
"Hai ... apa aku terlambat datang?" sapa Gita pada temannya yang bernama Leon.
"Tidak, Gita. Monik juga belum datang, duduklah," jawab Leon lalu melirik kearah Dimas.
"Kenalkan, ini Dimas. dia __"
"Aku calon suaminya Anggita," ucap Dimas memotong perkataan Gita sambil mengulurkan tangannya pada Leon.
"Oh ya ... sepertinya aku tidak percaya dengan ucapan mu, Tuan. Karena Gita tidak memakai cincin di jari manisnya," jawab Leon menjabat tangan Dimas sambil melirik tangan Gita.
"Ohh, memang disana belum tersematkan cincin karena kita belum mengadakan pesta pertunangan kami," jawab Dimas dengan percaya diri lalu duduk di kursi itu.
'SIAL, kenapa aku bisa melupakan tentang cincin,' batin Dimas melirik jari manis Gita yang memang belum tersemat cincin darinya.
"Haii ... maaf aku terlambat. Apa kalian sudah menunggu lama?" kata seorang wanita yang baru saja datang.
"Tidak, Monik. Aku juga baru datang," jawab Gita.
Monik tampak kaget melihat seorang pria tampan yang duduk di sebelah Gita dan mengingat wajah pria itu.
"Kau Dokter Dimas, kan?" tanya Monik akhirnya mengingat wajah Dimas.
"Ya, apa aku mengenal mu?" jawab Dimas melihat wajah Monik.
"Ah ... tidak, kita pernah bertemu di rumah sakit sekitar satu minggu yang lalu. Aku mengantarkan nenekku waktu itu untuk melakukan kontrol rutin," kata Monik.
"Apa yang kau maksud itu, nenek Doris?" tanya Dimas mulai mengingat wajah Monik yang kala itu sampai membuatnya risih karena terus memandangi nya.
"Ya, apa dokter ingat?" jawab Monik bersemangat.
"Ya, aku ingat. Bagaimana kabar nenek mu?" tanya Dimas ramah.
"Dia baik, kau disini __"
"Aku disini untuk menemani calon istri ku," jawab Dimas memotong perkataan Monik sambil merangkul bahu Gita.
"WHAT ... kau punya calon suami tapi kau tidak memberi tahu kita?" sahut Monik yang tampak terkejut.
"Ck, jangan lebay, Monik. Kita belum bertunangan," jawab Gita cuek.
"Kita akan bertunangan, Honey," kata Dimas.
"Tapi aku belum menyetujui nya, Pak Dokter," jawab Gita ketus dan menatap mata Dimas.
Entah kenapa Gita tidak suka melihat interaksi antara Monik dan Dimas yang membuat mod nya memburuk.
Lalu pelayan pun datang untuk memberikan daftar menu.
Mereka pun memilih menu makanan masing-masing dan pelayan pun pergi dari meja itu setelah menerima pesanan dari mereka.
"Lalu kapan kalian akan bertunangan?" tanya Monik.
"Minggu depan," jawab Dimas.
"Heii, aku belum menyetujui nya," jawab Gita.
"Itu yang uncle bilang padaku, bahkan uncle sudah merencanakan pesta pertunangan kita, Honey," kata Dimas.
"Jadi kalian bertunangan karena perjodohan?" tanya Leon akhirnya membuka suara.
"TIDAK," jawab Dimas dan Gita bersamaan lalu mereka saling menatap.
"Oouuwh ... kalian kompak sekali," ucap Monik mengejek.
"Lalu ...." tanya Leon memandang sinis pada Dimas.
"Kurasa itu bukan urusan mu, Leon," jawab Dimas yang memang tidak suka dengan sikap Leon.
"Ku harap, kalian mau mengundang kami ke acara pertunangan kalian," kata Monik.
"Ya, itu pasti. Aku akan mengundang semua teman Gita, agar mereka tahu bahwa Gita hanya milikku," jawab Dimas dengan semangat.
"Selamat Gita, akhirnya kau menemukan pangeran tampan mu yang selama ini kau dambakan," ucap Moni memeluk Gita.
"Ck, kita ganti topik saja," sahut Gita malas.
Lalu tampak seorang pelayan datang menghampiri meja mereka dengan membawa makanan yang mereka pesan, dan langsung menghidangkan makan itu di meja.
"Selamat makan ...," kata Monik.
Mereka pun menyantap makanan mereka masing-masing dan tanpa obrolan sama sekali sampai acara makan pun selesai.
"Ah ya, kapan kau akan kembali ke kampus untuk menyelesaikan kelulusan mu, Gita?" tanya Leon melihat kearah Gita.
"Besok, aku akan kembali dan mengurus semuanya karena aku harus segera kembali kesini," jawab Gita sambil memakan hidangan penutup yang tersaji di depan nya.
"Aku juga akan kembali besok, kita bisa pergi bersama," ucap Leon dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Dimas.
"Dia akan pergi bersama ku," jawab Dimas.
"Tidak perlu, Dimas. Aku pergi sama Leon saja," sahut Gita.
"Kau akan tetap pergi bersama ku!" ucap Dimas tegas sambil menarik dagu Gita agar bisa menatap matanya.
"what ever," sahut Gita ketus.
"Dan kau jangan pernah mendekatinya, karena dia milikku," ucap Dimas memperingatkan Leon.
"Dimas, apa yang kau lakukan. Dia hanya temanku, kau sangat berlebihan," ucap Gita.
" Kau dengar, Leon. Kau hanya seorang teman, tidak lebih," kata Dimas memperingati.
Lalu berjalan mengikuti langkah Gita keluar dari restoran itu.
Kini Dimas dan Gita sudah berada di dalam mobil, Dimas mengendarai mobil nya dengan kecepatan sedang dan tidak ada obrolan sama sekali sejak keluar dari restoran tadi.
Dimas berhenti di sebuah toko perhiasan yang terkenal di kota itu.
"Dimana ini?" tanya Gita yang sadar mobilnya berhenti dan bukan di mansion nya.
"Ayo keluar," sahut Dimas lalu keluar dari mobil itu dan langsung membukakan pintu mobil untuk Gita.
Gita pun keluar dari mobil dan melihat toko perhiasan yang sering dia kunjungi bersama sang momy.
Gita mengerutkan keningnya sambil menatap mata Dimas.
"Untuk apa kita kemari?" tanya Gita.
"Kau masih bertanya untuk apa kita kemari?" jawab Dimas lalu menggandeng tangan Gita untuk masuk kedalam toko.
"Selamat malam, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?" ucap seorang pegawai toko itu dengan ramah.
"Tolong Carikan cincin untuk pertunangan," jawab Dimas.
"Baik, Tuan," jawab pegawai itu.
Lalu Dimas melihat kearah Gita yang tampak tersenyum sambil memandangi kalung yang tepat di depan nya.
"Kau menyukai nya?" tanya Dimas membuyarkan lamunannya.
"Sangat," sahut Gita tanpa menoleh pada Dimas.
Pegawai pun datang membawa beberapa cincin pertunangan yang di rekomendasikan di toko itu.
"Tolong ambilkan kalung itu," kata Dimas menunjuk kalung yang sedari tadi di pandangi oleh Gita.
"Silahkan, Tuan," kata seorang pegawai memberikan kalung itu.
"Ini sangat cantik," ucap Gita melihat kalung itu.
"Kalung ini akan terlihat semakin cantik jika kau yang memakainya,," ucap Dimas menempelkan kalung itu di leher jenjang Gita.
"Jangan menggombali ku karena itu tidak akan mempan," sahut Gita ketus.
Dimas pun memakai kan kalung itu pada Gita.
"Sempurna," ucap Dimas memandangi Gita.
"Thanks," sahut Gita memandangi kalung itu.
Lalu Dimas membuka kembali kalung itu dan memberikannya pada pegawai tadi.
"Tolong di bungkus dengan cantik, aku ambil kalung itu?" ucap Dimas, lalu pegawai itu membungkus kalung itu.
"Pilihlah cincin mana yang kau suka," kata Dimas pada Gita yang mod nya sudah membaik.
"Aku lebih suka yang ini," tunjuk Gita pada cincin couple yang terdapat satu berlian kecil di tengahnya.
"Oke, Honey. Pilihan yang bagus," sahut Dimas.
"Aku ambil cincin ini, dan tolong tuliskan nama kita di dalam cincin itu," kata Dimas pada salah satu pegawai toko itu.
"Baik, Tuan. Tolong tuliskan nama anda dan pasangan mu di kertas ini," sahut pegawai itu sambil memberikan secarik kertas dan bolpoin.
"Sini, aku yang tulis," kata Gita merebut kertas dan bolpoin itu.
Lalu Gita pun menulis di kertas itu.
"DOKTER GADUNGAN." Tulis Gita di kertas itu.
"What ... kau akan menuliskan itu di cincin pertunangan kita?" tanya Dimas heran.
"Ya, kalau kau tidak setuju maka batalkan pertunangan ini," jawab Gita enteng dan tersenyum mengejek.
"Baiklah, jika itu yang kau suka," kata Dimas.
Lalu menulis sesuatu di kertas itu.
"DOKTER GADUNGAN KU dan GADIS SEXY KU." Tulis Dimas pada kertas itu dengan menambahkan kata "KU" di belakang tulisan Gita lalu memberikan kertas itu pada pegawai toko.
Pegawai toko itu tampak tersenyum membaca tulisan di kertas itu.
"Kapan cincin itu bisa saya ambil?" tanya Dimas setelah membayar semua perhiasan yang dia beli.
"Bisa di ambil lusa, Tuan. Dengan membawa nota ini," kata pegawai itu sambil memberikan kertas nota pada Dimas.
"Baiklah, terimakasih," ucap Dimas lalu pergi dari toko itu.
"Kau harus memakai kalung itu di hari pertunangan kita," ucap Dimas setelah berada di dalam mobil.
"Baiklah," sahut Gita memandangi bungkusan kecil itu.
"Itu berarti kau sudah setuju dengan pertunangan kita?" tanya Dimas sambil mengendarai mobilnya.
"Ya, itu karena kau sudah membelikan ku kalung berlian ini," jawab Gita senang.
"Oh God, dasar wanita," jawab Dimas menggelengkan kepalanya.