
" Ada apa, Honey?" tanya Dimas saat melihat ekspresi Gita yang berubah dan matanya yang sudah berair.
Pria itu menghampiri sang istri dan merangkulnya. Wanita itu menangis sambil menyandarkan kepalanya di bahu Dimas.
" Apa ada sesuatu yang terjadi pada Momy?" tanya Dimas dan Gita langsung menggelengkan kepalanya.
" Lalu?"
" Zea di tusuk oleh seseorang hingga harus mengangkat janinnya," kata Gita sambil terisak.
" Oh my. Itu parah, Honey. Jika sampai harus mengangkat janinnya itu berarti pisau itu merobek dinding rahimnya," kata Dimas yang tahu tentang hal itu karena dia juga seorang dokter.
" Kita pulang. Aku ingin melihat keadaan Zea," kata Gita menatap pada Dimas.
Pria itu tampak berpikir. Dia sudah mempunyai rencana untuk mempertemukan Gita dengan ayah kandungnya.
" Kita tunggu telepon dari papah dan Dev," sahut Dimas sambil menangkup wajah Gita.
" Aku tak bisa menunggu lama. Aku ingin pulang sekarang juga!!" tegas Gita sambil menghempaskan tangan Dimas yang ada di wajahnya.
" Honey ... Tenanglah. Aku yakin Zea adalah wanita yang kuat, kau pasti tahu itu, kan?" kata Dimas sambil menenangkan Gita.
" Ya. Zea wanita yang kuat," sahut Gita.
Lalu Dimas memeluk sang istri dan menenangkan nya.
.
.
Dev, Adi serta Lisa duduk di kursi tunggu di depan ruangan operasi.
Adi dan Lisa mengetahui hal ini dari dokter Nadin. Karena Dev terlihat masih sangat shock dengan apa yang terjadi pada sang istri.
Dev duduk dengan kening yang menempel pada tangan yang terkepal erat. Pria itu mengingat sikap sang istri belakang ini serta kondisi Zea yang mual-mual pagi tadi.
Dan tanpa dia sadari ternyata itu adalah tanda-tanda kehamilan sang istri. Dev memukul kepala nya berkali-kali.
" Bodoh ... bodoh ... bodoh," gumam Dev.
Adi menahan tangan Dev yang menyakiti dirinya sendiri. Dia sangat paham apa yang dirasakan oleh sang menantu.
Pria itu langsung kehilangan calon bayinya sebelum dia mengetahui kehadiran nya. Dan itu yang sangat di sesali oleh Dev.
" Bersabarlah. Ini sudah takdir kalian, aku yakin dengan terjadi nya musibah ini akan membuat hubungan kalian semakin kuat," kata Adi sambil mengusap punggung Dev.
Pria itu tak menjawab. Dia hanya menundukkan kepalanya dengan air matanya yang kembali menetes.
" Kau sudah mencari pelakunya?" tanya Adi.
Dev langsung mengangkat wajahnya dan menatap pada Adi.
" Aku belum terpikirkan hal itu sama sekali, Pah," kata Dev.
Dev langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Jack.
" Cari pelakunya, Secepatnya!!" tegas Dev.
Lalu dia langsung memutuskan panggilan itu dan beranjak dari kursi dengan kedua tangannya yang mengepal.
Dev menatap pintu ruangan operasi yang masih tertutup.
" Aku tidak akan mengampuni orang itu," ucap Dev dengan nada yang bergetar.
Dua jam berlalu. Lampu di depan pintu ruangan operasi mati tanda bahwa operasi sudah selesai. Dev beserta Adi dan Lisa melihat kearah pintu.
Setelah beberapa menit. Mereka melihat pintu ruangan operasi itu terbuka dan seorang dokter pria keluar dari ruangan itu.
Dev langsung menghampiri dokter yang masih mengenakan pakaian serba hijau itu dan disusul oleh Adi dan Lisa.
" Bagaimana keadaan istriku, Dokter?" tanya Dev.
" Operasi nya berjalan dengan lancar. Kondisi istri anda sangat stabil dan sudah melewati masa kritisnya. Dia sedang dalam pengaruh Obet bius saat ini," kata dokter itu menjelaskan.
Dev beserta Adi dan Lisa langsung bernafas lega mendengar kabar Zea yang sudah stabil.
" Apa aku bisa melihat nya?" tanya Dev.
" Kami akan memindahkan nya ke ruang rawat. Setelah itu kalian bisa menemui nya. Permisi." Dokter itu langsung pergi dari sana.
Semua tampak berjalan di belakang para perawat yang mendorong ranjang Zea.
Saat ingin masuk kedalam kamar perawatan Zea. Tiba-tiba ponsel Dev berdering.
" Hallo."
Pria itu langsung mengangkat panggilan itu.
" Tuan. Aku sudah menemukan pelakunya," kata Jack dari seberang telepon.
" Siapa dia yang sudah berani berurusan dengan ku!!" sahut Dev dengan geram.
" Tuan Zidane Wilson. Dia pemilik perusahaan ZW.Corp," sahut Jack.
Dev mengerutkan keningnya mendengar nama itu.
" Sepertinya aku tak pernah berhubungan dengan perusahaan itu. Apa motiv nya sampai menyerang Zea dengan tiba-tiba?" tanya Dev.
" Nona Zea pernah menghajarnya di sebuah restoran, Tuan. Karena nyonya Zea ingin memberikan pelajaran pada pria itu yang sudah melecehkan nona Cleo," sahut Jack menjelaskan informasi yang sudah dia dapat.
Dev terkejut mendengar informasi itu yang membuat nya kecolongan dengan tindakan sang istri yang langsung menyelesaikan masalah Cleo sendiri dan tak membicarakan hal itu pada nya.
" Baiklah. Tangkap pria itu beserta orang suruhan nya. Sekap mereka di markas kita!!" tegas Dev dan langsung memutuskan panggilan telepon itu.
" Kau bertindak di belakang ku dan tanpa sepengetahuan ku. Lihat apa yang sudah terjadi, kita bahkan harus kehilangan bayi kita," gumam Dev dengan mengepalkan tangannya.
Pria itu terlihat kecewa pada tindakan sang istri yang berakibat fatal saat ini. Lalu dia masuk kedalam kamar perawatan Zea.
Lisa duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang Zea. Wanita paruh baya itu menangis sambil menggenggam tangan Zea.
" Tenanglah. Dia sudah baik-baik saja," kata Adi menenangkan Lisa sambil mengelus punggung nya.
" Apa dia tahu tentang kehamilan nya? jika iya dia pasti sangat terpukul dengan hal ini," kata Lisa.
Lalu Adi menoleh kearah Dev yang berdiri di sebelah nya.
" Dia tidak tahu tentang kehamilan nya," kata Dev sambil menatap kearah ranjang.
Lisa menoleh pada Dev.
" Lalu ... apa kau akan mengatakan hal ini padanya?" tanya Lisa.
" Entahlah. Aku tak tahu harus bagaimana," sahut Dev sambil mengangkat kedua bahunya.
" Bertanyalah pada dokter. Seperti apa baiknya," kata Adi sambil menepuk bahu Dev.
Dev tak menjawab, dia hanya terus menatap kearah ranjang dengan ekspresi datar nya.
" Bagaimana kronologis kejadian nya, Dev?" tanya Adi.
" Tadi pagi Zea mual dan muntah yang sangat parah hingga dia terlihat sangat lemas. Aku berniat membawanya ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan nya. Tapi di tengah jalan Zea meminta untuk membeli sebuah kue. Saat itu Zea sedang memiliki beberapa kue dan aku sedang mengangkat panggilan telepon dari ponselku. Lalu seorang pelayan berteriak dan aku sudah melihat Zea yang sudah bersimbah darah tanpa sempat melihat pria yang sudah melarikan diri," kata Dev panjang lebar menjelaskan pada Adi.
" Itu pasti sudah di rencanakan dengan sangat matang, Dev. Apa kau tak melihat ada mobil yang mengikuti mu dari belakang?" tanya Adi.
" Entahlah. Aku tak terlalu memperhatikan kondisi di sekitar ku, Pah," sahut Dev.
" Apa kau menemukan pelakunya?" tanya Adi lagi.
" Ya. Anak buahku sedang dalam proses menangkap nya," sahut Dev.
Setelah beberapa lama mereka mengobrol. Lisa merasakan tangan Zea yang bergerak. Wanita paruh baya itu mengusap lembut puncak kepala Zea sambil berkata.
" Bangunlah, sayang."
Adi dan Dev langsung melihat kearah ranjang dan menghampiri nya.
Zea membuka perlahan matanya. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali agar bisa melihat lebih jelas pada orang-orang yang mengelilingi nya.
Kini dia sudah membuka matanya secara sempurna dan menatap orang-orang yang ada di ruangan itu.
Lalu tiba-tiba dia menangis.
" Ada apa, sayang? apa ada yang sakit?" kata Lisa sambil mengusap air mata yang menetes di pipi Zea.
" Bayiku ...," gumam Zea dalam tangisan nya.