
Dokter Dimas sedang berada di toilet umum rumah sakit yang kebetulan di lewatinya tadi, pria itu langsung masuk kedalam kabin toilet karena merasa perutnya sedikit mules.
Setelah itu terdengar langkah kaki seseorang masuk kedalam toilet dan berbicara dengan seseorang di balik teleponnya.
"Untuk hari ini sepertinya kita belum bisa menjalankan rencana kita, karena aku lihat di ruangan itu sedang ada beberapa keluarganya yang berjaga disana," kata seorang pria di toilet itu.
"Kita tunggu saja sampai keadaan sudah sedikit renggang, karena tak mungkin kan mereka menjaga orang yang sedang koma 24 jam," kata orang itu lagi.
"Iya, aku pastikan zea tidak akan terbangun dari komanya, kamu tenang saja. Aku akan langsung mengabari mu saat zea sudah tidak bernyawa lagi," kata orang itu lalu pergi dari toilet itu.
"Sepertinya orang itu sedang merencanakan sesuatu yang jahat pada gadis yang bernama zea, aku harus menyelidiki ini," kata Dimas yang masih ada di dalam toilet lalu keluar dari toilet umum itu.
.
.
Seorang wanita cantik sedang berjalan dengan menghentakkan kakinya dan ekspresi yang sedang kesal.
"Gara-gara dokter gadungan itu, semuanya menjadi semakin rumit. Dev jadi berpikiran yang aneh-aneh kan padaku, padahal aku kemari untuk menggodanya. Jangan kan tergoda, melirik ku saja dia sepertinya tidak akan pernah." Omel Gita entah pada siapa.
"DASAR DOKTER GADUNGAN aaaarrgghhhh MENYEBALKAN!!!" teriak Gita meluapkan kekesalannya sambil menendang botol kosong yang ada di depannya.
DUGH
"Aauww," botol itu mengenai kepala seseorang.
"Heeeii, siapa yang sudah melemparkan botol ini sembarangan?" teriak pria itu sambil memegang kepalanya yang sedikit benjol.
Gita langsung membalikkan badannya mendengar pria itu berteriak mencari seseorang yang sudah melemparkan botol.
"ASTAGA ... aduh bagaimana ini,"
gumam Gita salah tingkah dan hendak melangkah kan kakinya tapi seseorang memanggil nya.
"HEYY, KAU TUNGGU!!!" teriak pria itu pada Gita.
"MATI AKU,"gumam Gita langsung melangkahkan kakinya lagi.
"HEYY!! ku bilang tunggu, heyy berhenti," kata pria itu lagi mengikuti langkah Gita.
"Saya bilang berhenti ... BERHENTI NONA!!" kata pria itu berhasil menarik tangan wanita itu dengan kasar hingga membuat wanita itu berbalik dan hampir terjatuh namun dengan sigap pria itu menangkap nya.
Mereka berpandangan dengan posisi tangan pria itu melingkar di pinggang ramping Gita dan tangan Gita melingkar di leher kokoh Dimas.
'Gadis yang cantik dan sexy,' batin Dimas memandang wajah Gita.
'Tampan, sangat tampan,' batin Gita yang juga memandangi wajah Dimas.
'Eit ... tunggu,' batin mereka bersamaan.
"KAU ..." ucap mereka bersamaan.
Lalu Dimas dan Gita sama-sama melepaskan tautan tangannya.
"AAUUWW!!" teriak Gita saat terjatuh di atas lantai itu.
"Itu balasan karena kau sudah melemparkan botol plastik sembarangan dan mengenai kepala ku" ucap Dimas hanya berkacak pinggang melihat Gita yang berteriak kesakitan.
"HEYY ... aku tidak melemparkan botol itu ..." kata Gita sambil beranjak dari tempatnya terjatuh.
"Benarkah?? Lalu kenapa kau tidak menghiraukan panggilan ku tadi dan seakan melarikan diri," jawab Dimas.
"Emm ... ee ..." Gita bingung dan tak tahu ingin menjawab apa.
"Tuh kan ... kaann ... udah ngaku aja, Nona," sahut Dimas kekeh.
"Aku memang tidak melemparkan botol itu, aku ... Aku hanya menendangnya dan siapa suruh kau lewat di depanku," kata Gita mengelak.
"Heii, Nona. Itu sama saja kau pelakunya. Jangan cuma mengelak, cepat minta maaf padaku," kata Dimas lagi sambil menatap lekat kearah mata Gita.
"Ohh no ... untuk apa aku minta maaf pada dokter gadungan seperti mu." Tolak Gita sambil membalas tatapan mata Dimas.
"Apa kau bilang!!" kata Dimas sedikit berteriak dan memajukan wajahnya menatap tajam mata gita.
"DOKTER GADUNGAN" kata Gita lagi dengan memajukan lagi wajahnya membalas tatapan mata Dimas dengan tak kalah tajam.
Mereka terus bertatapan lekat dengan jarak wajah yang begitu dekat hingga deru nafasnya pun sama-sama menerpa wajah mereka masing-masing.
"Ehem ... ehemm ... " Seorang perawat wanita berdehem dan menyadarkan mereka.
"Dokter, kita akan melakukan visit pada pasien yang bernama Azelia," kata perawat itu sopan lalu melirik kearah Gita.
"Ohh ... jadi kau dokter yang menangani zea?" kata Gita sambil melipat tangan di dadanya.
"Zea??" Dimas mengerutkan keningnya, mengingat nama itu yang sangat jelas di dengar nya tadi saat di dalam toilet.
"Maksud aku, Azelia. ahh sudahlah itu tidak penting bagiku," sahut Gita lalu pergi meninggalkan Dimas dan perawat itu.
"Heii TUNGGU ... KAU BELUM MEMINTA MAAF PADAKU!!" teriak Dimas pada Gita yang sudah menjauh dari pandangannya.
Gita terus melangkah kan kakinya sambil mengacungkan jari tengahnya.
"Gadis yang menarik," gumamnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Mari Dokter," kata perawat itu lalu melirik tajam kearah Gita yang hampir menghilang di balik tembok rumah sakit.
.
.
"Sayang ... bangunlah, kau sudah berjanji pada Momy akan selalu menemani Momy, tapi apa?? Kau malah tertidur pulas di ranjang ini, buka matamu, sayang," ucap Abel sambil menggenggam tangan zea.
"Mom, tenanglah. Kita hanya tinggal menunggunya tersadar dari komanya," kata Dev sambil mengusap punggung sang momy yang masih terisak.
Lalu terdengar suara pintu terbuka dan seorang perawat masuk bersama seorang dokter muda yang berjalan di belakangnya.
"Permisi ... Dokter akan memeriksa keadaan pasien terlebih dulu," kata perawat itu sopan.
"Iya, silahkan Dokter," ucap Abel berdiri dari tempatnya duduk.
Dimas pun memeriksa keadaan zea, Dev hanya menatap tajam pada gerak gerik Dimas yang sedang melakukan pemeriksaan pada calonnya itu dengan tangan yang dilipat di dadanya.
"Bagaimana kondisinya kini, Dokter?" tanya Adi.
"Iya, Dokter. Kenapa dia belum sadar juga?" tanya Abel.
"Untuk saat ini kondisinya sudah cukup stabil, tapi entah kenapa dia tak mau membuka matanya. Dia masih membutuhkan dukungan dari orang-orang yang menyayangi nya, kalian harus sering mengajaknya berbicara agar melatih sensor motorik di otaknya, dan harus ada yang memicunya agar dia segera bangun dari tidurnya," kata Dimas menjelaskan.
Lalu Dimas menatap pada Dev yang juga menatap kearahnya.
"Tuan Devandra, ada yang ingin ak bicarakan pada mu, ikut aku keruangan ku," kata Dimas lalu meninggalkan ruangan itu.
Dev menatap mata Adi seakan meminta izin pada calon mertuanya itu dan adi langsung mengangguk kan kepalanya pada calon menantunya.
Kini Dev sudah berada didalam ruangan dokter Dimas. "Apa yang ingin kau bicarakan dengan ku?" kata Dev to the poin.
"Oh God, santai saja Dev. Tidak perlu tegang begitu," jawab Dimas mencoba mencairkan suasana.
"Disaat tunangan ku sedang terbaring koma tak sadarkan diri, kau masih bisa menyuruhku untuk Santai??" kata Dev dan membalikkan badannya yang ingin keluar dari ruangan itu tapi Dimas menahannya.
"Tunggu, Dev. Ini penting dan menyangkut keselamatan calon istri mu," kata Dimas yang membuat Dev membalikkan tubuhnya.
"Apa maksud mu? Langsung katakan dan jangan bertele-tele," ucap Dev lalu duduk di kursi seberang meja Dimas yang berhadapan langsung dengannya.
"Kau benar-benar mencintai wanita itu, bukan?" kata Dimas serius.
"Oh my. Pertanyaan macam apa itu," jawab Dev menggelengkan kepalanya.
"Kau tinggal menjawabnya, Dev," sahut Dimas menatap tajam pada Dev.
"Tentu saja, aku sangat mencintainya bahkan melebihi hidupku," kata Dev begitu yakin.
"Kalau begitu cepat nikahi dia!" jawab Dimas tegas.
"Tentu. Aku akan menikahinya setelah dia tersadar dari komanya," sahut Dev sambil menyandarkan tubuhnya di kursi itu.
"Ck, itu terlalu lama Dev. Nikahi dia besok bahkan kalau bisa sekarang," kata Dimas serius.
"What ... Are you kidding me?" Ucap Dev heran.
"No I'm so serious, sebelum orang-orang itu bisa menyelinap ke kamar zea dan mencelakai nya," jawab Dimas.
" WHAT ... maksud kamu apa Dimas? Dan orang-orang yang mana yang akan mencelakai zea," sahut Dev terkejut.
"Tadi aku tidak sengaja mendengar seseorang berbicara di dalam toilet. Orang itu merencanakan sesuatu untuk mencelakai gadis yang bernama zea. awalnya aku tidak mengira bahwa yang mereka rencanakan itu untuk mencelakai tunangan mu karena yang aku tahu nama tunangan mu itu Azelia. dan mereka hanya menyebutkan nama Zea bukan Azelia," kata Dimas menjelaskan apa yang tadi dia dengar didalam ruangan toilet.
"Ya benar, zea adalah nama panggilan dari Azelia," sahut Dev.
"Kau tahu ciri-ciri orang itu Dimas?" tanya Dev dengan tatapan penuh selidik.
"Sayangnya aku tidak langsung melihat orangnya Dev, karena aku sedang berada didalam toilet dan orang itu berbicara di depan wastafel diruangan toilet itu. mungkin orang itu mengira tidak ada orang yang akan mendengar rencananya itu karena memang tidak ada orang selain aku didalam toilet," kata Dimas panjang lebar.
"Sebelum mereka mendekati zea ku, aku akan menghabisi mereka terlebih dahulu" ucap Dev geram.
"Ya, aku tahu kemampuan mu. Dan sepertinya orang itu berbicara dengan seseorang dari dalam teleponnya," lanjut Dimas.
"Lalu apa kau tahu orang itu pria atau wanita?" Sontak pertanyaannya itu langsung membuat Dimas meledakkan tawanya.
"wahahahahha ..."
" heii, apa yang membuat mu tertawa?" kata Dev heran.
Tapi bukannya menjawab, Dimas malah semakin mengeraskan suara tawanya.
Dev hanya menatap tajam pada Dimas yang terus menertawainya.
"ohh my, come on Dev. Aku dengan sangat jelas mengatakan bahwa aku sedang berada di dalam toilet dan kau masih menanyakan orang itu pria atau wanita? oh God, dimana otak mu Dev??" ejek Dimas sambil tertawa.
"heii, hentikan tawamu itu Dimas. Aku sedang pusing dan mendengar tawamu itu semakin membuat ku pusing," kata Dev sambil memijat batang hidungnya.
"Itu artinya orang itu pria"
"That's right," sahut Dimas menjentikkan jarinya di depan wajah Dev.
"Tapi siapa?" tanya Dev bingung.
Dan Dimas hanya menaikkan tangan serta bahunya tanda tidak tahu menahu.
"Pikirkan tentang itu nanti Dev, sekarang yang harus kau lakukan adalah membawa Zea ke tempat yang aman," kata Dimas.
"Ke tempat yang tidak bisa sembarang orang memasukinya dan tempat itu adalah mansion ku," sahut Dev menatap wajah Dimas yang menganggukkan kepalanya.
"Dan kau harus menikahinya terlebih dahulu untuk bisa membawanya ke mansion milik mu" jawab Dimas.