
Ardo menggenggam tangan Valerie dan menatap nya.
" Maaf ... Uncle terlalu fokus dengan kasus kecelakaan ayah mu. Hingga uncle melupakan tentang mu dan berujung dengan tak dapat menemukan keberadaan mu," ucap Ardo lirih.
Valerie tampak menetes kan air matanya. Tangannya bergerak dan menggenggam tangan Ardo.
" Tidak apa, Uncle. Yang penting saat ini aku dan adikku baik-baik saja," sahut Valerie.
" Ada titipan dari kedua orang tua mu."
Ardo menatap kearah Irza.
" Ir ... Bisa kau hubungi asisten daddy?"
Irza lekas menganggukkan kepalanya dan langsung mengambil ponselnya di saku celananya.
Panggilan pun tersambung dan Irza mengaktifkan loud speaker nya.
" Hallo, Irza. Ada apa, nak?" kata Nik.
" Hallo, Nik. Ini aku."
" T-tuan Ardo?" sahut Nik terkejut saat mendengar suara parau sang Bos.
" Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Nik lagi.
" Ya. Bisa kau antar kan Map yang berwarna biru ke rumah sakit? aku membutuhkan dokumen itu saat ini, Nik."
Nik tak langsung menjawab. Dia seolah berpikir tentang kasus Kinos dan Willie 8 tahun yang lalu.
" Nik ... Kau mendengar ku?" tanya Ardo saat tak mendengar suara Nik dari seberang telepon.
" Iya, Tuan. Aku akan segera kesana dan membawakan dokumen itu," sahut Nik.
" Hmmm ... Aku tunggu disini."
" Baik, Tuan!"
Panggilan pun terputus. Nik tak langsung beranjak dari tempat nya berdiri.
Dia seolah memikirkan sesuatu.
" Apa Tuan sudah bertemu dengan anak-anak itu?" gumam Nik.
" Sebaiknya aku harus bergegas."
Nik langsung keluar dari ruangan nya, dia bergegas menuju ruangan Ardo yang masih terkunci rapat karena kini Tuan nya tak pernah mengunjungi perusahaan itu karena kesehatan nya.
Nik memang sengaja mengunci ruangan itu karena banyak barang-barang berharga milik Tuan nya disana.
Irza sangat jarang mengunjungi perusahaan pusat karena dia sedang sibuk dengan perusahaan yang lain.
Jadi Ardo memasrahkan perusahaan itu pada Nik. Asisten kepercayaan nya sejak dulu hingga sekarang.
.
.
" Ya. Ini amanah dari kedua orang tuamu," sahut Ardo.
" Tapi sebelum itu, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Khususnya pada kalian berdua," lanjut Ardo sambil menatap kearah Valerie dan Irza secara bersamaan.
Tampak dua insan itu saling menatap heran. Apakah gerangan yang ingin di tanyakan oleh Ardo, pikir nya.
" Hmmm ... katakan saja, Dad. Apa yang ingin daddy tanya kan?" sahut Irza.
" Apa kalian benar-benar akan menikah?"
DEG
Valerie tertegun saat kembali mendengar kata-kata pernikahan. Wanita itu menatap kearah Irza yang juga menatapnya.
" Jika kalian hanya terpaksa menikah karena permintaan konyol ku, maka urung kan niat kalian. Karena pernikahan bukanlah sebuah permainan," lanjut Ardo.
Tangan Irza menggenggam tangan Valeria dan kembali menatap nya.
" Aku yakin dan keputusan ku sudah bulat, Dad. Aku ingin menikahi Valerie!"
Deg
Lagi-lagi Valerie di buat terpaku oleh penuturan Irza. Ternyata pria itu tak main-main dengan ucapan nya.
' Dia seserius ini ingin menikahi ku?' batin Valerie.
" Bagaimana denganmu, Valerie?" tanya Ardo yang kini pandangan nya tertuju pada gadis berparas cantik itu.
Valerie terdiam. Dia tak langsung menjawab dan tampak berpikir.
' Dia pria yang baik dan dari keluarga yang baik, Val. Lalu apa yang kau inginkan lagi?' batin Valerie masih terdiam.
" Jika kau keberatan, maka pernikahan itu tak akan pernah terjadi. Kau berhak bahagia dengan menikah bersama pria yang kau cintai," kata Ardo.
Valerie masih terdiam. Dia tak berani menjawab karena dia memang belum mencintai pria itu.
Irza melihat kearah Valerie yang menundukkan kepalanya. Lalu dia melepaskan genggaman tangannya dari wanita itu hingga membuat Valerie mengangkat pandangannya.
" Aku tarik ucapan ku tadi. Kau tak menginginkan pernikahan ini, jadi anggap saja aku tak pernah melamar mu!"
Irza pergi dari ruangan itu meninggalkan Valerie disana.
Semua menatap heran kearah Irza yang tampak kecewa. Padahal Valerie belum menjawab pertanyaan Ardo.
Dan belum tentu wanita itu akan menolaknya. Tapi Irza menduga jika Valerie tak akan menerima lamarannya karena wanita itu ke lamaan berpikir.