
Dev masuk kedalam kamar perawatan Zea,
Pria itu terpaku dengan tangan yang masih memegang gagang pintu dengan tatapan yang sulit di gambar kan, dia menatap pada Abel dan juga Adi secara bergantian.
"Ada apa Dev?" tanya Abel beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri putranya.
"Katakan apa ada hal yang serius dari kondisi Zea saat ini, Dev?" tanya Adi.
Pria itu masih terpaku ditempat dan kini menatap sang calon istri yang tak kunjung sadarkan diri.
"Besok aku ingin menikahi Zea."
Pernyataan itu sangat mengejutkan semua orang yang ada diruangan itu termasuk Gita yang baru saja tiba dan berdiri di ambang pintu.
"Apa maksud mu, Dev. Zea belum sadarkan diri tapi kau malah ingin menikahinya?" kata Abel.
"Ini sudah keputusan ku, Mom," jawab Dev sambil menghampiri ranjang Zea.
"Apa yang dikatakan oleh Dokter, Dev? Hingga kau membuat keputusan yang mengejutkan seperti ini?" sahut Adi.
"Dokter Dimas akan menjelaskan semuanya," jawab Dev menatap Dimas yang kini sudah berdiri tepat di belakang Gita.
Gita menoleh pada seseorang yang berdiri dibelakangnya, dan pria itu hanya terpaku dengan menyunggingkan senyumnya sambil mengerlingkan matanya pada Gita.
"Silahkan masuk, Dokter Dimas," kata Dev lalu pria itu masuk kedalam ruangan itu melewati Gita.
"Sayang ... kemarilah," kata Lisa pada putrinya yang tak kunjung masuk dan hanya berdiri di ambang pintu.
"Sebenarnya ada apa ini, Dokter?" tanya Adi.
"Bukan masalah yang serius, Tuan. Seperti yang sudah saya jelaskan tadi bahwa harus ada pemicunya agar Nona Zea segera tersadar dari komanya, karena ini sudah hampir 12 jam dari kondisinya yang sudah sangat stabil dan sudah melewati masa kritisnya. Dengan Dev menikahinya, Dev bisa membantu terapi yang akan memancing kesadarannya," kata Dimas menjelaskan.
"Ya, Uncle. Bukankah Uncle sudah menyerahkan Zea padaku? Ini hanya tentang waktu, Uncle. Dan sekarang waktu yang tepat untuk aku bisa menikahinya," kata Dev meyakinkan Adi.
"Kalau itu memang untuk kebaikan Zea, aku akan mengizinkan mu menikahinya," kata Adi setelah beberapa saat terdiam.
"Terimakasih, Uncle," kata Dev menghampiri pria yang akan menjadi papah mertuanya itu lalu mengambil tangan nya.
"Aku berjanji akan selalu menjaga nya," kata Dev lalu mencium tangan sang calon mertua.
Sementara Gita sedang memandang tajam pada dokter tampan yang berdiri jauh dihadapan nya.
Dimas yang sadar sedang ditatap oleh gita membalas tatapan itu sambil mengerlingkan matanya.
.
.
Keesokan harinya, tampak semua keluarga sudah berkumpul di ruangan perawatan Zea yang kini sudah disulap menjadi ruangan yang begitu indah, dengan dekorasi mini dan beberapa bunga yang tertata cantik di setiap sudut ruangan itu.
Dev masuk keruangan itu dengan menggandeng Momynya yang terlihat begitu cantik.
Pria itu terlihat sangat gagah dan tampan dengan setelan jas berwarna putih.
Dia menatap sang calon mempelai yang tampak begitu cantik mengenakan gaun putih yang sederhana dengan di bantu oleh para perawat.
Dengan samua kekuasaan yang Dev miliki, pria itu bisa menyelesaikan berkas pernikahannya dengan cepat hingga hari ini mereka bisa melaksanakan pernikahan yang sederhana ini.
Kini Dev dan Zea sudah resmi menjadi sepasang suami istri.
Pernikahan mereka berjalan begitu lancar dan hikmat tanpa ada kendala sedikit pun.
Semua orang yang hadir disana menyaksikan pernikahan yang begitu mendadak dan tak terduga ini, dengan rasa sedih karena Zea yang tak kunjung sadar dan juga rasa senang karena akhirnya pernikahan ini terlaksana.
Tampak semua yang hadir diruangan itu mengucapkan selamat pada Dev termasuk Dokter Dimas dan Gita.
"Momy tidak pernah menyangka kau akan menikah secepat ini, sayang. Momy senang atas pernikahan mu, tapi juga sedih karena kau menikah di rumah sakit dengan kondisi Zea yang seperti ini," kata Abel mengusap wajah putranya.
"Tidak apa Mom, aku senang karena aku bisa mewujudkan impian Momy yang ingin segera memiliki menantu. Dan kita akan merayakan pesta pernikahan yang begitu meriah setelah Zea tersadar nanti," ucap Dev lalu mencium tangan sang Momy.
Melihat kehangatan dan kasih sayang Dev pada Momynya. Adi begitu yakin bahwa dia tak salah memilih menantu yang akan mendampingi putrinya Zea.
"Selamat Dev, papah titipkan Zea padamu, ku harap kau bisa sabar menghadapi kenakalan Zea. dan kembalikan dia padaku jika kau merasa sudah tidak kuat menghadapinya nanti," kata Adi lalu memeluk pria tampan yang kini sudah resmi menjadi menantunya.
"Thanks Pah, karena Papah sudah menjaganya sejauh ini. Dan aku akan mengambil alih tugas mu, dan kini Papah harus menjaga lebih keras lagi putri Papah yang satu lagi," kata Dev melirik kearah Gita dan juga Dimas.
Adi Hanya tertawa pelan mendengar wejangan dari menantunya.
"Selamat Dev, ku harap kau bisa mengatasi ke brutalan Zea nanti, setelah dia tersadar," kata Lisa.
"Pasti Mom," jawab Dev.
"Selamat atas pernikahan yang menyedihkan ini, setidaknya aku tak akan punya kesempatan untuk menggoda mu lagi, karena memang aku sudah tak tertarik pada mu," kata Gita.
"Ya ... dan ku harap kau bisa tertarik pada pria yang sedang berdiri di belakang mu," kata Dev sambil tersenyum smirk.
Otomatis Gita menoleh pada seseorang yang berada dibelakangnya.
"Dokter gadungan ini lagi," gumamnya pelan yang masih bisa di dengar oleh Dimas sambil memutar bola matanya lalu menjauh dari pria itu.
"Heiii ... aku masih bisa mendengar mu," kata Dimas.
"What ever," jawab Gita berlalu.
"Heii, selamat atas rencana mu yang sudah berjalan lancar ini," kata Dimas berbisik.
"Thanks atas campur tangan mu di rencana ini," jawab Dev menepuk lengan Dimas.