My Lovely Girl

My Lovely Girl
S2 Valerie - Irza 49



~Keputusan Lenski ke asrama~


Pagi menjelang.


Sinar matahari menyilaukan dan menembus celah-celah jendela kamar karena gordennya yang sudah terbuka.


Valerie membuka matanya dan mengerjap kan matanya agar bisa melihat dengan jelas. Dia merasa kan sebuah tangan yang melingkar di perut nya, dan dia kira itu tangan Lenski.


Karena seingat dia, semalam Lenski lah yang menemani nya di kamar hingga dia bisa tertidur dengan pulas. Namun saat dia meraba tangan itu, Valerie baru menyadari bahwa itu bukanlah tangan Lenski.


Akhirnya dia menundukkan kepalanya dan melihat tangan kekar Irza disana. Wanita itu hanya menatap tanpa ekspresi lalu dia mulai mengangkat tangan itu secara perlahan agar bisa terlepas dari pelukan itu.


Irza yang menyadari hal itu, malah melingkar kan lagi tangan nya di perut sang istri. Dia juga mempererat pelukannya hingga membuat Valerie tak bisa bergerak kemana pun.


" Lepaskan aku, aku ingin ke kamar mandi," ucap Valerie dengan suara seraknya.


" Good morning," sahut Irza tak mengindahkan perkataan Valerie dan tanpa membuka matanya.


Valerie menghela nafasnya dan melihat kearah pria yang masih memejamkan matanya di samping nya.


Dia tak mengatakan apapun dan tak menanyakan apapun. Wanita itu hanya menatap wajah tampan yang selama beberapa hari ini tak di lihat nya.


Rindu, itulah yang dirasakan oleh Valerie tapi dia sangat enggan untuk mengatakan nya. Lalu dia mengalihkan pandangan nya dan menatap kearah langit-langit kamar.


Irza membuka matanya dan melihat Valerie yang tampak melamun. Pria itu mendekat kan wajahnya ke ceruk leher Valerie dan mengecup nya.


" Apa yang kau pikirkan?" tanya Irza dengan suara seraknya yang khas bangun tidur.


" Tidak ada," sahut Valerie tanpa melihat kearah Irza.


Lalu mereka terdiam namun masih dalam posisi yang sama.


" Kau tak menanyakan aku ada dimana dan sedang apa beberapa hari ini?" tanya Irza setelah mereka terdiam sedikit lam.


" Tidak," sahut Valerie singkat.


Irza mengerutkan keningnya dan masih menatap wajah tanpa ekspresi sang istri yang biasanya tersenyum pada nya.


" Beby ... Are you Ok?" tanya Irza saat melihat sikap Valerie yang tampak nya berubah dan dingin.


" No." Sahut Valerie singkat dan tegas sambil menatap kearah Irza.


Irza menatap netra indah Valerie yang tak seperti biasanya. Dia melihat kegetiran, kekhawatiran dan kegelisahan disana.


Pria itu tak bertanya lagi dan semakin mempererat pelukannya sambil mencium puncak kepala sang istri.


" I'm sorry," kata Irza.


Wanita itu berjalan kearah kamar mandi dan langsung menutup pintunya setelah dia masuk kedalam ruangan itu.


Irza hanya menatap kepergian Valerie dan dia menyadari kesalahannya yang sudah tak memperhatikan sang istri selama beberapa hari ini karena sibuk dengan urusan Leyra.


.


.


Semua tampak sedang berkumpul di ruang makan. Wilda melihat kearah Valerie dan Lenski yang tampak berubah dan tak sehangat biasa nya.


Lalu dia beralih menatap kearah Irza yang juga menatapnya. Pria itu hanya menghendikkan bahunya tanda bahwa dia tak tahu menahu tentang hal itu.


Suasana makan pagi itu tampak hening dan tak seperti biasanya. Dimana Valerie yang selalu menghidupkan suasana yang sepi menjadi ceria.


Hingga acara makan pagi pun selesai. Lenski meletakkan piring dan garpu nya lalu lekas membuka suara.


" Aunty, Kak Irza. Aku ingin mengatakan sesuatu dan ini sudah keputusan ku," kata Lenski.


Wilda dan Irza tampak menatap kearah Lenski dan menunggu apa yang akan di sampaikan oleh anak cerdas itu.


" Aku ... Aku ingin tinggal di asrama."


Wilda dan Irza tampak terkejut dengan keputusan anak seusia Lenski yang biasanya hanya ingin bersama keluarga.


" Ada apa, sayang? kenapa tiba-tiba kau ingin tinggal di asrama?" tanya Wilda.


" Apa kau tidak betah tinggal disini bersama aunty?" lanjut Wilda sambil memegang tangan Lenski.


Lenski mengangkat wajahnya dan menatap kearah Wilda yang sedang menatapnya seolah menunggu jawaban dari nya.


" Bukan begitu, Aunty. Aku hanya ingin belajar banyak hal di asrama dan aku ingin mandiri karena aku harus mempersiapkan mental ku agar aku bisa memegang serta mengurus perusahaan Ayah ku kelak," kata Lenski.


" Bukan begitu, Kak?" tanya Lenski pada Valerie.


Irza tampak menatap kearah Valerie dengan kening yang berkerut.


" Kau sudah tahu keinginan Lenski tapi kau tak mengatakan hal ini pada ku?" tanya Irza.


" Ini sudah keputusan nya dan itu memang langkah yang benar," sahut Valerie membalas menatap Irza.


" Aku akan mengurus semua kebutuhan mu di asrama, Lenski."


" Tidak perlu," sahut Valerie dengan cepat hingga membuat Irza menatap heran pada sang istri yang sikapnya sudah berubah.