My Lovely Girl

My Lovely Girl
Bab 55



Zea tak melihat keributan di tempat acara pesta yang berlangsung, dia masih penasaran apa yang sebenarnya terjadi lalu mengambil ponselnya.


Zea menelpon Dimas, panggilan pertama tidak di jawab. Panggilan ke 2 pun juga tak di jawab sampai beberapa kali dia menghubungi nya tapi tak kunjung ada jawaban.


" Shiitt, pasti mereka sedang asik bercinta," kata Zea melempar ponselnya ke ranjang, lalu keluar dari kamar itu.


.


" Aahh ...," ******* mereka bersahutan di dalam kamar mandi.


Untuk sekian kalinya, pasangan pengantin baru itu merajut cinta.


Dimas memegang erat pinggang ramping Gita sambil terus bergerak maju mundur di belakang wanita seksi itu.


" Aahh ... sepertinya aku menyukai posisi ini," kata Gita dengan desahannya.


" Hmm ... I love you, Honey," kata Dimas menciumi punggung mulus sang istri yang sedang bersandar ke meja marmer di depannya.


" Your so beautiful," kata Dimas melihat pantulan wajah Gita di cermin sambil terus menggerakkan pinggulnya.


" Faster ... Honey," kata Gita yang akan mendapat puncaknya.


Lalu Dimas mempercepat gerakannya dan mengakhiri percintaan panas itu dengan menumpahkan seluruh benihnya di dalam rahim sang istri.


" I love you," kata Dimas memeluk sang istri.


" I love you to," sahut Gita.


Lalu menyalakan Air shower dan membersihkan tubuhnya bersama.


Tok tok tok


Terdengar suara pintu kamar mereka di ketuk.


" Aku akan membukanya," kata Dimas sambil memakai bath rob nya, lalu keluar dari kamar mandi.


CEKLEK


Pintu di buka dan terlihat Zea yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya dengan ekspresi yang terlihat khawatir.


" Ada apa, Ze?" kata Dimas.


" Aku menelpon mu tapi kau tak mengangkat telepon ku, jadi aku kemari," kata Zea sambil menggigit kuku jarinya.


" Maaf, aku sedang di kamar mandi tadi, Ada apa, Ze? kenapa kau terlihat khawatir?" tanya Dimas.


Lalu Gita keluar dengan juga mengenakan bath rob nya.


Zea mengerutkan keningnya melihat kearah Gita.


" Apa ada yang salah dariku?" kata Gita melihat tatapan dari Zea.


Zea mengembuskan napasnya dengan kasar.


" Sepertinya aku tahu apa yang sedang kalian lakukan di kamar mandi," kata Zea sambil meletakkan kedua tangannya di dadanya.


Gita dan Dimas tertawa mendengar perkataan dari Zea.


" Kita masih pengantin baru, Ze," kata Dimas sambil merengkuh pinggang Gita.


" Ck, lanjutkan kegiatan kalian setelah ini. Karena aku ingin menanyakan sesuatu pada mu, Dimas," kata Zea mulai serius.


" Hmm, katakan." Dimas melepaskan pelukannya pada Gita.


" Kau tahu kemana Dev pergi?" tanya Zea.


Gita dan Dimas saling memandang lalu tertawa mendengar pertanyaan dari Zea.


" Come on, Ze. Dia suami mu, kenapa kau malah menanyakan Dev pada suami ku? Kau pikir suami ku menyembunyikan suami mu?" kata Gita sambil tertawa.


" Ck, bisakah kalian serius? Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di luar, karena Dev tiba-tiba pergi setelah menerima telepon dari seseorang," kata Zea menjelaskan.


" Kenapa kau tak menghubungi Jack? dia pasti tahu dimana suami mu," kata Dimas.


" Dia tidak mengangkat teleponnya, dan aku yakin pasti sedang terjadi sesuatu," kata Zea.


" Aku akan mencari tahu," kata Dimas lalu masuk kedalam untuk mengganti bajunya.


Setelah itu dia keluar dengan sudah berpakaian lengkap.


" Kalian tunggu disini, dan jangan kemana-mana," kata Dimas.


Lalu mencium kening Gita dan pergi dari hadapan Gita dan Zea.


" Kenapa perasaan ku tidak enak," kata Gita melihat kepergian Dimas.


" Ayo masuk," kata Zea menarik tangan Gita masuk kedalam kamar Gita.


" Heii, ini kamar ku. Seharusnya aku yang mengajak mu masuk," kata Gita.


.


.


" Shiitt, sepertinya memang terjadi sesuatu," kata Dimas mulai khawatir.


Lalu dia membuka pesan yang masuk.


" SHIITT!!" umpatnya dengan keras sambil memukul dinding lift yang dingin itu.


Dia melihat gambar Dev dan anak buahnya yang sedang bertarung yang dikirim oleh anak buahnya.


Ting ...


Pintu lift terbuka, Dimas langsung bergegas keluar dari dalam lift dan berlari kearah tempat berlangsungnya perkelahian itu.


Dia tiba saat Dev dan anak buahnya sudah melumpuhkan orang - orang yang berpakaian serba hitam itu.


" Dev ... apa yang terjadi?" kata Dimas.


Dev menoleh pada Dimas sambil tersenyum smirk.


" Kau terlambat, Tuan," Kat Dev dengan nafas yang ngos-ngosan karena habis berkelahi.


" Sorry," kata Dimas.


Lalu Dev menghampiri salah satu pria yang terlihat sebagai pimpinan dari kelompok itu.


Dia mengeluarkan pistol nya yang sedari tadi memang sengaja tidak dia gunakan karena takut mengganggu acara yang masih berlangsung.


" Siapa yang menyuruh mu untuk menyerang pernikanan ini?" kata Dev menyodorkan pistolnya kearah kepala pria itu.


Pria itu tampak ketakutan, tapi dia juga tidak ingin mengatakan siapa bos besarnya.


" CEPAT KATAKAN!!" bentak Dev.


" Aku ... aku tak bisa mengatakan nya," kata pria itu gugup.


" Maka bersiaplah untuk mati," kata Dev dengan nada dinginnya sambil bersiap untuk menembakkan pelurunya.


" AKU YANG MENYURUH NYA!!" teriak seseorang yang baru keluar dari mobil mewah nya.


Pria paruh baya itu berjalan dengan dua body guard di belakangnya.


Dev dan Dimas menoleh pada pria itu.


" Daddy ...," kata Dimas terkejut.


" Uncle ...," kata Dev yang sudah mengenal Yosi.


Yosi terus berjalan menghampiri Dev dan Dimas yang terdiam di tempat nya.


" Hallo ... Dev, senang bertemu dengan mu lagi," kata Yosi berhenti tepat di hadapan Dimas tapi menatap kearah Dev.


" Kenapa Uncle merencanakan semua ini? apa aku punya salah pada Uncle, hingga Uncle ingin merusak acara pesta pernikahan ku?" kata Dev sambil mengerutkan keningnya menatap kearah Yosi.


Yosi mengerutkan keningnya mendengar perkataan Dev, lalu menatap tajam kearah pria yang sedang di sandra oleh Dev.


" Maaf bos, aku kira ini hanya pernikahan Dimas. Tapi ternyata juga acara pesta dari Dev," kata pria itu.


" Benar begitu, Dev?" tanya Yosi menatap kearah Dev.


Dev tak langsung menjawab dan menatap kearah Dimas.


' Pasti ada sesuatu yang terjadi antara Dimas dan Uncle Yosi,' batin Dev.


" Iya, Uncle. Ini pesta pernikahan ku, dan juga pernikahan Dimas. Karena wanita yang di nikahi Dimas adalah saudari dari istri ku," kata Dev memperjelas.


" Tepatnya saudara tiri, betul begitu, Dimas?" kata Yosi menatap sinis pada putrinya itu.


" Lepaskan anak buah ku, Dev. Dan aku meminta maaf padamu karena sepertinya aku salah sangka," kata Yosi.


Dev menatap pada Dimas, dan Dimas menganggukkan kepalanya.


" Jack ...," panggil Dev.


" Baik boss," sahut Jack sudah mengerti.


" Lepaskan mereka!!" tegas Jack pada anak buahnya.


" Terimakasih, Dev. Sekali lagi, maaf mengganggu pesta mu," kata Yosi lalu berbalik ingin pergi dari tempat itu.


" Tunggu, Uncle. aku mengundang mu untuk masuk kedalam dan makan malam bersama," kata Dev.


Yosi tak langsung menjawab dan hanya menatap tajam pada Dimas.