My Lovely Girl

My Lovely Girl
Bab 20



Setelah Adi beserta keluarganya sudah menyelesaikan kegiatan makan paginya, Adi Langsung bergegas ingin melihat keadaan putrinya di rumah sakit.


"Tunggu mas," panggil Lisa menghentikan langkah kaki Adi yang ingin masuk kedalam mobilnya.


"Ada apa, Lisa?" tanya Adi menoleh pada istrinya.


"Apa kau ingin ke rumah sakit?" tanya Lisa pelan.


Adi hanya mengangguk kan kepalanya Sambil melihat heran pada sikap Lisa.


"Apa aku boleh ikut, Mas?" tanya Lisa dengan menundukkan wajahnya.


Adi mengerutkan keningnya dan mengangkat dagu sang istri agar bisa menatapnya.


"Katakan sekali lagi," ucap Adi dingin.


"Aku ingin melihat keadaan nya, apa boleh aku ikut??" tanya Lisa sekali lagi dengan menatap lekat mata Adi.


Adi hanya membalasnya dengan anggukan kepala dan tersenyum.


"Tunggu sebentar Mas, aku ingin mengambil tas ku dulu," kata Lisa lalu bergegas masuk kedalam mansion.


Gita yang berada di ruang tengah melihat heran pada Momy nya yang terlihat sangat terburu-buru masuk kedalam kamarnya dan bergegas keluar dari kamarnya.


"Mom, ada apa? Kenapa momy terlihat terburu-buru sekali," tanya Gita penasaran.


"Momy akan ikut papah ke rumah sakit, apa kau mau ikut?" kata Lisa menghampiri Gita.


"Tidak, untuk apa ke rumah sakit, Mom? Lebih baik kita shopping, sebelum aku kembali untuk meneruskan kuliah ku," bujuk Gita pada sang Momy.


"Saudarimu sedang koma di rumah sakit, bukannya pergi menjenguknya kau malah ingin shopping!!" bentak Lisa pada Gita, entah kenapa dia tidak suka dengan sikap Gita saat ini yang menurutnya keterlaluan dan tak punya rasa empati.


"Dia bukan saudariku, Mom. Dan sejak kapan Momy peduli padanya?" tanya Gita sinis.


"Ck, Momy hanya berempati pada nya Gita. Ah ... sudahlah, Momy tidak ingin berdebat dengan mu," sahut Lisa ketus lalu pergi meninggalkan putrinya yang masih terpaku di ruangan itu.


Gita menatap heran dengan sikap Momynya yang tiba-tiba peduli dengan saudara tirinya.


Dia terus menatap punggung Lisa yang perlahan menjauh dan menghilang di balik pintu.


"Ini aneh, kenapa momy bersikap seolah perduli dengan keadaan anak tirinya itu," lirihnya sambil melipat kedua tangannya didada.


.


.


Dev yang baru keluar dari kamar mandi rumah sakit tampak berjalan menuju kamar dimana zea dipindahkan dari ruangan ICU ke ruang perawatan VVIP di rumah sakit itu.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, pria itu menghentikan langkahnya sambil melihat layar ponselnya.


"Hallo mom"


"Dev, dirumah sakit mana zea dirawat? Momy akan segera kesana bersama supir," kata Abel di seberang telepon.


"Aku akan menjemputmu, Mom," sahut Dev sambil melanjutkan langkahnya menuju kamar perawatan zea.


"Tidak perlu, Dev. Momy sudah dalam perjalanan, cepat katakan dirumah sakit mana menantu Momy di rawat?" tanya Abel lagi.


"Di rumah sakit sentosa," jawab Dev.


"Oke, Momy akan segera kesana," sahut Abel lalu menutup sambungan teleponnya.


"Kita ke rumah sakit sentosa." Perintah Abel pada supirnya.


"Baik nyonya," jawab supir itu.


.


.


Dev kini sudah berada didalam ruang perawatan zea.


Pria itu duduk di kursi yang ada disamping ranjang sambil menggenggam tangan sang calon istri yang masih belum sadarkan diri.


"Beby ... sejak kemarin kau belum membuka matamu. Apa kau tidak bosan terus berbaring di ranjang ini? Apa kau tidak merindukan calon suami mu yang tampan ini? Aku sangat merindukan mu, Beby. Aku ingin sekali menggoda mu dengan perkataan messum ku? Aku rindu kau yang selalu memanggilku dengan sebutan pria messum," kata Dev mengungkapkan kerinduannya sambil mengusap pipi zea.


" Cepatlah sadar Beby, agar aku bisa secepatnya menikahi mu. Hati ku sakit melihat mu terbaring di ranjang rumah sakit seperti ini, aku seperti pria yang tidak becus menjaga wanitanya. Wanita yang sangat ku cintai, hehh ... entah sejak kapan aku mencintaimu Zea, tapi rasa itu tumbuh begitu saja meskipun pertemuan kita yang terbilang sangat singkat," kata Dev mencurahkan segala perasaannya dan mencium punggung tangan Zea bertubi-tubi.


Tanpa dia sadari ada seseorang yang tidak sengaja mendengar perkataannya.


'Secinta itu Dev pada wanita itu,' batin Dimas lalu menjauh dari pintu itu.


Ya, Dimas yang ingin melakukan pemeriksaan pada zea terhenti ketika mendengar seorang Devandra yang begitu lembut mengungkapkan isi hatinya pada tunangannya yang terbaring koma.


Dan memutuskan untuk tidak menggangu momen langka itu.


.


.


Lalu terdengar bunyi pintu yang dibuka dengan lumayan keras, otomatis Dev menoleh kearah pintu dan terlihat Adi masuk dengan istrinya Lisa.


"Apa zea sudah sadar, Dev?" tanya Adi langsung.


Dan Dev hanya menggelengkan kepalanya kepada Adi dan beranjak dari kursi itu agar adi bisa duduk di sana.


"Duduklah Uncle, aku akan keluar dulu."


"Terimakasih, Dev," kata Adi lalu duduk di kursi yang tadi di tempati Dev.


Dev menundukkan kepalanya tanda hormat pada Lisa dan pergi dari ruangan itu.


'Dia memang pria yang baik dan sopan,' batin Lisa melihat kepergian Dev.


"Honey ... Bangunlah. Apa kau tidak merindukan papah?" kata Adi pelan sambil mengusap punggung tangan putrinya.


Lisa hanya merangkul bahu sang suami yang sangat butuh support darinya untuk saat ini.


Dia kembali melihat wajah murung sang suami yang dilihatnya tadi malam. Dan Lisa begitu tidak tega melihat Adi yang begitu lemah dan tak berdaya melihat putrinya yang terbaring koma.


"Bagaimana aku bisa mengatakan hal ini pada Daniel nantinya, Lisa?" kata Adi lesu.


"Aku yang akan mengatakannya mas" jawab Lisa.


"Tidak perlu, kalau dia bertanya baru kita kasih tahu, apa yang terjadi pada kakaknya," jawab Adi menatap wajah putrinya yang tampak Pucat.


.


.


Kini Dev berada di loby rumah sakit untuk menunggu kedatangan Momynya.


"Dev ...." Pria itu menoleh saat ada yang memanggilnya.


Dev mengerutkan keningnya melihat wanita yang sedang berjalan menghampiri nya.


"Bukan urusanmu," jawab Dev singkat lalu menghampiri mobil yang tampak di kenalnya.


"Dev tunggu!!" teriak Gita lalu menyusul pria tampan di depannya.


Pria itu terus berjalan menghampiri mobil yang dia yakini adalah mobil sang Momy dan tidak menghiraukan panggilan dari Gita yang terus mengikuti nya.


"Sial, sombong sekali dia tidak menghiraukan panggilan ku," gumam Gita yang kini sudah berhenti mengikuti Dev dan hanya memandang pria itu dari jauh.


Dev membukakan pintu mobil itu dan terlihat seorang wanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik di usia nya yang tak lagi muda, keluar dari mobil itu sambil mengulurkan tangannya pada pria tampan yang sudah menyambutnya.


"Dev, kenapa kau meninggalkan ruangan zea?" tanya Abel.


"Di dalam sudah ada uncle Adi dan istrinya, Mom," jawab Dev sambil mencium punggung tangan sang Momy.


"Kau sudah sarapan, Son?" tanya Abel lalu menggandeng tangan Dev.


"Belum, Mom. Maukah momy menemani ku makan?" ajak Dev sambil berjalan masuk ke dalam rumah sakit.


"Of course, son. Momy sudah membawakan makanan kesukaan mu," jawab Abel menunjukkan paper bag yang dia bawa.


"Dan momy juga membawakan mu baju ganti," kata Abel lagi.


" I love you Mom, kau memang Momy terbaik sedunia," goda Dev sambil mencium pipi Momy tercinta nya.


"Iish ... kau ini, ini di rumah sakit, Dev. Jangan menggoda Momy," sahut Abel memukul pelan pipi sang putra.


Dev hanya tertawa kecil melihat sang Momy yang tampak malu karena di cium putranya sendiri di tempat umum.


Setelah itu ibu dan anak itu menikmati makan pagi nya bersama di kantin rumah sakit.


.


.


"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya seseorang pegawai rumah sakit yang menjaga meja resepsionis dengan sangat sopan.


"Katakan, dimana kamar perawatan Azelia Pradipta Dinata," kata Gita dengan nada yang sedikit angkuh.


"Tunggu sebentar, Nona. Akan ku periksa dulu," jawab resepsionis itu dengan nada yang datar.


"Ck, cepatlah," sahut Lisa sambil melihat kuku-kuku lentiknya.


"Pasien yang bernama Azelia dirawat di kamar VVIP 1, Nona," jawab pegawai resepsionis itu.


Gita langsung melangkahkan kakinya meninggalkan meja resepsionis itu tanpa mengucapkan terimakasih.


"Iihh ... sombong sekali dia," kata resepsionis itu.


"Siapa yang kau bilang sombong?" Kata seseorang yang tiba-tiba berada di sampingnya.


"D-dokter D-dimas," ucap resepsionis itu gugup sambil menundukkan kepalanya.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku," kata Dimas dengan nada yang dingin.


"D-dia dokter, wanita itu tadi menanyakan dimana kamar pasien yang bernama Azelia," kata resepsionis itu sambil menunjuk kearah Gita yang dengan santai berjalan di lorong rumah sakit itu.


Dimas menatap tajam punggung wanita yang di tunjuk itu dan perlahan mengikutinya.


Kini Gita sudah berada di depan kamar perawatan zea. Wanita itu perlahan membuka pintu kamar itu dan melihat Adi dan Lisa yang sedang duduk di dekat ranjang dimana zea berbaring.


"Mom, apakah ini termasuk dalam rencana mu? Tapi untuk apa? Kenapa sikap momy seperti begitu menghawatirkan gadis berandalan itu," gumamnya mengintip di balik pintu kamar itu.


Tiba-tiba ada seseorang yang menarik paksa lengan Gita untuk menjauh dari pintu.


"Heii ... apa-apaan ini, siapa kau?" ucap Gita kaget.


"Kau yang siapa? Kau seperti seorang mata-mata, tingkah mu sangat mencurigakan," jawab Dimas masih memegang lengan Gita.


"Lepaskan!!" teriak Gita lalu menghempaskan tangan Dimas yang melingkar di lengannya.


Adi yang mendengar ada keributan di luar kamar langsung beranjak menghampiri asal dari suara keributan itu dan disusul oleh Lisa di belakangnya.


"Ada apa ini!" ucap Adi dengan suara beratnya yang terdengar tegas.


"Papah ...," sahut Gita menoleh pada Adi bersamaan dengan Dimas dan menghampiri papahnya itu.


'Dia memanggilnya papah?' batin Dimas bingung.


"Pria itu kasar padaku, Pah. dia menarik lenganku dengan paks,a" kata Gita mengadu.


Adi menatap tajam pada Dimas seolah meminta penjelasan.


"Maaf, Tuan. Saya tidak tahu kalau dia putri anda, saya kira dia seorang penyusup karena dia tadi mengintip kalian di balik pintu," kata Dimas menjelaskan apa yang dia lihat.


Sontak Adi dan Lisa menoleh pada Gita dan menatapnya dengan tatapan yang mengintimidasi.


Gita hanya menggelengkan kepalanya.


"Mom ... Pah, aku akan menjelaskannya, ini hanya salah paham, " kata Gita memohon.


Lalu menatap tajam pada Dimas yang sudah membuatnya mungkin dalam masalah.


"Ada apa ini? Kenapa semuanya berkumpul disini?" tanya Abel yang baru datang setelah menyelesaikan makan pagi nya bersama Dev.


Dev menatap tajam pada Gita.


'Pasti dia sudah membuat masalah disini' batin Dev.


"Hallo, nyonya Bramasta. Bagaimana kabar mu?" kata Lisa membuka obrolan di suasana yang cukup mencekam itu.


"Kabar ku baik, Nyonya Lisa," jawab Abel tersenyum.


"Ayo kita masuk," ajak Lisa sambil merangkul bahu Abel, sebelum masuk Lisa melirik tajam pada Lisa memberi kode agar putrinya itu pergi dari sana.


Melihat tatapan tajam dari Momynya, Gita menghembuskan nafasnya kasar serta memutar bola matanya dan beranjak pergi dari tempat itu.


"Tunggu." Panggil Dev setelah melihat ibu dan mertuanya masuk kedalam kamar perawatan zea.


Gita menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada sumber suara.


"Ada apa??" kata Lisa ketus.


"Untuk apa kau kesini? Apa ada sesuatu yang sedang kau rencanakan?" kata Dev menelisik.


"Bukan urusanmu," sahut Gita ketus lalu melangkah kan kakinya menjauh dari 2 pria yang masih mematung di tempatnya berdiri.


"DENGAR ...! kau akan berurusan dengan ku jika kau berani melakukan sesuatu pada calon istri ku," kata Dev memberikan ultimatum nya dengan nada yang sedikit berteriak.


Gita terus berjalan dengan mengacungkan jari tengahnya dan tak menghiraukan ancaman dari seorang Devandra.


Dimas hanya menatap heran pada Dev yang kini sudah masuk kedalam kamar perawatan zea.


"Drama yang cukup rumit," gumam Dimas sambil menggelengkan kepalanya dan pergi meninggalkan tempat itu.