
Sementara itu. Tepat di perusahaan milik Irza, seorang wanita cantik Berjalan dengan anggun memasuki area lobby.
Dia ke meja resep dan tersenyum manis pada penjaga meja resepsionis.
" Selamat siang, Nona Leyra."
Sapanya pada wanita yang berdiri di seberang meja nya.
" Hmmm ... selamat siang, Nemi. Apa Irza ada di ruangan nya?" tanya Leyra dengan senyum cantiknya.
" Maaf, Nona. Sepertinya hari ini Tuan Irza tidak ke perusahaan," sahut Nemi.
" Benarkah? apa mungkin dia ke rumah sakit ya?" kata Leyra mengira-ngira dimana Irza berada.
" Hmmm ... mungkin saja, Nona."
" Baiklah, aku akan ke rumah sakit saja kalau begitu," sahut Leyra dan langsung melangkahkan kakinya keluar dari gedung itu.
.
.
" Cukup kak, aku sudah sangat kenyang."
Valerie tersenyum dan meletakkan piring itu ke meja.
Dia mengambil gelas yang berisi air putih dan menyodorkan nya ke mulut Lenski.
" Terimakasih, Kak."
Lenski kembali membaringkan tubuhnya setelah selesai meminum obatnya.
Irza yang duduk di sofa ruangan itu tampak tersenyum mengamati sikap Valerie yang terlihat sangat menyayangi adiknya.
' Mungkin dia akan menjadi ibu yang penyayang untuk anak-anak ku nanti,' batin Irza.
" Kau ingin kembali tidur?" tanya Valerie sambil membenarkan bantal Lenski.
" Hmmm ... obat itu langsung membuat mata ku terasa berat," sahut Lenski sambil memejamkan matanya.
" Tidurlah, kakak ingin ke kantin dulu untuk membeli sesuatu," sahut Valerie sambil membenarkan letak selimut Lenski dan mencium keningnya sebelum keluar dari sana.
Dia berbalik dan melihat kearah Irza.
" Kau tidak lapar?" tanya Valerie.
" Kau ingin makan siang?" sahut Irza balik bertanya.
" Ya. Aku sudah sangat lapar karena memang sejak pagi aku belum sempat makan," sahut Valerie dengan wajah lemas nya.
Mendengar hal itu membuat Irza langsung bangkit dari sofa dan menggandeng tangan Valerie keluar dari ruangan Lenski.
Irza menggandeng tangan Valerie dengan langkah lebar nya dan membuat wanita itu sedikit berlari untuk mengimbangi langkahnya dengan pria itu.
" Ir ... kita mau kemana? aku lapar dan kau mau membawaku kemana?" tanya Valerie.
Irza tak menjawab dan terus menggandeng tangan Valerie keluar dari rumah sakit itu.
Irza tampak menggandeng tangan Valerie menuju restoran dan membawa nya masuk.
Seseorang mengikuti nya dari belakang dan Irza tak menyadarinya hal itu.
Kini Irza sudah duduk di kursi bersama Valerie. Dan mereka langsung memesan makanan.
" Kau mau pesan apa?" tanya Irza.
" Terserah kau saja. Yang penting sesuatu yang layak untuk di makan dan yang pasti nya bisa membuat perut ku kenyang," sahut Valerie.
Irza tertawa pelan mendengar jawaban dari Valerie. Dan dia langsung memesan dua makanan yang sama beserta minuman nya.
Lalu matanya menangkap sosok wanita yang sangat dia kenal.
' Leyra? sedang apa dia disini?' batin Irza.
Matanya terus menatap kearah wanita yang seperti sedang membuntutinya hingga tatapan mereka bertumpu.
' Shiitt sepertinya dia mengetahui keberadaan ku,' batin Leyra.
Wanita itu lekas mengulas senyum cantiknya pada Irza. Dia melangkahkan kakinya menghampiri pria yang tengah duduk bersama seorang wanita.
" Haii ... aku mencari mu ke perusahaan dan rumah sakit, ternyata kau ada disini," kata Leyra saat sudah ada di hadapan Irza.
" Ya. Aku ingin makan siang, kau mau bergabung?" sahut Irza.
" Apa itu tidak keberatan?" tanya Leyra basa-basi. Sebenarnya dia sangat senang saat pria itu menawarkan nya untuk makan siang bersama nya dan itu artinya wanita yang sedang bersama Irza bukanlah siapa-siapa, pikir nya.
Valerie hanya menatap biasa saja dan sambil tersenyum pada Leyra yang mengambil posisi duduk di dekat Irza.
" Heii ... Siapa wanita ini, Ir?" tanya Leyra sambil menatap kearah Valerie.
Irza menatap kearah wanita cantik yang duduk di hadapannya.
" Perkenalkan ... Dia Valerie," kata Irza.
" Haii ... Senang bertemu dengan mu, Valerie. Namaku Leyra aku sahabat dekat Irza," kata Leyra dengan cerianya dan mengulurkan tangannya pada Valerie.
Valerie tersenyum pada Leyra dan menjabat tangan nya.
" Haii ... Leyra. Senang bertemu dengan mu," sahut Valerie.
Lalu Leyra melihat sebuah cincin yang melingkar di jari manis Valerie dan dia merasa senang karena ternyata wanita yang sempat dia curigai ternyata sudah bertunangan.
" Heii ... Kau sudah bertunangan?" tanya Leyra dan hanya di balas anggukan oleh Valerie.
" Waah ... selamat untuk mu, Val. Semoga kau selalu bahagia dengan pasangan mu," sahut Leyra.
" Kau tak mau memberi selamat pada ku juga?" kata Irza.
Leyra menatap heran pada Irza.
" Selamat? pada mu? untuk apa?" sahut Leyra terkekeh.
" Karena aku juga sudah bertunangan dan yang menjadi calon istri ku adalah wanita yang duduk di hadapan ku," kata Irza sambil menggenggam tangan Valerie dan menatap nya.