
Bab 63
Di tempat lain, Adi sudah sampai ke rumah sakit Husada.
" Kenapa kita ke rumah sakit, mas?" tanya Lisa.
Adi tak menjawab pertanyaan dari sang istri, dia hanya tersenyum sambil membelai puncak kepalanya.
Adi keluar dari mobilnya dan membuka kan pintu mobil untuk sang istri.
Sejak bangun dari tidurnya tadi pagi, sikap Lisa sudah seperti biasa. Seakan tak terjadi apa-apa tadi malam.
Adi menggandeng tangan Lisa masuk kedalam rumah sakit itu. Dia mendudukkan Lisa di kursi tunggu.
Lalu dia menuju meja resepsionis untuk menanyakan dokter Nadin yang tadi malam menangani Lisa.
" Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya seorang pegawai yang menjaga meja resepsionis.
" Saya sudah ada janji dengan dokter Nadin, apakah beliau sudah datang?" tanya Adi.
" Apakah anda Tuan Adicipta?" tanya resepsionis itu.
" Ya, benar."
" Silahkan Pak, anda sudah di tunggu di ruangan dokter Nadin." Lalu resepsionis itu memanggil salah satu perawat untuk mengantarkan Adi dan Lisa ke ruangan dokter Nadin.
CEKLEK
"Permisi, Dokter. Tuan Adicipta sudah datang," kata perawat itu.
" Hmmm, persilahkan mereka masuk."
Lalu Adi dan Lisa pun masuk ke ruangan dokter Nadin.
" Permisi, Dokter," kata Adi.
Dokter Nadin melihat kearah Adi dan Lisa lalu tersenyum.
" Silahkan duduk,Tuan," kata Nadin.
Lisa dan Adi duduk di kursi yang berhadapan dengan dokter Nadin. Lisa tampak bingung, tapi dia tak berani untuk bertanya pada Adi kenapa dia dibawa untuk menemui dokter psikolog itu.
" Bagaimana kabar anda hari ini, Nyonya?" tanya Nadin dengan nada yang begitu lembut.
" Emmm, aku merasa baik-baik saja hari ini. Tapi kenapa aku di bawa kesini?" kata Lisa menoleh pada Adi.
Adi dan Nadin saling melempar pandangan, lalu melihat kearah Lisa yang tampak gelisah.
" Ada yang terjadi padamu tadi malam, sayang. Sampai kau tak sadarkan diri, apa kau tak ingat?" kata Adi dengan nada yang terdengar begitu lembut.
" Benarkah? aku tak ingat apapun," sahut Lisa.
Dokter Nadin memperhatikan sikap Lisa yang terlihat sedang gelisah, karena sejak dia duduk di kursi itu Lisa selalu meremas tangan nya sendiri.
" Baiklah, kemarilah. Aku hanya ingin mengecek tekanan darah mu saja, Nyonya." Dokter itu langsung menuntun Lisa ke ranjang yang ada di ruangan itu dan membaringkan nya.
Sembari mengecek tekanan darah Lisa, dokter Nadin mengajak nya berbicara.
" Apa kau tak ingat sama sekali apa yang membuatmu sampai tak sadarkan diri tadi malam, Nyonya?" tanya Nadin.
Lisa tak langsung menjawab, dia hanya terus meremas tangan nya sendiri. Seperti sedang menahan sesuatu.
" Eemmm, boleh aku memanggilmu dengan nama mu saja? karena sepertinya kita seumuran," kata Nadin yang tak kunjung mendapatkan jawaban dari Lisa.
Lisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya melihat Nadin.
" Baiklah, aku akan memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Agar kita bisa berteman," kata Nadin tersenyum.
Lisa hanya menganggukkan kepalanya.
" Namaku Nadin Anderson. Aku seorang Dokter psikologi di rumah sakit ini, kau bisa memanggilku Nadin. Apa kau tak keberatan berteman denganku?" kata Nadin.
Lisa tertawa pelan mendengar Nadin yang memperkenalkan dirinya dengan begitu formal.
" Baiklah, aku akan menjadi teman mu. Panggil aku Lisa karena jika kau memanggilku dengan sebutan Nyonya, aku seperti terlihat lebih tua dari mu," sahut Lisa yang kini mulai merasa nyaman dengan situasi ini.
Dokter Nadin pun tertawa mendengar jawaban dari Lisa.
" Jangan menganggap ku sebagai dokter, karena jika sedang bersama mu aku akan menjadi seorang teman dan pendengar yang baik untukmu," jawab Nadin.
" Bisakah kita mengobrol di taman saja? Aku merasa sedang menjadi pasien bila kita berbicara disini," kata Lisa dengan santai dan berhenti meremas tangan nya sendiri.
" Baiklah, kita ke taman yang ada di samping rumah sakit ini saja." Lalu Nadin membantu Lisa turun dari ranjang itu.
" Aku tidak sedang sakit, Nadin. Jadi jangan bersikap seolah aku ini sedang sakit parah," kata Lisa.
" Baiklah," sahut Nadin sambil tertawa.
Lisa menghampiri Adi, dan berkata.
" Kau bisa menunggu ku di kantin rumah sakit ini, Mas. Nanti aku akan menyusul mu."
" Baiklah, Nyonya," sahut Adi dan langsung mendapatkan pukulan kecil dari Lisa.
Mereka pun keluar dari ruangan Dokter Nadin, Lisa nampak sudah nyaman dengan Nadin dan Adi merasa senang dengan hal itu.
" Sepertinya aku harus menghubungi tuan Yosi." Adi langsung melangkahkan kakinya kearah kantin yang ada di rumah sakit itu.
.
.
Kini Lisa dan Nadin sudah berada di taman, mereka duduk di kursi yang ada di tengah taman.
" Jadi, apa ada yang ingin kau bagi denganku, Lisa?" tanya Nadin.
Lisa tak langsung menjawab, dan lagi-lagi dia meremas tangan nya sendiri.
Nadin melihat hal itu, lalu dia memegang tangan Lisa.
" Katakan apa yang sedang kau rasakan saat ini, kau terlihat sedang gelisah," kata Nadin menoleh pada Lisa yang masih menunduk kan kepalanya.
Tapi Lisa tak menjawab nya, lalu Nadin menarik dagu Lisa agar melihat kearah nya.
" Aku teman mu, bukan? jadi jangan pernah bersikap seolah aku ini dokter mu. Kau bisa membagi apapun denganku," kata Nadin tersenyum.
" Apa ada sesuatu yang sedang kau sembunyikan?" kata Nadin pelan.
" Aku ... aku tidak tahu," sahut Lisa.
Nadin tersenyum sambil mengusap punggung tangan Lisa, agar wanita itu merasa tenang.
" Jika ada sesuatu yang ingin kau bagi denganku, aku akan siap untuk mendengarkan mu."
Lisa menoleh pada Nadin lalu tersenyum.
" Jika aku sedang membutuhkan mu, apa kau bersedia mendengarkan segala kegelisahan ku?" tanya Lisa.
" Panggil aku kapan pun kau membutuhkan ku, aku akan datang menemui mu," sahut Nadin sambil tersenyum.
" Terimakasih, Nadin." Lalu mereka pun berpelukan.
.
.
" Hallo, Tuan Adi."
" Hallo, Tuan Yosi. Apa aku mengganggu waktu mu?" kata Adi.
" Tidak, apa ada hal penting yang ingin kau katakan?" jawab Yosi.
" Ya, tapi aku ingin membicarakan ini langsung dengan mu. Bisakah kita bertemu?" kata Adi.
" Apakah ini tentang masalah Lisa?" tanya Yosi.
" Ya, ini tentang Lisa. Jika kau tak keberatan, aku ingin meminta bantuan mu," sahut Adi.
" Baiklah, kita bertemu di cafe teria setelah makan siang nanti," kata Yosi.
" Baiklah, sampai jumpa nanti." Adi langsung mematikan teleponnya. Dia langsung membalikkan badannya dan terkejut saat melihat Lisa berdiri di belakangnya.
" Sayang, apa kau sudah selesai?" tanya Adi sedikit gugup.
" Ya, Siapa yang kau telepon tadi, Mas?" tanya Lisa.
" Emmm, hanya rekan bisnis ku," jawab Adi.
" Apakah kalian ada janji nanti siang?" tanya Lisa yang sempat mendengar pembicaraan itu sedikit.
" Emm ... Iya. Nanti siang aku ada janji. Ayo kita pulang," ajak Adi sambil menggandeng tangan Lisa.
Dia bernafas lega, karena sepertinya Lisa tak mendengar semua pembicaraan nya tadi di telepon.
.
.
Di tempat lain, tepatnya di resort milik Devandra. Mereka semua tampak sudah bersiap untuk pulang ke mansionnya masing-masing.
" Dimas, apa kau akan langsung pulang ke mansion mu?" tanya Dev.
"Tidak, aku akan pulang ke apartemen ku dulu," sahut Dimas.
" Honey, semua sudah siap?" tanya Gita.
" Ya, sudah."
Lalu Gita dan Dimas berpamitan pada Abel, Zea dan juga Alina.
" Hati-hati dijalan, sayang," kata Abel mencium pipi Gita.
" Iya, Aunty." sahut Gita lalu masuk kedalam mobilnya.
" Aku duluan, Dev," kata Dimas lalu masuk kedalam mobilnya.
Lalu semuanya tampak melambaikan tangannya pada mobil Dimas yang mulai meninggalkan area resort itu.
" Kalian sudah siap?" tanya Dev menoleh pada ketiga wanita di belakangnya.
" Ya, kak. Kita sudah siap," sahut Al.
" Baiklah, ayo kita pulang." Dev langsung membukakan pintu mobil untuk ketiga wanita itu.
Lalu Dev mengendarai mobilnya, meninggalkan halaman resort itu.
" Oouuwh ... sepertinya aku akan merindukan tempat ini," kata Alina melihat pemandangan indah di area resort.
" Kau bisa kembali kesini lagi nanti," kata Abel.
" Tapi itu akan lama, Mom," sahut Abel.
" Kapan kau akan kembali?" tanya Zea.
" Mungkin nanti sore, dan aku akan membawa Momy bersama ku," kata Al sambil menggandeng lengan sang Momy.
" Berhenti bersikap manja, Al. Kau harus menjadi wanita yang tangguh," kata Dev sambil fokus dengan kemudinya.
" Aku hanya manja pada keluarga ku saja, Kak. Dan itu masih wajar," sahut Al menyandarkan kepalanya di bahu Abel.
" Kak, apa aku boleh membawa Kak Zea bersama ku?" kata Alina dengan polosnya.
CHIIIITT
Dev langsung menginjak remnya, lalu menoleh pada Alina.
" Dev ... apa yang kau lakukan!" tegas Abel.
Alina merasa takut dengan tatapan tajam dari sang kakak, dan dia menyembunyikan wajahnya di balik bahu sang Momy.
" Kau sudah meminta Momy untuk ikut denganmu, dan sekarang kau juga meminta istriku untuk ikut dengan mu?" kata Dev dengan nada yang dingin.
" Aku hanya bertanya, Kak. Kalau kakak tak mengizinkan yasudah. Aku tidak akan memaksa," sahut Al.
" Sudahlah, Dev." kata Zea
Lalu Dev kembali menjalankan mobil nya.