
"Dev, apa yang kau lakukan," kata Zea sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Pria itu memang sengaja membuka kemejanya di depan Zea karena dia sangat senang menggoda nya.
Perlahan Dev berjalan menghampiri Zea yang sedang menutupi wajahnya dengan tangan.
"STOP ... jangan mendekat!!" teriak Zea yang sadar Dev sedang berjalan kearah nya.
"Why ...??" Tanya Dev sambil tersenyum smirk
"Jangan mendekat Dev, atau ku patahkan kakimu" ancam Zea sambil tetap menyembunyikan wajahnya di balik tangannya.
Pria itu tergelak mendengar ancaman dari calon istrinya itu.
"Kenapa kau menutup wajah mu seperti itu??" tanya Dev mendekati Zea.
"Pakai bajumu Dev ... aku geli melihat mu bertelanjang dada seperti itu," sahut Zea.
Pria itu semakin mendekatkan dirinya kearah Zea yang sedang terpaku di tempatnya berdiri sambil menutup wajahnya.
'Oohh my, apa yang akan dia lakukan padaku,' batin Zea yang merasakan jantungnya sudah berdegup sangat cepat.
Ketika Dev sudah berada di sebelah Zea, dia membisikkan sesuatu pada wanita itu.
"Aku hanya ingin mandi dan mengganti bajuku Beby, kau pikir aku mau melakukan apa??" kata Dev ditelinga Zea, lalu masuk kedalam kamar mandi yang pas berada dibelakang Zea.
"Ohh God, aku pikir dia akan melakukan sesuatu padaku," ucap Zea pelan yang masih didengar oleh Dev, karena pria itu masih mengintip Zea di balik pintu kamar mandi itu.
"Apa kau ingin melakukannya sekarang, Beby," kata Dev yang hanya muncul kepalanya saja dari balik pintu itu.
"Shut up!!" bentak Zea sambil melemparkan tas yg dipegangnya pada Dev tapi pria itu dengan cepat menutup pintu itu.
"Dasar pria messum!!!" teriak Zea sambil memungut lagi tas yang di lemparnya tadi.
"Aku bisa mendengarnya, Beby," sahut Dev dari kamar mandi.
"I don't care," sahut Zea.
Lalu merebahkan tubuhnya di ranjang king size milik Dev.
Wanita itu sedang menatap langit-langit kamar itu dengan fikiran yang entah kemana.
'Apa yang sedang aku rasakan saat ini padanya? kenapa jantungku begitu berdebar saat berada di dekatnya,' batin Zea.
Tak lama setelah itu, Dev keluar dari kamar mandi yang hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya.
Zea otomatis menoleh kearah pintu kamar mandi yang dibuka dan langsung mengalihkan pandangannya ketika melihat Dev.
"Ckk, pria ini benar-benar menyebalkan," ucap Zea yang masih terdengar oleh Dev.
Pria itu hanya menyunggingkan senyumannya sambil berjalan menuju ruang ganti.
Lalu Zea bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.
Dev keluar dari ruang ganti dengan sudah memakai celana training panjang berwarna hitam dan hanya mengenakan kaos singlet berwarna silver.
Itu memperlihatkan otot lengannya yang kekar serta tato yang ada di lengannya.
Setelah beberapa menit, Zea keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bath rub saja dan melihat kearah pria yang sedang duduk di sofa dengan laptopnya.
'Pria ini benar-benar tampan dengan tubuh kekarnya yang terpampang nyata,' batin Zea.
"Dev, ambilkan aku baju ganti," kata Zea menghampiri Dev yang fokus dengan laptopnya.
"Kau bisa memakai bajuku dulu, Beby." Tanpa melihat kearah Zea.
"Tapi aku juga membutuhkan pakaian dalam Dev, aku tidak mengenakan apapun di balik bath rub ini," ucap Zea sambil mencebik.
Dev yang mendengar itu langsung menatap tajam kearah Zea. Dan memandangnya dari atas hingga ke bawah.
"Jangan melihat ku seperti itu, Dev." Zea lalu membalikkan badannya membelakangi pria itu.
"Kau memancing ku, Beby," ucap Dev sambil memeluk tubuh Zea dari belakang.
Pria itu menghirup dalam-dalam wangi tubuh Zea yang segar karena habis mandi.
Zea merasa kaget karena tiba-tiba pria itu memeluknya dari belakang.
"Tidak, Dev cepat ambilkan aku pakaian, aku kedinginan," kata Zea sambil melepaskan tangan Dev yang melingkar di perutnya.
"Wait ..." sahut Dev lalu keluar dari kamarnya.
Pria itu kembali masuk ke kamarnya dengan membawa beberapa baju serta pakaian dalam wanita yang diminta oleh Zea.
"Pakailah itu milik adikku." Lalu Dev melanjutkan pekerjaannya lagi.
Dia mencoba semua bra yang dibawakan oleh Dev, tapi tidak satupun yang muat karena memang ukuran dada Zea yang lumayan besar dan montok.
"Ckk, berapa usia adik dari pria itu, kenapa branya tidak ada satupun yang muat di dadaku." Wanita itu mencebik lalu keluar lagi dari ruang ganti.
"Kenapa kau belum mengganti bajumu, Beby," kata Dev melihat Zea yang keluar menuju lemarinya.
Zea tidak menjawab pertanyaan Dev dan langsung mencari sesuatu didalam lemari Dev.
"Apa yang kau cari, Beby?" tanya Dev melihat Zea yang mengacak isi lemarinya.
Zea menemukan switer tebal milik Dev.
"Ahhaa ... I got it." Lalu membawa baju itu kedalam ruang ganti.
Dev hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan wanita itu.
Lalu Zea keluar dari ruangan itu dan langsung merebahkan tubuhnya di ranjang.
Dev melihat Zea yang sudah merebahkan dirinya di ranjang dan pria itu menyusulnya.
Dev memeluk Zea dari belakang dan lengannya menyenggol dada Zea.
"Kau sengaja mau menggodaku, Baby?" tanya Dev sambil melihat wajah Zea dengan mengerutkan keningnya.
"No." Lirih Zea sambil memejamkan matanya.
"Lalu kenapa kau tidak mengenakan pakaian yang aku bawakan tadi? Dan kau ... tidak mengenakan apapun di balik sweater ini," sahut Dev menatap tajam wajah Zea.
Zea tampak membuka matanya dan melihat kearah pria tampan yang memandangnya.
"Berapa usia adik mu, Dev?" tanya Zea.
"Beby, tidak ada hubungannya usia adikku dengan pembicaraan ini," sahut Dev dengan menatap heran wanita cantik yang berbaring disampaikan itu.
"Kau tinggal menjawabnya, Dev," jawab Zea.
"Usianya sekarang 17 tahun, kenapa kau malah membahas adikku, Beby?" sambil merebahkan lagi kepalanya pas di samping wanita cantik itu.
"Ckk, pantas saja tidak ada yang cukup," kata Zea menatap langit kamar itu.
Dev yang mendengar itu langsung beranjak duduk dan menatap mata Zea.
"Apanya yang tidak cukup??" tanya Dev memandang mata Zea lalu turun kearah dadanya.
Zea yang sadar Dev sedang ter nganga memandang dadanya langsung menyilangkan kedua tangannya diatas dadanya.
"Singkirkan tanganmu, Beby," kata Dev sambil tersenyum smirk.
"No, hentikan tatapan messum mu itu, Dev. Atau ku congkel matamu." Ancam Zea sambil memelototi Dev.
Pria itu tertawa pelan lalu merengkuh pinggang Zea.
"Boleh aku melihatnya?" tanya Dev tersenyum miring.
PLAKK
Zea menjitak kepala Dev lalu bangkit duduk dari tidurnya.
"Oh God, kenapa aku harus berhadapan dengan pria messum ini," kata Zea lalu meninggalkan Dev yang masih tertawa di atas ranjangnya.
.
.
Daniel baru sampai di mansion nya bersama Adicipta.
Mereka langsung masuk dan menuju kamarnya masing-masing.
"Mereka baru datang, tapi kenapa mereka hanya datang berdua??" kata Gita mengintip kedatangan Adi dan Daniel.
"Dimana wanita itu? apa dia sedang bersama Devandra, ckk kalau dia tidak pulang malam ini rencananya bisa gagal." Lalu Gita berbalik dan tampak kaget ketika melihat Daniel sudah ada di hadapannya.
" Sejak kapan kau berdiri disitu," kata Gita gelagapan.
"Sejak kau mengatakan rencana mu akan gagal," jawab Daniel menatap tajam mata kakaknya itu.
Gita ingin pergi meninggalkan Daniel tapi Daniel menahan tangannya.
"kau sudah tahu kan, kalau kau mencoba merencanakan sesuatu pada kak Zea, maka aku yang akan membalasnya." Ancam Daniel lalu meninggalkan Gita di lorong itu.
"kau pikir aku takut padamu!!" sahut Gita berteriak.
Daniel yang mendengar itu hanya mengacaukan jari tengahnya.