
Seminggu kemudian.
Dimas turun dari pesawat pribadi nya, pria itu sudah kembali dari luar negeri dan sudah menyelesaikan pekerjaan nya.
"Tuan, hari ini adalah acara kelulusan dari nona Anggita. Apakah anda akan langsung menemui nya?" tanya asisten Dimas.
"Hmmm, kita langsung kesana." Pria itu langsung masuk kedalam mobil Range Rover milik nya.
Supir nya langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kota B, dimana acara kelulusan itu berlangsung.
" I Miss you my sweet heart," ucap Dimas lirih sambil memandang foto seorang wanita yang sangat di cintai nya.
" Apa kau sudah menyiapkan apa yang aku minta?" tanya Dimas pada asistennya.
"Sudah Tuan, semua yang anda minta sudah saya sediakan."
"Thanks, Jo." Sang asisten hanya tersenyum pada sang big boss.
.
.
Di kota B, tepatnya di gedung universitas dimana Gita menempuh pendidikannya.
Seorang wanita cantik tampak berjalan dengan anggun menuju halaman kampus dimana acara akan ber langsung.
"Anggita !!" teriak seseorang dari arah sampingnya.
Wanita itu menoleh dan senyumnya langsung tersungging saat melihat saudarinya berjalan menghampiri nya.
" Zea ... akhirnya kau datang," kata Gita memeluk saudarinya itu.
" Aku sudah berjanji padamu, jadi aku pasti akan datang." Zea melepas pelukannya dan melihat penampilan Gita.
"Wow ... your so pretty," ucap Zea memuji kecantikan Gita.
"Thanks my sister." Gita langsung menuntun Zea menuju kursi yang telah di sediakan untuk para keluarga mahasiswi.
Gita terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya modern yang berwarna dusty, serta rambut yang di style modern dan makeup flawlesnya.
"Heii, dimana Dimas? apa dia belum dapang?" tanya Dev muncul dari belakang Zea.
"Entahlah, mungkin dia tidak akan datang," jawab Gita sendu.
"It's oke, honey ... ada kami disini."
Gita langsung menoleh pada sumber suara dan senyumnya langsung tersungging ketika melihat Adi di belakangnya.
"Papah ... Momy, ku kira kalian tak akan datang," ucap Gita memeluk kedua orang tua nya.
" Kami pasti akan datang, sayang," jawab Lisa membalas pelukan putri nya.
Lalu ada panggilan dari panitia acara, agar para mahasiswa bersiap dan menempati tempat yang sudah di sediakan.
Gita pun pergi meninggalkan keluarga nya dan berjalan menuju tempat yang sudah di sediakan.
' Kenapa aku merasa ada yang kurang? Apa yang kau harapkan lagi Gita, keluarga mu sudah berkumpul disini,' batin Gita berjalan sambil menoleh kearah gerbang universitas, berharap seseorang akan datang.
Acara pun dimulai, diawali dengan sebuah pidato dari kepala universitas dan beberapa hiburan dari para mahasiswa.
Kini acara inti pun di mulai, Panitia mulai memanggil satu persatu nama mahasiswa dan mahasiswi mereka yang sudah lulus.
" Kau sudah berjanji padaku akan datang, awas saja kalau kau tidak datang, dokter gadungan," Gita bergumam sambil terus melihat kearah gerbang.
Zea melihat ke gelisahan Gita, dan bertanya pada sang suami.
"Dev, apa kau yakin Dimas akan datang?" tanya Zea berbisik.
"Ya Beby, dia sedang dalam perjalanan menuju kemari," sahut Dev.
Kini nama Anggita Pradipta di panggil oleh panitia, Gita langsung berdiri dari kursinya dan melangkah kan kakinya perlahan menuju podium.
Bersamaan dari nama Gita yang di panggil, Dimas tiba di halaman universitas.
Ketika Gita sudah di atas podium, tatapan nya bertumpu dengan tatapan seorang pria yang sedari tadi di tunggunya.
Senyumnya terukir indah menatap sosok pria tampan yang berdiri jauh di hadapan nya sambil memegang buket bunga.
' Akhirnya kau menepati janji mu,' batin Gita.
.
Kini acara sudah selesai, semua mahasiswa berkumpul dengan keluarga masing-masing.
" Selamat sayang, akhirnya kau menyelesaikan pendidikan mu," ucap Lisa memeluk sang putri.
Begitupun dengan Adi.
" Papah sudah menyiapkan perusahaan yang akan kau jalankan sendiri. Selamat, Honey." Adi mencium puncak kepala sang putri dan memeluk nya.
" Perusahaan mu akan bersaing dengan perusahaan ku nanti," ucap Zea memeluk saudarinya.
" Baiklah, kita lihat saja nanti." Gita membalas pelukan dari Zea.
" Selamat atas kelulusan mu Gita, ku harap nanti kita bisa bekerjasama dalam bisnis kita," ucap Dev mengulurkan tangannya pada Gita dan Gita langsung menjabat tangan Dev.
"Thanks," sahut Gita.
Tiba-tiba ada yang memberikan buket bunga yang indah dari belakang kepada Gita.
Wanita itu tersenyum dan menerima buket bunga itu, lalu menolehkan wajahnya melihat pria tampan yang kini sudah berdiri di hadapannya.
" Maaf, aku sedikit terlambat," ucap Dimas sambil menaruh kedua tangannya di kuping nya.
Gita tak menjawab dan langsung memeluk tubuh pria itu yang sangat di rindukan nya.
Dimas pun membalas pelukan dari calon istrinya sembari mengangkat tubuh Gita dan memutarnya.
Semua melihat kearah 2 sejoli itu dan tersenyum melihat kelakuan mereka.
" Ehem ... ehemm." Adi berdehem dan menyadarkan dua sejoli itu.
Mereka melepaskan pelukannya dan saling memandang.
" Your so beautiful," ucap Dimas memuji kecantikan Gita. Melihat penampilan Gita dari ujung kaki hingga kepala.
"Thanks," sahut Gita lirih.
"Selamat ata kelulusan mu, Honey." Dimas mengangkat tangan Gita lalu mencium punggung tangannya.
Dari kejauhan, banyak mata yang melihat kemesraan mereka, dan banyak dari mereka yang patah hati melihat sang primadona kampus sudah berdampingan dengan seorang pria.
"Apakah dia sosok pria tampan yang sudah memenangkan hati sang primadona kampus?" kata seorang mahasiswa.
"Ya, sepertinya begitu," jawab mahasiswa yang lain.
"Aku rela melepaskan sang primadona, jika memang dia pria yang akan mendampingi nya," ujar mahasiswa yang lain.
Lalu ada seorang pria tampan yang menghampiri Gita dan memberikan buket bunga juga padanya.
" Ini untukmu, selamat atas kelulusan mu, Gita." Arga memberikan buket bunga itu pada Gita.
" Thanks, kak Arga," sahut Gita menerima buket bunga itu sambil tersenyum.
" Ini untukmu, datang lah." Gita memberikan sebuah undangan pesta pertunangan nya pada Arga.
Pria itu tak langsung mengambilnya, dia masih terpaku dan terlihat shock sambil menatap undangan itu.
' Kuatkan hati mu, Arga. Itu hanya undangan pertunangan bukan pernikahan," batin Arga.
Lalu menerima undangan itu dan tersenyum.
" Aku pasti akan datang," jawab nya menahan kekecewaan yang dia rasakan.