
Anggita sedang berada di apartemen nya, wanita itu terus menatap poselnya.
"Menyebalkan sekali dokter gadungan itu, sudah beberapa hari sejak dia pergi, dia sama sekali tidak menghubungi ku," gumamnya sambil melemparkan ponselnya ke sofa.
.
Di lain tempat, tepat nya di sebuah ruangan. Seorang pria tampan di sibukkan dengan setumpuk dokumen yang ada di hadapannya.
Pria itu menghela nafasnya sambil menyenderkan kepalanya di senderan kursi sambil mendongakkan kepalanya.
"Bagaimana aku bisa cepat kembali, jika setiap hari pekerjaanku sebanyak ini," gumamnya sambil memijat keningnya.
Ting ...
Bunyi ponsel Dimas tanda ada pesan masuk.
"Aku sudah membicarakan tentang rencana kita pada Zea dan juga Papah Adi." Tulis Dev di pesan itu.
"Oh my, aku sampai melupakan tentang Gita," ucapnya lirih.
Lalu menghubungi seseorang lewat ponselnya.
Gita yang sedang berada di dapur langsung berlari mengambil ponselnya yang berdering.
Senyumnya tersungging saat melihat nama yang tertera di ponsel itu.
"Hallo, Kau masih mengingat ku? aku pikir kau sedang sibuk dengan wanita cantik disana hingga kau tak sempat menghubungi ku," ucap Gita langsung menjawab panggilan itu.
"hahah ... Sorry, aku melupakanmu," sahut Dimas tertawa pelan.
"Untuk apa kau menghubungi ku, Dokter gadungan," jawab Gita.
"Honey, aku merindukanmu. Apa kau tidak merindukan ku?" tanya Dimas.
"Emm ... Sedikit," sahut Gita merebahkan tubuhnya di sofa.
"Ah ya, Honey. Apa kau belum menghubungi Zea untuk merencanakan pesta kita?" tanya Dimas sambil memeriksa kembali dokumennya.
"Hmm, nanti aku akan menghubungi nya" sahut Gita singkat.
"Oke, Apa kau tidak di dekati oleh para pria?" tanya Dimas hati - hati.
Gita tertawa di seberang telepon mendengar pertanyaan dari Dimas.
"Hei, kenapa kau malah tertawa," ucap Dimas.
"Aku seorang Anggita. Wanita tercantik dan terseksi di kampus, sudah pasti banyak pria yang mendekatiku," ucap Gita narsis.
Dimas tersenyum miring mendengar kenarsisan Gita.
"Mereka beruntung karena tidak ada aku disana, sehingga mereka bebas mendekati mu. Tapi ingat satu hal, Honey. Mereka tidak mungkin bisa merebut mu dariku Karena kau hanya milikku."
Gita menelan saliva nya saat mendengar pernyataan dari Dimas, mengingat ciuman panas yang mereka lakukan beberapa hari yang lalu.
Cukup lama Dimas mengobrol ringan dengan Gita lewat ponsel, mereka menceritakan semua yang terjadi pada mereka saat mereka berjauhan.
"Setelah ini, aku akan menelepon Zea," Gumamnya saat panggilan telepon nya dengan Dimas berakhir.
Lalu berjalan kearah dapur melanjutkan kegiatannya yang tertunda.
.
.
.
Zea berangkat bersama Dev menuju perusahaannya.
"Terimakasih Dev, Hati - hati di jalan," ucap Zea sambil mencium pipi sang suami.
"Baiklah, nanti pas makan siang aku akan kemari. Kita makan siang bersama." Dev mengecup bibir Zea dan menyesapnya sekilas.
"I love you Beby," ucap nya.
"I love you to," jawab Zea lalu keluar dari mobilnya.
.
Kini Zea Sudah berada didalam ruangannya.
Ting ...
Bunyi ponsel Zea dan dia langsung melihat ponselnya.
"Kalau kau sedang tidak sibuk, hubungi aku." Tulis Gita di pesan itu.
"Oh my, saking sibuknya aku sampai melupakan hal ini," Gumamnya.
Zea langsung menghubungi ponsel Gita.
"Halo Ze, apa kau tidak sibuk? karena akan banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Jadi pastikan dulu kau harus free sekarang."
Zea tertawa pelan mendengar perkataan dari Gita.
"Bagus, Zea aku ingin pesta kita di adakan di luar ruangan. Dengan tema outdoor party," kata Gita memulai pembicaraan nya.
"Oke, aku setuju. Dan kita akan merayakan pesta kita di resort milik Dev yang berada di pinggir pantai. Apa kau setuju?" tanya Zea.
"WAhh, itu ide yang bagus, Zea. Dan semua yang hadir harus mengenakan pakaian yang sama."
"Warna putih," ucap Zea dan Gita bersamaan.
Lalu mereka tertawa bersama.
'Aku tak menyangka hubungan ku dengan Zea akan sedekat ini,' batin Gita membayangkan setiap pertengkaran yang mereka lakukan di masa lalu.
"Bagaimana hubungan mu dengan dokter Dimas, Gita?" tanya Zea. Membuyarkan lamunan Gita.
"Eemm ... baik, dia baru saja menghubungi ku," sahut Gita.
"Ah ya, Bagaimana keadaan orang - orang Disana?" tanya Gita.
"Kami semua baik, kau jaga dirimu baik - baik disana, Gita. Dan kau harus makan dengan benar. Aku tidak mau kau kembali dengan tubuh yang kurus, karena itu bisa membuat gaun mu terlihat jellek nanti."
Gita Tergelak mendengar pernyataan Zea yang tampak memperhatikan nya.
"Kau tenang lah, Zea. Badanku cukup sexy dan pasti akan membuat gaun yang aku kenakan terlihat cantik di tubuhku," sahut Gita dengan pedenya.
"Ya ya ya ... aku tahu hal itu, Kapan kau kembali?" tanya Zea.
"Emm ... mungkin 3 hari lagi, aku hanya tinggal menunggu pengumuman nya saja," sahut Gita sambil mengunyah cemilannya.
"Apa kau sudah siap untuk malam pertama mu, Zea?" tanya Gita membuat Zea tersedak karena saat ini dia sedang minum air putih nya.
"Gita ... kenapa kau malah menanyakan hal itu?" sahut Zea mencebik.
"Tenanglah, Zea. Aku hanya menanyakan saja. Kau tidak perlu malu padaku. Aku penasaran bagaimana rasanya bercinta."
"Rasanya sakit," sahut Zea keceplosan. Lalu menutup mulutnya.
"What ... jadi kau sudah melakukan nya, Zea?" tanya Gita terkejut.
"Hei, kenapa kau malah membahas hal ini," sahut Zea malu.
"Ayolah Ze, ceritakan padaku. Aku sangat penasaran," ucap Gita.
Mencoba membujuk Zea, agar bercerita pada nya.
"Please ..." bujuk Gita. Saat Zea tak kunjung menjawab pertanyaan nya.
"Aku sudah menjawab pertanyaannya mu Gita," sahut Zea.
"Apa benar rasanya sakit?" tanya Gita penasaran.
"Awalnya memang sakit dan perih. Sama seperti milik kita di robek paksa oleh sesuatu yang panjang dan keras."
Gita meringis mendengar penjelasan dari Zea dan terpaku sambil menggigit kukunya.
"Terus - terus ... apa kau masih melanjutkan nya?" tanya Gita semakin penasaran.
Mendengar nada bicara Gita yang sangat kepo, Zea ber inisiatif untuk mengerjai saudarinya itu.
"Ya, aku terpaksa harus melanjutkan nya. karena itu adalah kewajiban kita sebagai seorang istri untuk melayani suami," ucap Zea sambil tersenyum.
"Aduhh ... bagaimana rasanya, Zea? banyak orang bilang bahwa untuk yang pertama memang merasa kan sakit," sahut Gita.
"Ya, itu benar Gita. Rasanya seperti milik kita di robek dan di tusuk - tusuk berulang kali dengan benda tumpul yang panjang dan keras. Kau pasti bisa bayangkan rasanya seperti apa, kan?" kata Zea sengaja mengerjai Gita.
"Aaakkkhhh ... aku tidak mau menikah, aku tidak mau milikku di robek oleh seseorang, aku tidak mauuu ..." teriak Gita.
"Hahahaha ...." Zea tertawa mendengar perkataan Gita.
Dan ternyata misinya sukses untuk mengerjai saudarinya itu.
Lalu terdengar pintu ruangan Zea di katuk dari luar.
"Masuklah," kata Zea.
"Nona Zea, anda sudah di tunggu di ruangan meeting," kata Nita.
"Baiklah, aku akan kesana," sahut Zea.
Lalu Nita menganggukkan kepalanya dan pergi dari ruangan itu.
"Gita, nanti kita lanjut lagi. Aku sudah di tunggu di ruangan meeting, bye." Zea langsung memutuskan panggilan telepon nya.
Lalu meninggalkan ruangan nya dan berjalan menuju ke ruang meeting.
"Tunggu dulu Ze ...." Tutt tuttt
Zea sudah memutuskan panggilan nya.
"Sial ... Bagaimana ini? Aku tidak mau milikku di robek dan di tusuk - tusuk," Gumamnya membayangkan apa yang di ceritakan oleh Zea.