
Valerie menatap kepergian irza. Dia tahu pasti pria itu mengira bahwa dia akan menolaknya.
" Uncle ... aku memang belum memiliki perasaan pada nya. Tapi aku merasa aman saat semalaman bersama nya. Dia pria yang sangat baik meskipun cukup menyebalkan."
Semua tampak mendengarkan ucapan dari Valerie dan Wilda menghampiri nya.
" Lalu? apa kau mau menikah dengan nya?" tanya Wilda sambil merangkul bahu Valerie.
Valerie menoleh pada Wilda dan tersenyum pada nya.
" Tapi dia sudah menarik perkataan nya, Aunty. Dan itu artinya dia membatalkan rencana ini," sahut Valerie sambil menundukkan kepalanya.
Wilda tersenyum dan mengangkat dagu Valerie hingga bisa menatap matanya.
" Maka kami yang akan melamar mu untuk nya. Jangan perduli kan dia, dan dia pasti hanya bercanda," ucap Wilda menenangkan Valerie.
Ardo menggerakkan tangan nya dan menggenggam tangan Valerie.
" Aku melamar mu untuk putra ku. Jadi ... apa kau mau menerima lamaran kami?" tanya Ardo.
Valerie tersenyum. Dia menoleh kearah Wilda dan kembali menatap kearah Ardo.
" Baiklah. Aku menerima lamaran ini," ucap Valerie dengan yakin.
Dan membuat semua nya tersenyum bahagia. Bahkan seseorang yang bersembunyi di balik pintu sampai bersorak hingga kepalanya terbentur dinding pintu.
Hal itu membuat semua orang yang ada di ruangan Ardo menatap kearah nya. Pintu yang tadinya tertutup seketika terbuka.
Disana ada Irza dengan senyum tengilnya. Ternyata pria itu malah berdiri di depan pintu dan menguping pembicaraan yang terjadi di dalam ruangan.
" IRZAA!!!" teriak orang-orang menatap kesal pada Irza yang malah tersenyum tanpa dosa.
" Dasar pria tengil!!" kata Gita sambil menggelengkan kepalanya.
" CK. Inilah diriku, Kak. Pria tengil dengan sejuta pesona," sahut Irza dengan percaya diri.
" Kau lihat, Aunty. Sifatnya itu lah yang membuat ku ingin berpikir ulang," kata Valerie.
Wilda tersenyum.
" Setidaknya hidup mu akan lebih berwarna jika bersamanya, sayang."
Semua tertawa. Irza menghampiri Valerie dan menggenggam tangan nya.
Pria itu berlutut di hadapan Valerie hingga membuat wanita menundukkan wajahnya. Dia menatap kearah pria yang berlutut di hadapannya.
Irza mengeluarkan satu kota kecil dari saku celananya. Dan membuka nya di hadapan Valerie.
Ya. Irza sudah menyiapkan cincin untuk Valerie yang baru saja dia dapat kan dari orang suruhannya.
Valerie terpaku dan dia sangat terkejut ternyata Irza sudah sangat niat untuk melamar nya di hadapan keluarga nya.
Irza mengambil tangan Valerie dan menyematkan cincin berlian itu di jari manisnya.
Dia berdiri dan tersenyum kearah Valerie yang menatapnya penuh haru.
' Dia sangat manis, oh God ... dia membuat hatiku berdebar,' batin Valerie.
" Ah ya. Kau tak mau melihat Lenski?" kata Irza membuyarkan lamunan Valerie.
" Astaga ... aku melupakan Lenski. Saya permisi dulu Uncle, Aunty. Dan semua nya." Valerie langsung bergegas keluar dari ruangan itu.
Di ikuti oleh Irza di belakangnya.
" Ir ... kau tak ke perusahaan?" tanya Gita.
Irza menghentikan langkahnya dan menoleh pada sang kakak.
" Aku bisa mengerjakan pekerjaan ku dari sini, Kak."
Lalu dia langsung melanjutkan langkah kaki nya. Gita hanya tersenyum dan menggeleng kan kepalanya melihat Irza yang sepertinya sudah memiliki tujuan hidup.
" Sepertinya dia sudah terpikat oleh kecantikan Valerie," kata Gita.
" Ya. Dan baru kali ini dia semangat mengejar seorang wanita," sahut Wilda.
" Mom ... Lalu bagaimana hubungan Irza dengan Leyra?" tanya Gita saat mengingat wanita yang sering ke mansion untuk bertemu dengan Irza.
" Apa mereka memiliki hubungan sebelum nya?" tanya Dimas.
" Entahlah. Tapi wanita itu pasti akan sangat kecewa jika Mende Irza sudah memiliki tunangan," sahut Gita.
" Tapi yang Momy tahu, Irza sedang tak memiliki hubungan dengan wanita. Apalagi dengan Leyra. Bukannya mereka hanya bersahabat?" sahut Wilda.
" Mom ... Tidak ada seorang wanita dan pria yang murni bersahabat. Jika Irza memang menganggapnya hanya sebatas sahabat tapi tidak dengan Leyra. Gadis itu terlihat sangat menyukai Irza," sahut Gita.
" Hmmm ... kau benar, Sayang. Tapi itu urusan Irza, kita tak berhak mencampuri nya."
Wilda mengambil tasnya dan memasukkan ponselnya.
" Aku pulang dulu, Honey. Nanti sore aku kesini lagi, apa kau ingin ku buatkan sesuatu?" kata Wilda menghampiri ranjang Ardo.
" Hmmm ... aku merindukan sup makaroni buatan mu," sahut Ardo.
" Baiklah, nanti akan ku buat kan. Aku pamit pulang dulu, hmmm."
Wilda mencium Kening Ardo sebelum keluar dari ruangan itu.
" Hmmm ... Hati-hati."
Wilda tersenyum dan melangkah menuju pintu.
Gita ikut beranjak untuk mengantarkan Wilda ke parkiran.
" Istirahat lah,Dad. Aku akan mengantar kan Momy terlebih dahulu," ucap Gita dan hanya di balas anggukan oleh Ardo.