
Kini mobil yang di tumpangi oleh Irza dan Valerie memasuki area perbukitan dan perkebunan Teh.
Valerie masih melihat kearah luar jendela dan tak bertanya apapun pada sang suami. Lalu dia melihat mobil yang dia tumpangi memasuki gerbang tinggi dan setelah itu mobil pun berhenti.
" Kita sudah sampai, Tuan."
Supir itu langsung keluar dan membuka kan pintu untuk sang majikan.
Irza keluar dan mengulurkan tangannya pada sang istri. Lalu Valerie pun keluar dari mobil itu dari pintu yang sama.
" Terimakasih," kata Irza pada supir nya.
Pria itu hanya menganggukkan kepalanya tanda hormat.
Lalu Reza menggandeng tangan Valerie manuju kesebuah villa yang bernuansa putih dan bergaya klasik di depan nya.
Mereka melangkah di depan, sementara di belakang ada supir yang tengah membawa koper mereka.
" Selamat datang, Tuan, Nyonya."
Seorang pelayan yang tak lain adalah istri dari supir Irza menyambut pasangan pengantin baru itu.
Irza hanya tersenyum dan terus menggandeng tangan Valerie masuk kedalam villa itu.
" Terimakasih, Bibik," kata Valerie saat melewati pelayan itu.
Saat berada di ruang tengah. Irza menatap kearah Bibik Nevi yang sedang berjalan di belakang nya dengan mendorong koper nya.
" Letakkan itu di kamar utama, Bik. Dan tidak usah menyiapkan makanan karena kita sudah makan di pesawat," kata Irza sopan.
" Baik, Tuan."
Bibik Nevi melanjutkan perjalanan nya menuju kamar utama yang terletak di lantai dua.
Sementara Irza dan Valerie duduk di sofa ruang tengah. Valerie masih menatap ke segala sudut vila itu.
" Kau menyewa villa ini untuk bulan madu kita , Honey?" tanya Valerie.
" Tidak. Aku membeli nya," sahut Irza sambil memejamkan matanya.
" What!! untuk apa kau membeli nya?" sahut Valerie terkejut.
" Heii ... Ini salah satu villa pribadi ku yang ada di Swiss, sayang. Dan ini sudah menjadi milikku sejak 3 tahun yang lalu," sahut Irza sambil membuka matanya.
" Oh ... aku kira kau membeli villa ini hanya untuk bulan madu kita," sahut Valerie terkekeh.
" Ini juga milik mu, Honey. Apapun yang menjadi milikku kini sudah menjadi milik mu," kata Irza.
" Oouuwh ... aku benar-benar seperti menang lotre. Thank you, Honey."
Valerie memeluk tubuh Irza dan pria itu mengusap punggung nya.
" Tapi itu semua tidaklah gratis," sahut Irza sambil memejamkan matanya dan tersenyum tengil.
Irza hanya terkekeh sambil mempererat pelukannya.
Lalu mereka bangkit dan mengelilingi villa itu.
.
.
Sore menjelang.
Valerie membuka matanya setelah beberapa jam tertidur. Dia tak melihat sang suami di samping nya dan dia langsung beranjak dari ranjang.
Wanita itu masuk kedalam kamar mandi dan langsung membersihkan tubuhnya. Setelah itu dia keluar dan mengganti bajunya.
Valerie keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah seger dan cantik. Dia menuruni tangga dan tak melihat siapa pun disana.
" Kemana semua orang," gumam Valerie sambil terus menuruni tangga.
Lalu sayup-sayup dia mendengar suara dari arah belakang villa. Dia menghampiri asal suara dan melihat bibik Nevi dan pak Beno yang sedang bersama di sana.
" Selamat sore," sapa Valerie dengan senyum cantiknya.
Bibik Nevi dan Pak Beno langsung menoleh dan beranjak dari kursi.
" Ada yang bisa kami bantu, Nyonya?"
Valerie tersenyum dan menghampiri kedua nya.
" Kalian melihat suami ku?" tanya Valerie sopan.
" Tuan Irza sedang lari memutari perkebunan ini, Nyonya," sahut Pak Beno.
" Tidak usah memanggilku Nyonya, Paman. Itu terlihat aku seperti sudah tua," sahut Valerie yang membuat pasangan itu tertawa.
" Bagaimana jika saya panggil Anda Nona," tanya Bibik Nevi.
" Hmmm ... itu terdengar tak terlalu buruk," sahut Valerie tersenyum.
" Boleh aku duduk disini?" tanya Valerie.
" Silahkan duduk, Nona. Aku akan kesana dulu ," kata Pak Beno sambil menunjuk kearah pos.
Sementara Bibik Nevi akan beranjak masuk untuk mengambilkan cemilan dan minuman untuk Valerie.
" Bibik, aku kesepian dan temani aku disini," kata Valerie.
" Aku hanya ingin mengambil kan minuman dan camilan, Nona. Setelah itu aku akan kembali," sahut Bibik Nevi dan dia langsung melanjutkan langkah nya.
Valerie menganggukkan kepalanya dan melihat kearah taman yang cukup luas dan tertata rapi di bagian belakang. Dia juga bisa melihat perkebunan Teh dari sana.
Lalu matanya menangkap sosok tak asing yang sedang berlari jauh di hadapannya.