
~Kebahagiaan Valerie~
Kini Irza dan Valerie sudah ada di asrama tempat Lenski akan tinggal dalam waktu yang cukup lama.
Valerie mengantarkan adiknya itu sampai ke kamar nya karena dia juga ingin tahu kamar yang akan di tinggali oleh Lenski.
CEKLEK
Pengurus asrama membuka kan pintu kamar untuk Lenski. Mereka masuk dan Valerie tampak mengedarkan pandangannya di segala sudut di kamar yang berukuran cukup besar itu.
Disana ada tiga ranjang yang berukuran tak terlalu besar. Dan Valerie bisa menebak bahwa Lenski akan tinggal satu kamar dengan tiga orang teman nya.
Di kamar itu juga terdapat satu kamar mandi karena Valerie tak ingin jika Lenski terlambat ke sekolah hanya karena terlalu lama mengantri untuk mandi.
Jadi dia memilih kamar yang cukup lengkap bagi Lenski agar anak itu tak perlu mengantri di luar jika ingin mandi.
Valerie duduk di ranjang empuk yang akan di tempati Lenski.
" Kamar ini cukup nyaman, dan sudah ada kamar mandi di sini jadi kau tak perlu mengantri lagi, sayang," kata Valerie.
Lenski langsung meletakkan ransel nya di samping ranjang dan dia juga mengedarkan pandangannya ke segala sudut kamar itu.
" Seharusnya kakak tak perlu repot-repot memilih kamar ini untuk ku," sahut Lenski.
" Heii ... kau adikku dan aku ingin kau tinggal di tempat yang nyaman dan fasilitas nya lengkap. Jadi kau hanya perlu menurut dan belajar yang benar," kata Valerie.
" Ya ya ya. Ini sudah hampir jam 7, kak. Aku akan masuk ke kelas ku sebelum aku terlambat," kata Lenski mengambil tas sekolah nya yang memang sudah di siapkan oleh nya.
" Hmmm ... Belajar yang rajin, aku pasti akan sangat merindukan mu," kata Valerie menangkup wajah Lenski dan mencium seluruh wajah nya.
" Kakak!!! Aku bukan anak manja. Bye!"
Lenski langsung mencium pipi Valerie dan juga berpamitan pada Irza lalu keluar dari kamar itu.
Valerie tersenyum melihat kepergian Lenski dengan air mata yang menetes di sudut matanya. Irza melihat kearah sang istri yang tampak galau karena akan terpisah dari sang Adik.
Lalu dia menghampiri wanita itu dan memeluk nya.
" Dia akan baik-baik saja. Dan percayalah dia akan tumbuh jadi pria yang mandiri dan sukses," kata Irza sambil mengusap punggung Valerie namun ternyata wanita itu malah semakin menangis di pelukan sang suami.
" Oh my. Honey ... sudahlah. Kita pulang sekarang, Oke?"
Valerie menganggukkan kepalanya sambil menghapus air matanya. Lalu mereka keluar dan pergi dari asrama itu.
.
.
Satu Minggu berlalu.
Irza kembali di sibukkan dengan perusahaan nya. Bahkan pria itu sedang berada di luar negeri untuk urusan perusahaan.
Irza sangat jarang menghubungi nya dan meskipun pria itu menghubungi nya, Valerie jarang mengangkat telepon nya karena perbedaan waktu yang sangat jauh.
Valerie terkadang merasa sangat kesal karena Irza sangat sibuk dan bahkan tak sempat membalas pesan dari nya. Meskipun di balas itu pasti saat Valerie sudah tertidur pulas hingga komunikasi antara mereka pun berjalan tidak lancar.
Ke esokan harinya.
Valerie terbangun karena rasa mual di perut nya. Dia beranjak dari ranjang dan berlari kearah kamar mandi.
Setelah ada di kamar mandi dia langsung memuntahkan semua isi dari perutnya di closed. Hingga wajahnya memerah dan keringat membasahi wajah nya.
Setelah dirasa sudah selesai memuntahkan semua isi perutnya. Dia beranjak berdiri dan memilih untuk membersihkan wajah nya.
Lalu dia mengambil sesuatu yang sudah di belinya kemarin. Dia ingin memakai alat tersebut karena dia curiga apakah dia hamil atau tidak.
Beberapa menit kemudian. Valerie tampak mengambil alat testpack itu namun matanya masih terpejam.
Wanita itu menarik nafas nya dalam - dalam dan menghembuskan nya secara perlahan. Lalu dia membuka matanya.
Dia begitu terkejut saat melihat hasil testpack yang menunjukkan dua garis. Air matanya menetes dan dia menutup mulutnya.
Valerie sampai terduduk di lantai kamar mandi yang dingin sambil terus menatap kearah benda kecil itu.
Lalu dia meletakkan hasil tes itu di meja marmer dan dia langsung membersihkan tubuhnya karena dia ingin segera melakukan pemeriksaan pada dokter untuk kembali memastikan kehamilan nya.
15 menit kemudian. Valerie keluar dari kamar mandi dalam keadaan segar dan senyum yang mengembang di bibirnya. Dia melihat kearah ponsel yang tergeletak di ranjang dan dia mengambilnya.
Wanita itu berusaha untuk menghubungi sang suami untuk memberitahu kabar bahagia ini. Namun sayangnya panggilan nya tak di angkat oleh Irza.
Valerie melempar kan ponselnya ke ranjang karena moodnya kembali rusak karena Irza yang tak pernah mengangkat panggilan darinya.
Lalu dia memakai bajunya dan merias tipis wajahnya. Setelah itu dia keluar dari kamarnya dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
" Bibik ... dimana Momy?" tanya Valerie saat ada di ruangan makan.
" Nyonya sudah keluar pagi-pagi tadi setelah mendapatkan telepon dari seseorang, Nona!"
" Hmmm ... baiklah," sahut Valerie dan langsung menyantap makanannya.
.
.
Kini Valerie sudah ada di ruangan dokter kandungan. Dia sudah di periksa dan kandungan nya masih berusia 6 Minggu.
Dokter juga mengatakan bahwa kandungan nya baik-baik saja dan sehat. Bahkan dokter juga mengatakan bahwa Valerie sedang mengandung bayi kembar.
Valerie merasa sangat bahagia dan dia ingin menjaganya kehamilan nya itu. Dokter juga menyarankan agar Valerie tidak stres dan dia juga memberikan vitamin dan obat untuk mengurangi rasa mual nya.