My Lovely Girl

My Lovely Girl
Bab 42



Gita terus saja melihat ponselnya sambil mondar mandir, wanita itu terlihat gusar karena memikirkan apa yang baru saja Zea bicarakan padanya.


"Iiishhh, kenapa dia masih tak menghubungi ku," geramnya. Lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang nya.


Wanita itu menatap langit-langit kamar itu sampai mengantuk dan tak terasa dia sudah tertidur dengan lelapnya.


.


Sementara di tempat lain, Zea masih di sibukkan dengan pekerjaannya.


Setelah selesai meeting, Zea tidak langsung kembali ke ruangan nya, karena sedang mendiskusikan tentang tender yang dia pegang.


Sampai tak terasa waktu berjalan begitu cepat dan sudah memasuki waktu makan siang.


Dev tiba di gedung Pradipta corp, dia langsung berjalan menuju ruangan sang istri.


"Beby ...." Panggil Dev saat membuka pintu ruangan Zea.


Dev tidak menemukan keberadaan sang istri di ruangan itu.


"Dimana dia."


Lalu Dev keluar dari ruangan itu dan bertemu dengan asisten Zea.


"Kau tahu dimana istri ku?" tanya Dev.


"Nona Zea sedang berada di ruang meeting, Tuan," jawab Nita.


"Oke, terimakasih."


Dev pun menghampiri sang istri ke ruang meeting.


Pria itu membuka pintu ruangan itu secara perlahan, dan melihat sang istri yang sedang serius dengan pekerjaannya.


"Beby ... aku mencari mu, ternyata kau disini." Dev menghampiri sang istri.


"Heii, kau sudah datang?" kata Zea beranjak dari kursinya lalu memeluk sang suami.


Tampak semua pegawai tersenyum melihat kemesraan pasangan itu sambil menundukkan kepalanya.


"Apa ini sudah jam makan siang?" tanya Zea melihat kearah jam tangan nya.


"Ya, Beby ... kau sepertinya sangat sibuk sampai kau lupa waktu," sahut Dev masih merengkuh pinggang sang istri.


"Kalian boleh keluar, kita lanjut kan nanti setelah makan siang," ucap Zea pada pegawai nya.


Lalu para pegawai itu meninggalkan ruangan itu.


"Aku sedang ada tender besar saat ini, Dev. Dan aku harus memenangkan tender ini." Zea berjalan menuju kursi nya dan langsung fokus dengan laptopnya.


"Kita makan disini saja kalau begitu, Beby," ucap Dev menghampiri kursi sang istri dan memeluk nya dari belakang.


"Kau tak masalah dengan itu, kan?" tanya Zea mendongakkan kepalanya.


"Tentu saja tidak." Dev mencium kening sang istri.


"Baiklah, kau ingin makan apa, Nyonya Devandra?" tanya Dev memencet hidung mancung Zea.


"Terserah kau saja, Beby," sahut Zea mulai kembali fokus dengan laptopnya.


"Oke, Aku akan memesan western food kalau begitu." Lalu Dev langsung memesan makanan melalui ponsel nya.


"Kau sudah menghubungi gita, Beby?" tanya Dev sambil duduk di kursi sebelah Zea.


"Oh my, aku melupakannya," ucap Zea lalu mencari ponselnya.


"Dimana ponsel ku?" Zea mengingat ponselnya di tinggal di ruangan nya.


Lalu menghubungi Nita melalui telepon yang tersedia di ruangan itu untuk mengambil kan ponselnya.


"Jadi kau belum menghubungi Gita?" tanya Dev sekali lagi.


"Sudah Beby," jawab Zea singkat.


"Lalu ... apa yang kau lupakan?" tanya Dev mengerutkan keningnya.


"Rahasia ..." jawab Zea sambil mengerlingkan matanya.


"Ohh ... jadi kau sudah berani merahasiakan sesuatu dari suami mu ini?" kata Dev menangkup Kedua pipi Zea sampai bibirnya mengerucut.


Perlahan Dev mendekatkan bibirnya ke bibir Zea.


Tok tok tok


Suara pintu di ketuk dan langsung membuyarkan adegan yang akan terjadi selanjutnya.


"Masuklah!" teriak Zea.


CEKLEK


Pintu di buka, lalu Nita masuk kedalam ruangan itu dengan membawakan beberapa pesanan Dev.


"Tuan, ini pesanan anda. Dan ini ponsel anda, Nona," ucap Nita meletakkan beberapa bungkusan itu dan memberikan ponsel Zea.


"Terimakasih, Nita," ucap Zea.


Dan dibalas senyuman oleh Nita.


"Tidak ada, kau boleh keluar," jawab Zea.


Lalu beranjak dari kursi nya, dan mulai menata makanan yang di pesan oleh sang suami di meja.


Mereka pun makan siang bersama di ruangan itu.


.


.


.


Di luar negeri.


Tepatnya di gedung perusahaan Ganendra. Dimas masih disibukan dengan pekerjaannya.


CEKLEK


Suara pintu dibuka dan terlihat seorang wanita cantik masuk kedalam ruangan itu.


"Untuk apa kau kemari?" ucap Dimas sinis tanpa melihat kearah wanita itu.


"Aku membawa kan mu makan siang, Dimas. Ayo kita makan siang bersama," kata Sandra meletakkan makanan yang di bawa nya ke meja dekat sofa.


"Tidak perlu, aku sudah menyuruh asisten ku membawakan makanan," sahut Dimas.


"Tapi Dev --"


Perkataan Sandra terpotong saat asisten Dev masuk kedalam ruangan dengan membawa makanan yang di pesan oleh bos nya.


"Tuan, ini makanan anda," ucapnya.


"Temani aku makan disini, Jo," sahut Dimas tanpa melihat kearah Sandra yang tampak kesal karena kedatangannya tidak di anggap oleh Dimas.


"Tapi, tuan --"


"Duduk." Dimas menatap Jo dengan tajam.


Lalu pria itu duduk untuk menemani sang bos makan siang.


"Menyebalkan," ucap Sandra lalu pergi dari ruangan itu.


Dimas tersenyum miring melihat Sandra yang tampak kesal dan keluar dari ruangannya.


.


"Hoaamm ... jam berapa ini?" ucap Gita lirih.


Lalu bangkit dari ranjangnya dan melihat kearah jam yang sudah menunjukkan pukul 2 siang.


"Oh my, aku ketiduran."


Wanita itu berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya, dan dia langsung keluar dari kamar nya menuju dapur untuk memasak makanan.


"Kenapa Zea tidak menelpon ku lagi?" Gumam nya.


"Nanti aku akan menghubungi nya." Gita langsung menghidangkan makanan yang sudah dia masak, lalu duduk menyantap makanannya sendiri.


Seharian ini dia memang free, tidak ada kegiatan dan dia hanya mengurung diri di apartemen nya.


Ting ...


Suara ponselnya tanda ada pesan masuk.


Gita langsung melihat ponselnya dan membaca pesanya.


"Apakah kau sibuk hari ini?" tulis Arga di pesan itu.


"ck, aku kira pesan dari Dimas." Lalu Gita membalas pesan itu.


"Maaf, aku sedang di apartemen ku dan tidak ingin kemana pun," tulisnya yang sudah menduga arga ingin mengajak nya keluar.


"Kenapa hari ini mod ku begitu buruk," Gumamnya sambil menyantap makanannya.


tiba-tiba ponselnya berbunyi dan senyumnya langsung tersungging setelah melihat nama Zea di layar ponselnya.


"Hallo, Kau kemana saja gadis badung. Kau tahu ... aku menunggu telpon dari mu sampai aku ketiduran," ucap Gita panjang lebar.


Zea tertawa mendengar celotehan dari saudarinya itu.


"I'm sorry sister. Aku sedang sibuk tadi karena ada meeting yang cukup panjang."


"Oke, aku memaklumi nya. Sekarang lanjutkan ceritamu tadi," ucap Gita yang langsung mendapatkan tawaan dari seberang telepon nya.


"Kau menertawai ku? Kau tahu aku hampir gila memikirkan hal yang kau bicarakan padaku tadi?" kata Gita kesal.


"Hahahaha ... I'm sorry, Honey," sahut Zea dengan menahan tawanya.


"Iiishhh, kau ini menyebalkan sekali." Gita mencebik.


"Jangan pikirkan hal itu, kau cukup fokus pada dokter Dimas. oke," ucap Zea.


"Baiklah," sahut Gita malas.


Lalu mereka mendiskusikan tentang pesta yang akan mereka adakan.