My Lovely Girl

My Lovely Girl
Bab 38



Di sebuah apartemen yang cukup mewah, seorang wanita cantik sudah tampak rapih dengan penampilannya yang terbilang sexy.


Wanita itu baru keluar dari lift, berjalan menuju lobby apartemen itu dengan menenteng tas branded nya, serta beberapa buku di tangannya.


Dia menjadi pusat perhatian di sana, karena memang wajahnya yang cantik dan penampilannya yang sexy.


Dengan menggunakan rok span ketat warna hitam, yang panjangnya hanya setengah paha, cukup membuat bokong nya terbungkus sempurna.


Dan dipadukan dengan kaos crop top yang memperlihatkan pinggang rampingnya, serta menggunakan coat jeans dengan warna ice blue.


Tak lupa dengan kacamata hitam yang bertengger di atas kepalanya.


Wanita itu berjalan dengan anggun, kearah dimana mobilnya di parkir dan memencet tombol di kunci mobilnya.


Ketika akan masuk kedalam mobil nya, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil nya dengan keras.


"ANGGITA ...." panggil seseorang dari arah belakang.


"Heii ... Monik, kau sudah disini?" tanya Gita pada sahabatnya itu.


"Ya, aku baru sampai. Dan aku melihatmu tadi jadi aku langsung menemui mu," jawab Monik menghampiri Gita dengan nafas yang ngos.ngosan.


"kenapa kau seperti habis di kejar setan begitu?" tanya Gita melihat heran pada Monik.


"Yaa, aku tadi lari mengejar mu, agar aku bisa berangkat bersama mu ke kampus," sahut Monik masih dengan nafas yang berat.


"Oh my, kenapa kau tak memanggilku? ayo masuk nanti kita terlambat," ucap Gita lalu masuk kedalam mobilnya.


"iiisshh, kau ini seperti tidak tahu security disini saja. Kalau aku teriak disini nanti malah aku di lempar keluar dari apartemen ini," sahut Monik sambil memasang sit belt nya.


Lalu Gita pun mengendarai mobilnya menuju kampus dan dalam perjalanan, mereka berdua saling mengobrol ringan dan bercanda ria.


Setibanya di kampus, Gita dan Monik berjalan menuju kelas mereka untuk mendiskusikan tentang skripsi dan kelulusan mereka.


"Anggita ...," panggil seseorang dari arah belakang.


Gita pun menoleh ke asal suara dan membuka kacamata hitam yang bertengger di hidung mancung nya.


"Leon ... Haii," jawab Gita tersenyum.


"Ayo kita ke kelas, Pak Dosen udah jalan ke kelas tuh," sahut Monik menarik tangan Gita.


Mereka pun masuk kelas dan langsung di sibukkan dengan persiapan kelulusan mereka.


.


.


.


Di tempat yang jauh, tepatnya di luar negeri.


Seorang pria tampan sedang menatap lekat kearah ponselnya dengan raut wajah yang tak bisa di tebak.


"Shiitt, kenapa dia harus se cantik itu bila berada di kampus," ucap Dev menatap foto Gita yang di kirim oleh anak buahnya yang bertugas memantau dan menjaga sang calon istri di sana.


"Bahkan dia tidak menghubungi ku sejak kemarin, apa dia memang tidak punya perasaan sedikit pun pada ku?" gumam Dimas yang masih menatap foto-foto Gita.


"DORR ..." seseorang mengagetkan nya dari belakang.


"Shiitt," umpatnya karena memang dia merasa terkejut saat itu, lalu menoleh pada seseorang yang ada di belakangnya.


"Sejak kapan Adik ku ini mulai memandangi foto wanita di dalam ponsel nya, dan sangat serius pula, hingga tak sadar ada aku di belakangnya," ucap seorang wanita yang merangkul bahu Dimas dari belakang.


"Oh, come on kak. Itu tidak lucu," jawab Dimas.


"Coba lihat, wanita seperti apa yang sudah bisa membuat adikku yang tampan ini jatuh hati," kata wanita itu merebut ponsel Dimas dan melihat foto-foto Gita di situ.


"Hmmm, cantik juga dan sexy," ucapnya sambil memandangi foto-foto itu.


"Mereka di taman bersama ayahnya," sahut sia. Kakak satu-satunya Dimas yang tinggal di luar negeri dan sudah berkeluarga, memiliki 2 anak dan suami yang tampan.


"Kembalikan ponsel ku," ucap Dimas mengambil lagi ponsel nya dari tangan Sia.


"Kapan kau akan melamarnya?" tanya sia sambil mengoles roti dengan selai.


"Secepatnya, setelah aku kembali dari sini, dan Kakak harus hadir, kalau sampai Kakak tidak datang, maka aku akan memecat mu sebagai Kakak ku," ucap Dimas beranjak dari kursi itu meninggalkan Sia.


"Iiishhh, dasar adik durhaka," sahut Sia yang di balas tawaan keras dari Dimas.


"Bye Kak, aku ke kantor dulu," ucap Dimas melambaikan tangannya.


"Bye ... hati-hati," sahut sia menatap kepergian Dimas.


"Sepertinya wanita itu sudah membuat Dimas melupakan masa lalunya," ucap seseorang dari belakang sia.


"Ya, Honey. Aku juga berfikir seperti itu, dan semoga saja kali ini takdir berpihak pada mereka," sahut Sia tanpa menoleh pada suami nya.


.


.


.


Zea terbangun dari tidurnya dan tak melihat Dev di sampingnya.


Wanita itu mengerjapkan matanya melihat kearah jendela yang kini sudah terlihat sangat terang, karena kini sudah menunjukkan pukul 9 pagi.


Lalu dia beranjak dari ranjangnya dan melihat sudah ada makanan yang tersaji di meja beserta secarik kertas disana.


Zea mengambil kertas itu dan membacanya.


"Good morning Beby, maaf aku tidak ada di samping mu saat kau terbangun dan tidak membangunkan mu, karena aku tidak tega mengganggu tidur mu yang terlihat sangat nyenyak. Aku pamit pergi ke luar kota, karena urusan yang harus aku tangani di sana. Mungkin hanya 3 hari, secepatnya aku akan pulang Beby, jangan lupa makan makanan yang sudah aku siapkan untukmu. I love you


By. Devandra." Tulisnya di kertas itu.


Senyumnya terukir saat membaca surat itu.


Dan membayangkan bagaimana dia melewati malam yang panas tadi malam bersama sang suami dan terbesit rasa rindu di dadanya.


"I Miss you tuan messum," gumamnya menatap foto Dev yang terpajang di meja kecil itu.


Lalu dia pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Dan setelah keluar dari kamar mandi langsung menyantap makanannya yang memang di siapkan langsung oleh sang suami.


Setelah selesai menyantap makanan nya, Zea keluar dari kamarnya dan menghampiri Abel yang tengah sibuk merapikan tanaman nya di halaman belakang.


"Pagi Mom, perlu aku bantu?" ucap Zea menghampiri Abel dan mencium pipinya.


"Pagi sayang. Tidak perlu, duduk lah di sana," jawab Abel sambil menunjuk kearea bangku taman yang sudah tersedia cemilan beserta minuman disana.


"Ya, Mom," sahut Zea lalu duduk di bangku itu menatap Abel yang sudah selesai dengan kegiatannya.


"Kau sudah sarapan, Sayang?" tanya Abel menghampiri Zea.


"Sudah, Mom," jawab Zea singkat.


"Dev pergi keluar kota, apa kau tahu?" tanya Abel sambil menuangkan lemon tea ke dalam cangkirnya.


"Ya, Mom. Aku tahu," jawab Zea.


"Syukurlah, dia pergi pagi-pagi sekali tadi, dan mungkin kau belum bangun, jadi dia hanya bilang padaku," sahut Abel memberikan cangkir itu pada Zea.


"Terimakasih, Mom" ucap Zea mengambil cangkir itu lalu meminumnya.