My Lovely Girl

My Lovely Girl
S2 Valerie - Irza 28



Lama Valerie memandang pria itu dengan senyum cantiknya.


' He's mind,' batin Valerie masih menatap penuh pesona pada sosok pria yang tengah berlari di tengah - tengah perkebunan itu.


Hingga pria itu mulai mendekati area Villa dan tatapan nya bertumpu dengan tatapan mata Valerie.


" Tunggu aku disana!!" teriak Irza tanpa menghentikan kegiatan berlari nya.


Valerie hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Ya. Pria yang sejak tadi di tatap oleh Valerie tak lain adalah Irza, sang suami. Pria itu sedang berlari sore memutari perkebunan teh di sekitar villa hanya menggunakan celana training pendek.


Tubuh kekar nya terlihat begitu **** karena keringat yang menempel di kulit nya. Dia tak mengenakan baju dan itu memperlihatkan dada bidang serta perut sixpack nya.


Valerie sangat mengagumi sosok sang suami yang sangat **** di matanya. Apalagi jika mengingat percintaan panas yang cukup sering mereka lakukan, itu membuat Valerie berkedudukan.


Lalu datanglah Bibik Nevi dengan membawa beberapa cemilan dan juga minuman. Wanita paruh baya itu menyajikan nya di meja yang ada di hadapan Valerie.


" Maaf, jika aku merepotkan mu, Bibik."


Wanita paruh baya itu lekas mengangkat wajahnya dan menatap kearah istri majikan nya.


" Tidak merepotkan sama sekali, Nona. Bahkan aku sangat senang jika Nona dan Tuan kemari. Karena setidaknya aku memiliki kegiatan dan tak hanya berdiam diri disini," sahut Bibik Nevi sambil tersenyum.


" Hmmm ... terimakasih, Bik."


Valerie melihat bibik Nevi yang hanya berdiri di sampingnya.


" Duduklah, Bik. Aku ingin Bibik menemani ku disini. Kita akan mengobrol santai dan menikmati sore yang menenangkan ini," lanjut Valerie.


Bibik Nevi akhirnya menuruti kemauan Valerie dan lekas mendudukkan dirinya di samping Valerie.


" Ah ya. Apa Bibik sudah lama bekerja disini?" tanya Valerie sambil menikmati camilan yang ada di hadapannya.


" Sejak Villa ini berdiri, aku sudah tinggal disini, Nona," sahut Bibik Nevi sambil menatap kearah hamparan rumput hijau di depannya.


" Berarti sudah 3 tahun Bibik bekerja disini?" tanya Valerie.


Bibik Nevi tersenyum dan menggeleng kan kepalanya.


" Lalu? apa Bibik bekerja disini sebelum villa ini menjadi milik suami ku?" tanya Valerie lagi.


" Jawab aku, Bik. Aku penasaran," lanjut Valerie.


Wanita paruh baya itu menghela nafas panjang dan menghembuskan nya. Dia melihat kearah Valerie dan mulai membuka mulutnya untuk menceritakan asal mula villa itu berdiri hingga kini menjadi milik Irza.


" Dulu sekali. Sebelum villa ini di bangun, ada sebuah rumah kecil yang terdapat keluarga kecil yang tinggal didalam nya. Dan rumah kecil itu berdiri tepat dimana Villa ini berdiri," kata Bibik Nevi memulai ceritanya.


Valerie terus menatap kearah Bibik Nevi sambil mengunyah camilan nya.


" Rumah itu adalah tempat tinggal ku bersama anak serta suami ku. Kita hidup dalam kemiskinan bahkan kekurangan," lanjut Bibik Nevi yang semakin membuat Valerie semakin penasaran.


" Lalu suatu hari ketika anak kami beranjak dewasa. Dia bertemu dengan seorang pemuda kaya yang mau menikahi nya, dia sangat percaya dengan pemuda hingga dia mau melakukan apapun untuk pemuda itu. Nahasnya, dia tak tahu jika pemuda itu hanya memanfaatkan keluguannya. Mereka menikah dan dalam pernikahan itu putri ku semakin tersiksa, pemuda itu meminta surat tanah kami dengan paksa dan menjualnya pada saudagar kaya yang memang mengincar tempat kami tinggal."


Valerie tercengang dan tak berkata apapun selain menunggu kelanjutan cerita itu. Dia mengambil sebuah toples kaca yang terdapat camilan di dalamnya dan membawanya ke pangkuan nya.


" Kami hanya bisa pasrah dan tak bisa berbuat apa-apa. Kita di usir secara paksa dari rumah kecil kami, dan tanpa di berikan sepeser uang pun. Putri kami merasa bersalah dan dia frustasi hingga dia memilih untuk menghabisi nyawa nya sendiri. Dia melompat dari atas tebing yang begitu tinggi dan kami hanya bisa menangisi kepergian nya." Bibik Nevi menghentikan cerita nya dan dia mengusap air mata yang menetes dari sudut matanya.


Valerie pun demikian. Dia juga mulai menetes kan air matanya saat mendengar kisah tragis itu.


" Heii ... apa yang kalian lakukan? kenapa kalian sama-sama menangis?" tanya Irza yang sudah ada di ambang pintu kaca yang menjadi pembatas di halaman belakang villa itu.


Mendapatkan suara itu. Bibik Nevi dan Valerie langsung menoleh.


" Bibik Nevi menceritakan sebuah dongeng yang cukup menyedihkan, Honey," sahut Valerie sambil terisak.


Irza menatap kearah wajah Bibik Nevi yang memerah. Dan dia bisa menebak dongeng apa yang sedang di ceritakan oleh pelayan nya itu.


Dia memeluk sang istri dan menenangkan nya.


" Maaf, jika cerita dari Bibik malah membuat suasana hati Nona sedih," kata Bibik Nevi tak enak hati.


Valerie beringsut dari pelukan sang suami dan melihat kearah Bibik Nevi.


" Tidak, Bik. Aku hanya terbawa suasana saja," sahut Valerie.


" Kalau begitu, saya permisi kedalam dulu, Tuan, Nona."


Bibik Nevi langsung melangkahkan kakinya masuk kedalam dan meninggalkan Valerie dan Irza disana.


Irza menatap kearah wajah sang istri dan membawanya masuk dan menuju kamarnya.