My Lovely Girl

My Lovely Girl
Bab 30



Kini Zea sudah selesai mengganti pakaiannya, dia sengaja tidak memanggil Dev karena dia ingin berusaha keluar dari walkin closed sendiri tanpa bantuan dari siapapun.


"Ayo ,zea kau pasti bisa," gumamnya menyemangati diri sendiri.


Zea mencoba turun dari meja marmer itu dengan perlahan.


Bersamaan dari itu Dev muncul di belakang Zea tanpa dia sadari.


Wanita itu mencoba melangkah kan kakinya tapi ternyata Zea belum bisa menjaga keseimbangan nya karena pusing di kepalanya.


"Hufft, hampir saja," gumamnya sambil berpegangan pada meja marmer itu.


Lalu Zea berbalik dan kepalanya terbentur pada dada bidang Dev yang tepat berada di belakangnya.


"AW ... Dev kau mengejutkan ku," ucap Zea sambil memegang keningnya.


"Kenapa kau tak memanggil ku, kalau kau sudah selesai," jawab Dev lalu menggendong Zea keluar dari ruangan itu.


Zea tak menjawab dan hanya mengalungkan tangan nya di leher sang suami.


"Turunkan aku di kursi roda, aku ingin ke taman," ucap Zea tanpa melihat kearah wajah Dev yang sangat dekat dengan wajahnya.


"Baiklah, aku akan menemani mu," sahut Dev menurunkan Zea di kursi rodanya.


"Tidak perlu, aku tahu pekerjaan mu masih banyak," sahut Zea melihat kearah meja kerja Dev yang memang masih berantakan.


"Aku akan mengantarkan mu ke taman," jawab Dev lalu mendorong kursi roda itu keluar dari kamar.


"Ck, terserah kau saja," sahut Zea.


.


.


"Dev, kau mau bawa Zea kemana?" tanya Abel yang berada di ruang tengah.


"Zea ingin ke taman, Mom," jawab Dev sambil melanjutkan mendorong kursi roda Zea.


"Tunggu Dev, biar Momy yang menemaninya," sahut Abel beranjak dari sofa lalu menghampiri Zea dan Dev.


"Baiklah," sahut Dev menghentikan langkahnya.


"Apa kau tak keberatan bila Momy yang menemani mu, sayang?" yanya abel yang sudah berada di belakang kursi roda Zea.


"Tidak Mom, terimakasih," sahut Zea menoleh ke belakang.


"Aku akan melanjutkan pekerjaanku dulu," ucap Dev lalu mencium kening Zea dan melangkah kan kaki kembali ke kamarnya.


Zea hanya menganggukkan kepalanya tanpa ekspresi lalu Abel membawa nya ke taman yang luas di halaman mansion.


"Apakah dulu aku menyebalkan, Mom?" tanya Zea yang kini sudah berada di taman.


Abel tersenyum mendengar pertanyaan dari sang menantu.


"Ya ... mungkin, tapi karena sikapmu itulah Dev menyukai mu," jawab Abel mengusap rambut Zea.


"Apakah Momy tahu tentang diriku dulu?" tanya Zea lagi.


"Hmm ... sedikit, karena kau baru beberapa hari bertunangan dengan Dev tapi kau harus mengalami kecelakaan," jawab Abel sambil tersenyum pada menantunya itu.


"Ceritakan apa yang Momy tahu tentang diriku," ucap Zea memandangi bunga-bunga yang tertata rapi di taman itu.


" Hmm ... yang Momy tahu kau sangat suka mengendarai motor, kemanapun kau pergi selalu memakai motor gedde kesayangan mu," kata Abel menerawang.


"Hmm ... aku mendengar itu saat aku belum membuka mata ku," sahut Zea.


"Ya sayang, Momy ingat sekali saat bertemu dengan mu di jalanan saat kau mengendarai motor kesayangan mu itu," kata Abel.


"Apa Momy tahu bagaimana aku bisa kecelakaan?" tanya Zea lagi.


"Yang momy tahu, kau kecelakaan saat perjalanan pulang dari sini, sayang," jawab Abel melihat kearah Zea.


"Siapa yang menolong ku kala itu?" tanya nya lagi menoleh pada Abel.


"Dev yang menolong mu, kebetulan dia mengikuti mobil taksi yang kau naiki, sayang," jawab Abel memegang tangan Zea.


"Sudahlah, lupakan tentang insiden itu, yang terpenting kau selamat dan bisa berkumpul lagi dengan kami," ucap Abel lagi mengusap pipi mulus Zea.


"Dia memiliki seorang adik perempuan yang usianya masih 17 tahun, dia sedang menempuh pendidikan di luar negeri bersama sepupunya," jawab Abel menceritakan adik Dev.


"Apakah dia tidak pernah pulang kemari?" tanya Zea lagi.


"Jarang, dia sangat sibuk dengan study nya dan mungkin akan pulang kemari saat pesta pernikahan kau dan Dev," jawab Abel.


"Baiklah ini sudah mulai petang, sayang. Ayo kita masuk," ucap abel dan hanya dibalas anggukan oleh Zea lalu mendorong kursi roda Zea masuk kedalam mansion.


"Kau ingin Momy antar ke kamar?" tanya Abel ketika sudah berada didalam mansion.


"Tidak Mom, aku ingin di sini bersamamu," jawab Zea.


"Baiklah, kita bersantai di ruang tengah saja," jawab Abel dan berjalan menuju ruang tengah yang terdapat TV besar disana.


.


.


" Mom, aku keluar sebentar dan jangan menunggu ku karena aku akan makan malam bersama teman ku," ucap Gita lalu mencium pipi Momy nya.


"Jangan pulang terlalu malam, Honey," kata Adi yang muncul di belakang Gita lalu mencium keningnya.


"Baiklah Pah," sahut Gita mencium pipi Adi juga.


"Bye Mom, Pah," kata Gita berjalan menuju pintu utama mansion tapi tiba-tiba menghentikan langkahnya ketika melihat pria tampan yang sedang berdiri di pintu utama.


'Dia lagi,' batin Gita saat melihat wajah tengil Dimas.


"Hati-hati dijalan, sayang. Dimas tolong jaga Gita dan jangan pulang terlalu malam," kata Adi yang memang sengaja mengundang Dimas ke mansionnya untuk mengantarkan Gita.


"WHAT ... Pah aku bisa berangkat sendiri tanpa pria itu," kata Gita tak terima.


"Kalau kau tidak menurut, tak usah keluar!" jawab Adi tegas lalu duduk di sofa itu.


"Iiisshh ... menyebalkan, kau merampas kebebasan ku," ucap Gita ketus saat melewati Dimas.


Pria itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Mau kemana kita?" tanya Dimas saat berada di belakang kemudinya.


"Ke restoran Empire," jawab Gita cuek.


"Wow, apa kita akan makan malam romantis disana?" Goda Dimas lalu menyalakan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang.


"What ever," jawab Gita ketus.


Dimas Tergelak mendengar jawaban dari sang calon istri.


"Heii, kita akan menikah kenapa sikapmu masih ketus padaku," ucap Dimas.


"Karena aku tak ingin menikah dengan siapapun, apalagi dengan mu," jawab Gita.


Dimas tertawa mendengar ucapan dari Gita yang seakan menolaknya.


"Kau tetap akan menikah dengan ku," sahut Dimas sambil mengacak rambut Gita.


"Dan aku akan membuatmu berubah pikiran," sahut Gita sambil merapikan rambutnya.


"Lakukan semua rencana konyolmu dan aku akan tetap pada pendirian ku," jawab Dimas fokus mengendarai mobilnya.


'Ohh God, sepertinya aku merasakan apa yang di rasakan Zea dulu,' batin Gita.


.


Kini Dimas dan Gita telah sampai di restoran Empire. Mereka berjalan memasuki restoran itu dan melihat seorang pria melambaikan tangannya pada Gita.


"Anggita ... " Panggil pria itu melambaikan tangannya.


Gita pun membalas lambaian tangan itu tapi Dimas menarik tangannya dan menggandengnya.


"Apa yang kau lakukan," ucap Gita heran.


"Inilah yang dilakukan para pasangan diluar sana," jawab Dimas berjalan sambil menggandeng tangan Gita.