
Gita menatap kearah Ardo tanpa bicara. Dia hanya menatap nya dengan intens dengan ekspresi datar nya. Tanpa menjawab pertanyaan dari Wilda.
" Hai ... Aku Ardo. Kau pasti Anggita," kata Ardo membuka suara sambil mengulurkan tangannya.
Gita tersenyum canggung pada Ardo. Dan menjabat tangan nya.
" Ya. Itu namaku," sahut Anggita sopan.
Lalu dia menundukkan kepalanya. Entah kenapa dia merasa canggung, dan tak berani membuka suara.
Dimas dan Wilda menatap kearah Gita. Lalu pelayan pun datang dengan membawa makanan untuk mereka.
"Silahkan menikmati. Ini menu rekomendasi dari restoran kami," kata pelayan itu setelah menghidangkan semua makanan di atas meja.
Lalu mereka berempat pun langsung makan malam bersama dengan suasana yang hening. Dan hanya terdengar dentingan dari suara garpu dan sendok yang saling beradu di atas piring.
" Hmmm ... makanan disini sangat enak," kata Gita mulai enjoy dengan situasi ini.
" Ya. Aku bisa mengajari mu masakan yang terkenal di kota ini, jika kau mampir ke mansion kami," kata Wilda.
" Aku mau, Aunty!!" sahut Gita semangat.
Dan membuat Ardo menatap kearah putri cantik nya itu.
"Habiskan dulu makanan kalian. Lalu kita bisa mengobrol setelah ini," kata Ardo dengan suara beratnya.
Gita menatap kearah Ardo sebentar, lalu kembali fokus dengan makanannya.
Setelah selesai dengan makanannya. Mereka mengobrol ringan sembari menikmati pemandangan indah kota Paris dari sana.
" Maukah kalian mampir ke mansion ku?" tanya Ardo.
Gita dan Dimas saling menatap. Lalu Dimas menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada Anggita.
" Baiklah," sahut Anggita.
Hal itu membuat Wilda dan Ardo tersenyum sumringah.
Lalu mereka pun meninggal kan restoran itu dan langsung menuju mansion keluarga Ardo.
Setibanya di mansion itu. Dimas menggandeng tangan Gita masuk kedalam mansion itu.
Mereka berjalan di belakang Ardo dan Wilda. Gita mengedarkan pandangannya di mansion kuno itu.
"Mansion kalian terlihat kuno tapi masih sangat indah," kata Gita sambil terus berjalan kearah pintu masuk mansion yang megah itu.
Lalu pelayan membukakan pintu mansion itu dan mereka pun masuk.
" Selamat datang di mansion keluarga Herlando," kata Wilda mempersilahkan tamunya masuk.
" Waah ... mansion ini sangat indah, Aunty," kata Gita menatap takjub kedalam mansion itu.
"Duduklah," kata Ardo mempersilahkan Dimas dan Anggita duduk di sofa yang terlihat mewah itu.
Sofa itu berwarna merah maron dengan ukuran yang sangat mewah di sandaran sofa itu.
Gita duduk di sofa itu. Dia masih menggenggam erat tangan Dimas.
" Kau menyukai mansion ini?" tanya Wilda. Dia melihat Anggita yang terus menatap ke seluruh sudut di mansion itu.
" Ya. Aku ingin mengelilingi mansion ini," sahut Gita.
" Kau bisa menginap di sini jika kau mau," kata Ardo.
Gita menatap kearah Ardo.
' Apa benar dia ayah kandung ku?' batin Gita bertanya-tanya.
"Ya. Dia ayah kandung mu," kata Wilda. Wanita itu seakan tahu apa yang tengah di pikirkan oleh Gita.
Hal itu membuat Gita mengalihkan pandangannya menatap kearah Wilda.
" Bagaimana kalian bisa se yakin itu?" tanya Gita penasaran.
Lalu Wilda beranjak dari sofa. Dia berjalan kearah meja yang ada di pojok ruangan dan mengambil sesuatu dari lacinya.
" Ini semua tentang mu. Dan kami baru menerima informasi kalau Ardo memiliki seorang putri beberapa hari yang lalu," kata Wilda sambil membawa kotak itu dan meletakkan nya di meja.
Gita melepaskan genggaman tangannya dari tangan Dimas. Dia mengambil kotak itu dan memeriksa semua isi dari kotak itu. Dan melihat beberapa foto nya disana.
" Jadi kau tidak pernah tahu kalau kau memiliki seorang putri?" tanya Gita menatap kearah Ardo dengan matanya yang sudah berair.
" Iya, sayang. Maaf kan Daddy yang sudah tak sengaja menelantarkan mu," kata Ardo dengan sendu.
" Boleh aku memeluk mu?" tanya Ardo dengan merentangkan kedua tangannya.
Gita langsung berhamburan memeluk pria paruh baya itu.
Gita menangis dalam pelukan itu begitu pun sebaliknya. Dimas tersenyum melihat pertemuan itu.
Dia senang ternyata Anggita bisa menerima keberadaan Ardo sebagai ayah kandungnya.
Begitu pun juga dengan Wilda. Wanita itu terlihat meneteskan air matanya.
" Maaf. Aku sempat berpikir bahwa Daddy tak pernah menginginkan kehadiran ku," kata Gita dengan Isak tangisnya.
" Itu tidak benar, sayang. Jika saja aku mengetahui kehadiran mu lebih awal, aku akan berusaha untuk menemui mu sejak dulu," sahut Ardo.
Lalu Gita melepaskan pelukannya. Dia menatap kearah wajah Ardo.
" Kau berhutang banyak cerita padaku," kata Gita dan membuat Ardo tertawa.
Pria paruh baya itu mengusap air mata yang mengalir di pipi putri nya itu.
" Aku akan menceritakan semua nya padamu, aku janji," sahut Ardo tersenyum.
lalu mereka kembali berpelukan.
" Thanks God. Kau telah memberikan ku kesempatan untuk memeluk putri ku," kata Ardo.
Dia terlihat sangat bahagia dari raut wajahnya. Tak pernah di sangka dia akan memiliki seorang putri dari perbuatan jahat nya di masa lalu.
.
.
Di sebuah rumah sakit. Zea mengerjapkan matanya, perlahan dia mulai membuka matanya.
Dia melihat kearah wajah tampan sang suami yang tidur di samping nya. Dia membelai lembut wajah pria itu.
" Sorry," ucapnya lalu mengecup bibir Dev.
Pria itu membuka matanya dan menatap kearah wajah cantik Zea dengan ekspresi datar nya.
" Sorry," ucap Zea lagi yang kini sudah meneteskan air matanya.
Dev mengusap air mata yang menetes itu dan mengecup kening Zea.
" Kenapa kau meminta maaf? apa kau menyadari sesuatu?" tanya Dev.
Wanita itu mengangguk cepat.
" Aku mendengar semua nya," sahut Zea.
Tanpa sepengetahuan Dev. Zea mendengar percakapan Dev dengan Jack yang tadi datang ke ruangan Zea dan memberi kabar bahwa Zidane dan anak buahnya sudah di serahkan ke kantor polisi dan mendapatkan hukuman yang berat.
Dev menatap intens mata Zea yang kembali berair. " Ini bukan salah mu," kata Dev akhirnya.
" Sorry. Jika saja aku tak bertindak sendiri waktu itu, mungkin kita tak akan kehilangan bayi kita, Sorry. Aku sangat menyesali nya, aku berjanji tidak akan berbuat sesuatu di belakang mu lagi. Aku berjanji. Aku benar-benar minta maaf ... Aku__"
" Sssttt ..." Dev memotong perkataan Zea dengan meletakkan jarinya di bibir Zea.
" Ini sudah takdir," sahut Dev.
Pria itu merasa lega karena sang istri sudah menyadari kesalahannya dan berkata jujur padanya meskipun itu sudah terlambat.
Setidaknya Zea berani mengakui kesalahannya dan berjanji untuk tidak mengulangi nya lagi.
Dev memeluk tubuh Zea di atas ranjang yang sempit itu. Dia kembali menangis di dalam pelukan Dev.
" Berhentilah menangis. Kita bisa membuat nya lagi, bukan?" kata Dev yang langsung mendapatkan pukulan yang cukup keras dari Zea.
" Oowwhh ... Itu sakit, Beby. Seperti nya kau sudah mulai pulih," kata Dev.
" Hmmm ... Aku ingin pulang," kata Zea.
" Besok aku akan mengajukan kepulangan mu pada dokter, sekarang tidur lah," kata Dev sambil mengusap punggung Zea.
" Aku sudah tak mengantuk lagi karena sudah tidur seharian ini," kata Zea sambil menatap wajah tampan Dev.
" Lalu? ada yang kau inginkan?" tanya Dev.
" Aku ingin berciuman dengan suami tampan ku," kata Zea dengan senyum tengil nya.
Dev tertawa mendengar keinginan absurd dari sang istri. Dan dia sangat yakin bahwa mental sang istri sudah kembali normal.
" Itu akan bahaya bagi kita, Beby. Bagaimana kalau aku tak bisa menahan hasrat ku nanti?" kata Dev.
" Kau bisa melampiaskan nya di kamar mandi," sahut Zea dengan enteng nya.
PLETAKK
Dev menyentil kening Zea hingga membuat wanita itu meringis kesakitan.