My Lovely Girl

My Lovely Girl
S2 Valerie - Irza 45



Pagi menjelang.


Valerie terbangun dari tidur nya karena merasa kan mual di perut nya. Wanita itu beranjak dari ranjang dan berlari kearah kamar mandi.


Wanita itu memuntahkan semua makanan yang dimakannya semalam. Setelah merasa sudah memuntahkan semua isi di perut nya, Valerie menyandarkan tubuhnya di dinding kamar mandi yang dingin.


Wajah nya terlihat pucat dan memerah. Dia sangat lemas serta sudah tak memiliki tenaga untuk bangkit bahkan berdiri.


" Ada apa dengan ku? kenapa aku seperti ini," gumamnya sambil mengusap perutnya yang merasa tidak enak.


Lalu dia berusaha untuk bangkit dengan berpegang pada dinding. Valerie membasuh wajahnya dengan air dan itu membuat nya lebih segar.


Setelah itu dia keluar dari kamar mandi dan kembali merebahkan tubuhnya yang masih terasa lemas di ranjang.


Valerie sudah tak perduli lagi tentang suami nya yang tak pulang semalaman. Bahkan dia sudah tak menghubungi ponsel Irza lagi karena sudah lelah semalam menunggu.


Wanita itu kembali terlelap tidur sambil menutup tubuhnya dengan selimut tebalnya.


.


.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi.


Irza masih setia menemani Leyra yang masih tak sadarkan diri. Wanita itu mengalami gegar otak serta tulang punggung nya yang patah.


Dokter sudah menjelaskan keadaan Leyra pada Irza beserta keluarganya. Mereka sangat shock dengan keadaan Leyra saat ini karena dokter sudah mengatakan sedikit kemungkinan nya untuk Leyra bisa sadar.


Wanita itu sudah di operasi dan juga beberapa penanganan medis lainnya. Kini dia masih terbaring di ruangan ICU.


Kedua orang tuanya langsung pulang setelah mengetahui keadaan sang putri. Tapi kedua orang tuanya hanya bersikap biasa saja, bahkan sangat pasrah dengan keadaan putri nya itu.


Irza masih setia menunggu disana. Bahkan dia tak memberikan kabar sama sekali pada Wilda ataupun Valerie. Karena ponselnya berada di dalam mobilnya.


Pria itu enggan untuk beranjak dari kursi yang ada di depan ruangan ICU. Dia sangat mencemaskan nasib malang Leyra.


Bukan karena dia mencintai nya. Tapi dia memang sudah menganggap Leyra sebagai adik nya sejak dulu saat mereka duduk di bangku senior high school.


Pria itu menyayangi wanita itu sama seperti seorang kakak menyayangi adiknya. Dia sangat prihatin dengan kondisi Leyra, bahkan nasib wanita itu yang terlahir di tengah - tengah keluarga yang dingin dan seolah tak perlu dengan keadaan Leyra.


Orang tuanya bahkan lebih memilih untuk pulang dan beristirahat di mansion megah nya. Dari pada harus tidur di rumah sakit sambil menunggu Leyra.


Pria itu beranjak dari kursi nya dan berjalan kearah kaca besar yang menjadi pembatas ruangan itu.


Dia melihat kearah ranjang dimana Leyra masih setia menutup matanya. Banyak alat yang terpasang di tubuhnya dan itu membuat Irza tak tega untuk melihat nya.


Pria itu langsung memalingkan wajahnya dan berbalik. Dia duduk lagi di kursi dan menyandarkan kepalanya di dinding rumah sakit.


" Tuan ..."


Irza menoleh dan melihat asisten nya sudah berdiri di sampingnya.


" Tuan, Nyonya Wilda menghubungi ku dan menanyakan tentang Anda," kata pria itu.


" Hmmm ... Mintalah perawat khusus untuk menunggu dan merawat Leyra di rumah sakit ini. Aku akan pulang dulu," sahut Irza bangkit dari kursinya.


" Baik, Tuan!"


Irza langsung berjalan dan meninggalkan rumah sakit setelah ada sang asisten yang akan mengurus keperluan Leyra di rumah sakit.


.


.


Kini mobil yang di tumpangi Irza sudah tiba di halaman mansion nya. Pria itu langsung keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu utama mansion.


Wilda yang kebetulan melihat kedatangan Irza langsung menghampiri sang putra dengan wajah khawatir nya. Apalagi melihat penampakan Irza yang acak-acakan dan tampak lesu.


" Ir ... kau baru datang?"


Irza melihat kearah sang Momy dan hanya tersenyum tipis padanya.


Wilda merangkul bahu Irza dan membawanya duduk di sofa ruang tamu.


" Ada apa? apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Wilda.


Irza tampak menghela nafasnya lalu melihat wajah Wilda.


" Tadi malam Leyra kecelakaan, Mom. Dan kejadian itu terjadi tepat di depan mataku," ucap Irza lesu.