mu," tanya Gita sambil menghampiri Zea dan menuntunnya menuju ranjang.


"Aku tidak suka memakai kursi roda, karena itu membuat ku seperti orang yang lumpuh," jawab Zea lalu duduk di ranjangnya.


Gita pun membantu mengangkat kan kaki Zea agar bisa ber selonjor di ranjang itu.


"Thanks, Sister, " ucap Zea tersenyum.