My Lovely Girl

My Lovely Girl
Bab 76



Zea kehilangan kendali dan jatuh, namun ada seorang pria tampan yang kebetulan saat itu ada di bawah nya, langsung menangkap tubuh Zea.


Zea terpaku dalam gendongan pria itu. Lalu pria itu menurunkan tubuh Zea dengan perlahan.


Dev berlari kearah Zea dan langsung memeluk tubuh sang istri.


" Kau tidak apa-apa? ada yang terluka? apakah ada yang sakit?" tanya Dev bertubi-tubi sambil memeriksa seluruh tubuh sang istri.


" Dev ... I'm Oke. Right?" sahut Zea.


" Kau membuat jantung ku hampir copot," kata Dev memeluk kembali sang istri.


Sementara pria yang tadi menangkap Zea hanya tersenyum getir melihat pasangan itu.


" Ah ya. Terimakasih kau sudah menolong ku," kata Zea tersenyum pada pria itu.


" Ya. Apa kau baik-baik saja?" sahut pria itu.


" Ya. Aku baik-baik saja. Sekali lagi terimakasih atas pertolongan mu," kata Zea lagi.


Pria itu hanya tersenyum lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Begitu pun dengan yang lain.


" Dia pria yang baik dan juga tampan," kata Zea memuji pria itu.


Dev menatap tajam mata sang istri yang memuji pria lain di hadapan nya.


Dan Zea menyadari hal itu.


Cup


Zea langsung mengecup bibir sang suami dan tersenyum pada nya.


" Dia memang tampan. Sayang nya aku sudah memiliki suami yang super tampan dan tak bisa berpaling dari nya," kata Zea.


Lalu pergi meninggalkan Dev yang hanya terpaku di tempatnya sambil menyunggingkan senyumnya.


Kini Zea menghampiri para ibuk-ibuk yang sedang memasak untuk para relawan dan warga lainnya yang ikut membantu pembangunan desa itu.


" Apa ada yang bisa aku bantu disini?" tanya Zea ramah.


" Tidak, Non. Duduklah disitu, biar kami yang memasak," kata salah satu wanita paruh baya di sebelah nya.


" Sayangnya aku seorang yang pemaksa, dan aku tidak bisa jika hanya duduk-duduk saja disini," kata Zea mengambil alih tugas-tugas di tenda dapur darurat itu.


" Baiklah, Nona."


Lalu Zea ikut membantu para wanita - wanita memasak. Dia juga bercengkrama dengan para wanita itu dan mereka terlihat sangat menyukai Zea.


Sifatnya yang ramah dan juga supel menjadikan dirinya mudah membaur dengan para warga.


Disaat Zea sedang sibuk bersama para ibu-ibu disana. Ada sepasang mata yang tengah menatapnya dari jauh.


" Jika saja aku bertemu dengannya lebih dulu," gumamnya.


Tiba-tiba ada yang menepuk bahu nya dari belakang. Pria itu menoleh.


" Jangan menatap istri ku seperti itu. Aku bisa saja mengasingkan mu dari dunia ini jika terus menatapnya," kata Dev memperingatkan. Lalu pergi meninggalkan pria itu dan menghampiri sang istri.


" Edo ... bisa kau bantu aku!!" teriak salah satu warga.


Edo langsung menghampirinya dan membantu apa yang di kerjakan oleh pria paruh baya itu.


.


" Beby ... kau disini? aku mencari mu sejak tadi," kata Dev menghampiri Zea.


" Ada apa? kau merindukan ku?" sahut Zea berdiri dan menghampiri Dev.


Dev tersenyum dan menyibakkan anak rambut Zea yang mengenai mata wanita itu.


" Ya. Aku merindukan ******* mu," kata Dev gamblang sambil merengkuh pinggang ramping Zea yang sedikit terbuka.


Karena wanita itu hanya mengenakan kaos polos yang pendek.


Para wanita yang ada di sana tertawa pelan mendengar ucapan dari Dev.


Sementara Zea hanya menggelengkan kepalanya melihat sang suami.


Lalu Dev melihat pada para wanita yang sedang menyelesaikan kegiatan nya.


" Apa tidak ada hotel di dekat sini? aku merindukan istri ku dan ingin mencumbunya," kata Dev yang membuat para wanita itu tertawa.


" Dev ...," kata Zea membelalak kan matanya sambil menutup mulut sang suami.


Cup


Dev langsung mencium pipi Zea dihadapan para wanita disana. Dan hal itu membuat wajah Zea memerah karena malu.


Dev dan Zea menoleh dan tertawa pelan mendengar teriakkan Reza.


" Aku harus menjauh dari mu dulu, karena aku tak tahan bila terus bersamamu. Kau sangat menggemaskan," kata Dev mencubit hidung mancung Zea.


Lalu pergi dari kumpulan para wanita itu.


.


.


Di sebuah restoran dekat rumah sakit dimana Lisa sedang kontrol rutin dengan dokter Nadin.


Adi sedang berbicara serius dengan Yosi tentang rencana mereka yang ingin mempertemukan Gita dengan ayah kandungnya di Paris.


" Bagaimana? apa dia sudah menerima paket itu?" tanya Adi.


" Ya. Anak buah ku sudah memastikan bahwa dia sudah menerima paket itu," sahut Yosi.


" Lalu? apa dia sudah menghubungi mu?" tanya Adi lagi.


" Tidak. Dia belum menghubungi ku. Namun dia juga belum ada pergerakan untuk bertemu dengan Anggita," sahut Yosi.


" Apa dia juga tak mau menemui putri nya?" kata Adi khawatir.


" Akan ku pastikan mereka akan bertemu. Dan aku akan mengatakan hal ini pada Dimas agar dia bisa membantu mempertemukan mereka," ucap Yosi.


" Jika pria itu tak mau menemui Gita. Maka jangan memaksa nya, Tuan. Aku takut pria itu mengatakan sesuatu yang akan menyakiti hati putriku," kata Adi.


" Tidak akan. Ada Dimas disana yang tidak akan membiarkan itu terjadi." Yosi meminum kopinya.


" Apa kau yakin rencana ini akan berhasil?" tanya Adi lagi.


" Yakinlah. Cepat atau lambat mereka pasti akan bertemu disana.


Lalu mereka melanjutkan obrolan mereka sambil membahas tentang masalah bisnis keduanya.


.


" Dimana tuan Adi?" tanya Nadin setelah menyelesaikan konseling nya dengan Lisa.


" Dia sedang menunggu di restoran sebelah. Katanya ada relasi bisnisnya disana," sahut Lisa.


Mereka sedang berjalan di lorong rumah sakit untuk pergi ke taman halaman rumah sakit yang sejuk.


Lisa sudah sangat membaik dan tidak lagi mengingat masa lalunya. Tapi itu hanya sementara.


Karena menurut dokter Nadin, Lisa akan baik-baik saja jika tidak ada yang mengungkit masa lalunya dan tak menyebutkan nama pria yang sudah merenggut kehormatan nya.


Kini mereka sudah berada di taman dan langsung mengobrol ringan disana.


.


.


" Honey ..." Gita memanggil nama sang suami dengan suara indah nya.


" Hmmm ... I love you," kata Dimas dengan tangan yang sudah bermuara di pangkal paha sang istri.


Tangan kanannya melingkar di perut sang istri dan tangan kirinya bergerilya di anggota sensitif Gita.


Gita merasakan darahnya berdesir dan tubuhnya melemas jika saja Dimas tak menahan perut nya.


" Ooohh ... Kau menyebalkan," desah Gita.


Dimas hanya tersenyum sambil mengecup tengkuk leher sang istri yang ada di hadapannya.


Pria itu melepaskan tangan nya saat merasakan milik Gita yang berdenyut, karena itu artinya sang empunya sudah mendapatkan puncaknya.


Dimas langsung membalikkan tubuh sang istri menghadap kearahnya dan langsung memagut bibir penuh sang istri.


Gita mengalungkan tangannya dileher sang suami dan membalas ciuman itu.


Dimas mendorong pelan tubuh Gita agar melangkah mundur menuju kearah ranjangnya.


" Setiap hari kita melakukan hal ini. Apa kau tak bosan pada ku?" kata Gita saat melepaskan ciumannya.


" Never ever. Kau canduku dan tidak ada yang bisa menghentikan nya," kata Dimas mendorong tubuh Gita agar terlentang di ranjang.


Pria itu langsung membuka pakaian nya dan pakaian sang istri hingga mereka sama-sama sudah polos tanpa sehelai benangpun menempel di tubuhnya.


Dimas dengan lihai menelusuri setiap lekuk tubuh Gita dengan bibirnya. Dan membuat wanita itu menggeliat di bawah nya.


Lalu mereka melakukan percintaan itu untuk yang kesekian kalinya.