
Kini mereka sudah ada di dalam kamar. Irza mendudukkan Valerie di tepi ranjang dan dia berlutut di hadapan sang istri.
Mereka saling menatap. Lalu Irza memegang tangan sang istri.
" Berjanjilah untuk tak menanyakan kelanjutan cerita itu pada Bibik Nevi, Honey."
Valerie mengerutkan keningnya seakan dia tak mengerti.
" Cerita apa?" sahut Valerie.
" Cerita yang tadi di cerita kan oleh Bibik Nevi," sahut Irza.
" Why? aku ingin mendengar kelanjutan ceritanya, Honey," sahut Valerie.
Irza menghembuskan nafasnya secara perlahan dan menatap lekat mata Valerie.
" Itu akan membuat luka lama nya terbuka kembali. Dia sudah lama mengubur dalam-dalam kisah itu, dan melupakan nya. Tidak mudah bagi Bibik Nevi dan juga Paman Beno, Honey."
Kini Valerie mulai mengerti arah pembicaraan itu. Dia menganggukkan kepalanya beberapa kali.
" Maaf. Aku tidak akan menanyakan kelanjutan cerita itu," sahut Valerie tak enak hati.
" It's oke. kau tak tahu tentang hal itu," sahut Irza.
" Tapi aku sangat penasaran dengan akhir cerita nya," sahut Valerie.
Irza menatap kearah wajah sendu Valerie.
" Aku yang akan menceritakan kelanjutan cerita nya, dan sekarang aku akan membersihkan tubuhku dulu. Hemm?"
Valerie tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu Irza bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.
.
.
Malam menjelang.
Valerie dan Irza sedang menuruni tangga untuk menuju ruang makan.
Mereka melihat Bibik Nevi dan juga Paman Beno yang saling membantu menyiapkan makan malam bersama.
" Mereka sangat kompak," bisik Valerie pada sang suami.
" Ya. Karena mereka saling mencintai," sahut Irza juga berbisik.
" Heii ... kita juga saling mencintai, kan?" tanya Valerie sambil mengerutkan keningnya.
Irza terkekeh dan mengecup hidung mancung Valerie.
" I love you," kata Irza.
" I love you to," sahut Valerie tersenyum.
Dan kini mereka sudah ada di ruang makan.
" Silahkan Tuan, Nona."
Bibik Nevi tersenyum dan membalikkan tubuhnya untuk pergi dari ruang makan.
" Tunggu, Bibik!"
Bibik Nevi berbalik dan melihat kearah Irza.
" Panggil Paman Beno, aku ingin kita makan bersama disini," lanjut Irza.
" T-tapi tuan, kita akan makan di belakang saja," sahut Bibik Nevi.
" Tidak apa, Bibik. Aku akan sangat senang jika kalian mau makan bersama dengan kami," sahut Valerie.
Bibik Nevi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia berbalik dan segera memanggil sang suami.
Mereka ber 4 duduk di ruang makan. Bibik Nevi mengambil sebuah piring dan mengisinya dengan makanan.
Valerie melakukan hal yang sama.
Valerie menatap kearah Bibik Nevi dan tersenyum.
" Aku seorang istri, Bibik. Dan aku ingin melayani suami ku. Bibik juga akan melayani Paman Beno, bukan?" sahut Valerie.
Bibik Nevi tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Baiklah," sahutnya.
Lalu mereka pun makan malam bersama.
Irza sangat tahu bahwa pasangan paruh baya itu sangat kesepian jadi dia memang sering mengajak nya untuk makan bersama jika dirinya sedang mengunjungi villa itu.
Valerie sangat menikmati momen makan malam itu. Dia juga sangat mengagumi sosok Irza karena ke dermawanan nya.
Dia mau duduk dan makan bersama dengan seorang pelayan nya. Dan itu hal yang cukup langka menurut Valerie.
Irza melihat kebahagiaan di raut wajah Paman Beno dan Bibik Nevi jika mereka sedang makan bersama seperti ini. Maka dari itu dia selalu mengajak mereka untuk makan bersama.
.
.
Sesi makan malam pun berakhir. Bibik Nevi dan Paman Beno sudah masuk kedalam kamar nya.
Sementara Irza dan Valerie tampak menikmati malamnya dengan menonton film di televisi besar yang ada di ruang Tv.
Valerie menyandarkan tubuhnya di dada bidang Irza sambil menikmati camilan yang ada di pangkuan nya.
Sesekali dia menyuapi sang suami tanpa melihat kearah pria itu. Karena dia sangat fokus melihat kearah layar televisi raksasa di depan nya.
Valerie menyuapi kue ke arah wajah Irza. Namun bukan ke mulut nya melainkan ke hidung nya hingga membuat butter cream di kue itu menempel di hidung mancung Irza.
" Honey ..."
" Hmmm ..." sahut Valerie masih tampak fokus dengan film trailer yang di tonton nya.
Irza begitu gemas karena sang istri sangat memfokuskan diri pada film itu. Dia menarik dagu runcing Valerie dan membawa nya hingga menatap kearah nya.
Wajah nya menoleh pada sang suami namun tatapan matanya masih tertuju pada layar di depannya.
" CK. Honey lihat aku!!" tegas Irza.
Valerie langsung melihat kearah sang suami. Dan saat melihat wajah kesal Irza dia malah tertawa.
" Kenapa dengan hidung mu, Honey?" sahut Valerie masih tertawa.
" Kau masih bertanya kenapa?" sahut Irza mengerutkan keningnya.
Karena gemas dengan sang istri yang terus menertawakan nya, Irza menggelitik pinggang wanita itu hingga terbaring di atas sofa lebar disana.
" Kau masih bertanya setelah melakukan nya? hmm?" kata Irza terus menggelitiki pinggang Valerie.
Wanita itu terpekik dengan tawanya.
" Ampun Honey ampuun!!" teriak Valerie.
Lalu Irza menghentikan kegiatan itu. Dan posisi mereka kini sangat intim dengan Irza yang sudah ada di atas tubuh Valerie.
" Cepat bersihkan cream ini, sebelum semut mengerubungi suami manis mu ini," kata Irza mendekatkan wajahnya.
Valerie terkekeh mendengar perkataan Irza.
" Baiklah. Aku akan membersihkan nya," sahut Valerie tersenyum tengil.
Lalu dia mendekatkan wajahnya dengan wajah tampan sang suami. Hingga membuat pria itu menatap heran, apa gerangan yang ingin di lakukan sang istri.
Valerie menyapu hidung mancung Irza dengan lidahnya. Dia juga mengecupnya saat cream itu sudah tak ada lagi di hidung mancung nya.
Irza di buat terpaku oleh perbuatan nakal sang istri. Lalu Valerie tersenyum miring padanya.
" Sudah bersih, Tuan."
Valerie juga mengedipkan satu mata nya seakan menggoda sang suami.