
~ Tak menemukan Valerie ~
Semalaman Irza tak tidur dan masih berkutat di depan laptop nya. Pria itu sengaja untuk mengalihkan pikirannya pada pekerjaan nya karena dia sangat mencemaskan sang istri.
Sesekali dia melirik kearah ponselnya berharap ada pesan atau informasi tentang Valerie dari anak buahnya.
Irza sudah menyuruh semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Valerie di negara itu. Bahkan dia juga menyuruh anak buahnya untuk melihat rekaman cctv di jalanan.
Dia tak bisa menghubungi nomor ponsel Valerie dan itu membuat nya begitu frustasi hingga Irza sudah tak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaan nya.
Pukul 3 dini hari. Irza masih belum tertidur karena dia masih berusaha melacaknya keberadaan Valerie melalui ponselnya.
Lalu tiba-tiba ponselnya berbunyi. Pria itu langsung mengambil ponselnya dan menjawab panggilan itu.
" Bagaimana? kau sudah menemukan dimana istriku?" tanya Irza dengan penuh harap.
" Kami tak bisa menemukan keberadaan istri anda, Tuan. Terakhir dia berada di kota X, Nyonya sempat menggunakan kartu nya di kota itu lalu kita tak bisa menemukan jejak nya lagi. Kita juga sudah memeriksa di seluruh bandara dan tak ada tanda-tanda Nyonya Valerie disana bahkan tak ada namanya di daftar penerbangan hari ini," kata anak buah Irza menjelaskan.
Irza tampak lemas dan memijat keningnya, dia sangat mencemaskan sang istri namun dia tak bisa menemukan keberadaan nya.
" Tetap cari keberadaan nya, dan jika perlu kau cari dia di luar negeri atau dimana pun sampai istri ku di temukan!" tegas Irza dan langsung memutuskan panggilan itu.
Dia meletakkan ponselnya di meja dan memejamkan matanya. Pikiran nya buntu dan dia ingin segera menemukan sang istri.
" Dimana kau Valerie," gumam Irza.
Lalu dia beranjak dari kursinya dan keluar dari ruangan itu.
.
.
Pagi menjelang.
Irza membuka matanya perlahan dan meraba ranjangnya. Dia menoleh kearah samping dimana biasanya Valerie tidur di samping nya namun tidak dengan malam ini.
" Ada apa dengan mu, Valerie? kenapa kau meninggalkanku seperti ini?" gumam Irza.
Lalu dia mengingat penjelasan dari supir nya semalam bahwa paman Beno sempat mengantarkan Valerie ke rumah sakit.
" Jika paman Beno mengantarkan Valerie ke rumah sakit, itu artinya wanita yang dikira Momy adalah Valerie, itu benar-benar Valerie," gumam Irza yang pikiran nya mulai jernih.
" Tapi untuk apa Valerie ke rumah sakit?" pikir Irza.
Lalu dia bangkit dan berjalan kearah kamar mandi. Dia masuk ke kamar mandi dan langsung berendam di bathtub nya karena dia ingin merilekskan tubuh dan pikirannya.
Pria itu menyandarkan kepalanya dan pikirannya masih terpusat pada Valerie.
" Paman Beno mengantarkan Valerie ke asrama? aku akan kesana untuk menanyakan hal ini pada Lenski," gumam Irza.
Sekitar 15 menit Irza menyelesaikan acara mandi nya. Dia melilitkan handuk di pinggangnya dan berjalan kearah cermin di depan wastafel.
Lalu matanya melihat sebuah benda kecil dan membuat pandangannya terpaku pada benda kecil itu.
Tangan nya terulur untuk mengambil benda itu dan membawanya ke depan matanya. Tiba-tiba air matanya menetes dan dia tak bisa berkata-kata setelah melihat dua garis di alat testpack itu.
" Valerie hamil, istri ku hamil?" gumam Irza dengan air mata yang sudah menetes.
Dia merasa sangat bahagia namun saat mengingat bahwa Valerie sudah pergi entah kemana, itu membuat Irza kembali terpuruk.
" Itu artinya dia membalas pergi bayi ku, bayi kita? dan ini alasan nya pergi ke rumah sakit kemarin," gumam Irza.
" Apakah dia melihat ku bersama Leyra di rumah sakit? dan dia kecewa karena aku tak mengabarinya?"
" Oh my God. Sepertinya aku melakukan kesalahan yang fatal dan dia salah paham pada ku," gumam Irza.
Pria itu bergegas keluar dari kamar mandi dan langsung memakai pakaiannya. Dia akan ke rumah sakit untuk memeriksa cctv di sana dan juga akan menanyakan tentang Valerie pada Lenski.