
Dimas tiba di mansionya. Pria itu bergegas naik ke lantai dua dimana kamar nya berada.
CEKLEK
Dia membuka perlahan pintu kamarnya, lalu masuk kedalam nya. Dia melihat kearah ranjang yang sudah kosong, itu berarti Gita sudah terbangun dari tidurnya.
CEKLEK
Gita keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bath rub nya.
" Dari mana kau?" tanya Gita dengan posisi tangan yang bersedekap di depan dadanya.
" Aku dari ruang kerja, Honey. Aku sudah bilang padamu tadi, kan?" sahut Dimas sambil menghampiri sang istri.
Gita menatap tajam kearah sang suami.
" Kau sedang tak berbohong?" kata Gita dengan penuh selidik.
" Emm ... Tidak," sahut Dimas tapi kepalanya mengangguk.
Gita menyipit kan matanya melihat tingkah Dimas yang aneh seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
" Kau berbohong," sahut Gita.
Wanita itu berjalan kearah walkin closet dan melewati pria yang tengah menatap kearah nya.
Dimas tak menjawab. Pria itu hanya mengikuti langkah Gita dan menatap sang istri yang tengah berganti baju.
" Kau mau berkata jujur atau mau aku menyelidiki sendiri hal ini?" ucap Gita tanpa menoleh pada sang suami yang tengah menatapnya.
" Huuffft ... Aku baru menemui seseorang di luar, Honey," kata Dimas jujur.
" Siapa? Seorang wanita? Ada urusan apa?" tanya Gita bertubi-tubi.
Dimas tertawa mendengar pertanyaan dari sang istri yang mencecarnya. Lalu dia menghampiri sang istri dan memeluk nya dari belakang.
" Aku menemui tante-tante yang sudah bersuami di cafe xx. Wanita itu sedang kesepian karena suaminya tertidur dan aku juga kesepian karena istriku tertidur pulas," kata Dimas jujur.
BUG
Gita langsung memukul perut Dimas dengan menggunakan sikutnya hingga pria itu meringis kesakitan.
" Itu hukuman untuk mu. Menyebalkan!!" tegas Gita lalu meninggalkan pria yang masih memegang perutnya.
" Honey ... aku bisa menjelaskan semuanya. ini tak seperti yang kau pikirkan," kata Dimas tapi masih dengan tawanya.
" Aku tidak butuh penjelasan mu," sahut Gita yang kini duduk di meja riasnya.
" Kau akan tahu ketika semua nya sudah siap," ucap Dimas lalu masuk kedalam kamar mandi nya.
Gita terpaku mendengar perkataan Dimas.
' Apa dia sedang merencanakan kejutan untuk ku?' batin Gita senyum-senyum sendiri.
" Aah ... jangan mudah percaya pada nya, Gita." Gita bermonolog.
.
.
Kini Zea tengah berada didalam kamar nya. Wanita itu tampak sedang berpikir sambil menatap langit malam yang bertaburkan bintang.
Dev datang dengan tiba-tiba memeluk tubuh sang istri dari belakang.
" Oh my. Kau mengagetkan ku, Dev!!" tegas Zea.
Cup
Dev mengecup tengkuk leher sang istri. Lalu mendarat kan dagunya di bahu Zea.
" Apa yang kau pikirkan?" tanya Dev.
" Entahlah. Aku hanya merindukan Momy," sahut Zea yang tiba-tiba menetes kan air matanya.
Dev melihat air mata yang menetes di pipi sang istri. Dia langsung membalik tubuh sang istri agar menghadap kearahnya.
Pria itu menangkup wajah Zea dan mengusap air mata yang jatuh di pipinya.
" Are you Ok?" tanya Dev.
Zea tak menjawab. Wanita itu memeluk tubuh sang suami dan menangis dalam pelukan itu.
" Oh my. Sepertinya kau dalam mode cengeng, Beby," ucap Dev sambil mengusap punggung sang istri.
" Katakan ada apa? kau menangis seolah aku sudah menyakiti hati mu, apa aku punya salah? katakan saja pada ku," kata Dev.
Wanita itu tak menjawab dan terus menangis.
' Kenapa aku menangis ya?' batin Zea bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
" Ada apa? katakan padaku," ucap Dev.
" Tidak. Aku sendiri bahkan tak mengerti kenapa aku bisa menangis," sahut Zea jujur.
" Oh my. Kau membuat ku khawatir, Beby."
Pria itu mencubit gemas hidung mancung Zea.
"Tapi sungguh. Kenapa aku menangis ya? Apa yang membuat ku menangis? Kenapa aku jadi cengeng?" kata Zea bertubi-tubi.
Dev yang merasa gemas dengan sang istri langsung membopong tubuh Zea layak nya sebuah karung.
Wanita itu tetap bertanya-tanya kenapa dia menangis.
Dev membawa tubuh Zea ke ruang makan yang kini sudah ada makanan yang tertata rapi di atas meja.
Dia menurunkan tubuh Zea dan mendudukkan nya di kursi yang ada di sebelah nya.
" Waahh ... makanan ini terlihat begitu lezat," ucap Zea yang seperti sedang melihat se bongkah berlian menatap makanan itu.
Wanita itu langsung mengambil makanan dan langsung melahap nya.
Dev melihat Zea yang tampak sangat lahap menyantap makanannya. Dia hanya tersenyum melihatnya.
Namun ketika Zea tak henti-henti menyantap makanan yang tersaji, Dev mulai berpikir ada apa dengan sang istri.
Pasalnya. Wanita itu hampir menghabiskan seluruh makanan yang tersedia di meja itu sendiri.
" Beby ... kau seperti tak makan beberapa hari," kata Dev.
" Kenapa? kau takut aku gemuk dan jelek? Lalu kau akan meninggalkan ku setelah aku terlihat jelek, begitu?" kata Zea yang langsung menghentikan kegiatan makan nya dan langsung beranjak dari kursi.
" Apa aku salah bicara?" gumam Dev.
Lalu menyusul sang istri yang tengah merajuk entah karena apa.
.
.
3 hari berlalu.
Zea terbangun di pagi hari nya karena merasa mual di perut nya. Dia langsung beranjak dari ranjang dan berlari kearah kamar mandi.
Dev terbangun karena mendengar suara Zea sedang muntah-muntah di dalam kamar mandi.
" Beby ..." panggil Dev sambil beranjak dari ranjang nya.
" Oh my. Beby apa kau sakit?" ucap Dev terkejut saat melihat Zea yang terduduk di lantai kamar mandi dengan bersandar ke dinding.
Dia mendekati Zea. Namun Zea kembali memuntahkan semua isi perutnya yang sudah kosong.
Dev dengan telaten memijat tengkuk leher Zea. Setelah dirasa sudah selesai, Dev mendudukkan Zea ke meja marmer yang ada depan cermin.
Pria itu membersihkan wajah Zea dengan kain yang basah.
" Kau sudah merasa lebih baik?" tanya Dev sambil mengusap lembut pipi Zea.
Zea hanya menganggukkan kepalanya. Lalu Dev menggendong sang istri keluar dari kamar mandi.
Dia membaringkan tubuh Zea ke atas ranjang dengan perlahan.
" Aku ingin coklat hangat," ucap Zea lirih.
" Baiklah. Aku akan membuat kan nya untuk mu," kata Dev mengecup kening Zea dan menutupi tubuh Zea dengan selimut.
Lalu dia pergi keluar dari kamar nya.
Setelah beberapa menit. Dev masuk kedalam kamar nya dengan membawa kan coklat hangat dan juga sarapan untuk dirinya dan juga Zea.
Dev membawa nya sendiri dan tak menyuruh pelayan karena dia ingin melayani istri nya itu sendiri.
" Beby ... bangunlah. Kita sarapan bersama," ucap Dev.
Zea langsung bangun. Matanya langsung berbinar saat melihat coklat hangat dan juga roti panggang yang di olesi coklat.
Dia langsung memakannya dengan lahap dan langsung menghabiskan coklat hangat nya.
Dev melihat sang istri yang sedang makan dengan lahap. Dan dia cukup lega melihat nya.
" Kita ke dokter setelah ini," ucap Dev.
" Tidak. Aku sudah baik-baik saja," sahut Zea yang kini sedang memakan buahnya.
" Kau harus ke rumah sakit. Aku tidak mau melihat mu muntah-muntah seperti tadi lagi, Beby," kata Dev.
" Baiklah terserah kau saja," sahu Zea.