
Sementara itu, Irza yang masih berada di Jerman tengah di sibukkan dengan setumpuk pekerjaan nya.
Pria itu baru saja menandatangani kontrak kerjasama perusahaan nya dengan perusahaan ayah dari teman nya yang bernama Jay Wiratma.
Dia sedang berada di sebuah ruang kerja nya yang baru karena memang dia baru saja membuka cabang dari perusahaan nya di Jerman.
Tok Tok Tok
Suara ketukan di pintu terdengar dan membuat fokus irza terpecahkan. Pria itu mengangkat wajahnya dan menatap kearah pintu lalu membuka suara nya untuk menyuruh orang tersebut masuk.
" Selamat siang, Tuan. Ada tamu untuk Anda," kata seorang asisten Irza.
" Hmmm ... persilahkan dia untuk masuk," sahut Irza sambil menutup laptop nya.
Lalu asistennya langsung menyuruh seseorang yang sudah menunggu di depan ruangan Irza untuk masuk.
" Selamat siang, Irza. Apa aku mengganggu waktu mu?" kata Hans Wiratma, tamu yang memang sudah di tunggu oleh Irza.
Mendengar suara bariton itu, Irza langsung beranjak dari kursi kebesaran nya dan menghampiri seorang pria paruh baya yang baru saja masuk kedalam ruangan nya.
" Uncle ... senang bisa melihat mu kembali. Bagaimana kabar mu, Uncle?" kata Irza yang langsung memeluk tubuh pria itu.
Hans pun tertawa dan membalas pelukan dari Irza yang tak lain adalah anak dari sahabat nya, yaitu Wilda dan Ardo.
" Aku baik, bahkan sangat baik," sahut Hans dalam pelukan itu.
Lalu Irza melepaskan pelukannya dan mempersilahkan tamu spesial nya itu untuk duduk di sofa nya.
" Bagaimana dengan kabar mu dan Momy mu, Ir?" tanya Hans saat sudah duduk bersama Irza di sofa.
" Kabar ku baik, Uncle. Tapi tidak dengan Momy," sahut Irza yang kini ekspresi wajahnya sudah berubah sendu.
Hans menepuk bahu Irza untuk menguatkan pria malang itu. Hans sudah tahu apa yang menimpa Irza dan dia juga sangat paham dengan apa yang Irza alami.
Sejak kepergian Valerie dari mansionnya, Wilda terus saja menyalahkan dirinya karena dia tak meneruskan langkah nya saat mengejar Valerie ketika di rumah sakit.
Kesehatan Wilda kembali turun dan wanita paruh baya itu hanya bisa berdiam diri di mansion bersama pelayan dan juga perawat yang selalu menjaga nya.
" Serahkan semuanya pada Tuhan. Dia tahu yang terbaik dan dia pasti akan selalu menjaga istri dan anak-anak mu dimana pun dia berada," kata Hans menasehati Irza.
Irza hanya menunduk kan kepalanya dan mengangguk beberapa kali.
" Kau masih mencari nya?" tanya Hans.
" Ya. Aku tidak akan menyerah, Uncle. Apapun yang terjadi aku akan tetap mencarinya sampai ketemu," sahut Irza dengan tegas.
" Ya, Aku akan membantumu mencari istri mu."
Kata-kata Hans mampu membuat senyum Irza kembali terbit. Dia mengangkat wajahnya dan tersenyum pada Hans yang sudah memberi nya semangat dan mau membantu nya untuk mencari keberadaan sang istri yang masih belum dia temukan.
Tiba-tiba ponsel Hans berbunyi dan dia langsung mengangkat nya. Irza hanya mendengarkan pembicaraan Hans yang dia yakini sedang berbicara dengan Jay, teman dekat nya.
" Anak ini benar-benar tengil," gumam Hans dengan senyum yang masih terlihat di wajah nya.
" Ada apa, Uncle?" tanya Irza.
" Anak tengil itu, dia bertunangan tanpa mau menunggu ku. Dan dia langsung menentukan sendiri kapan dia akan menikahi Rani tanpa mau mendiskusikan itu dengan ku," sahut Hans yang wajah sedikit geram namun masih terlihat bahwa dia bahagia dengan keputusan yang di ambil oleh putrinya itu.
" Jadi Jay akan menikah? dengan Rani? oh my, ini kabar yang membahagiakan, Uncle," sahut Irza menyambut dengan bahagia kabar itu.
" Ya. Lihat ini, dia melangsungkan acara pertunangan nya di sebuah penginapan kecil yang lumayan terpencil. Semuanya hadir di sana dan hanya aku yang tidak dia undang, benar-benar anak tengil," kata Hans sambil menunjukkan foto pertunangan Jay dengan Rani beserta seluruh keluarganya pada Irza.
Irza melihat foto itu dan tersenyum bahagia karena akhirnya kisah cinta Rani dan Jay sudah naik ke tahap yang lebih serius.
" Sepertinya aku tahu penginapan ini, Uncle. Ini memang penginapan kecil dan tempatnya pun terpencil. Tapi tempat ini sangat bersejarah bagi mereka," kata Irza mengingat pertemuan pertama Rani dan Jay sekitar 4 tahun yang lalu.
" Benarkah? pantas saja Rani ingin melangsungkan pernikahan mereka juga di penginapan itu," sahut Hans.
" Waah ... mereka benar-benar menjadikan tempat itu tempat bersejarah nya," sahut Irza dan disambut tawa oleh Hans.
Lalu mereka melanjutkan obrolan nya karena memang sudah lama mereka tak bertemu. Mereka juga membicarakan tentang kerja sama bisnis nya yang baru saja terikat karena Irza memang baru meresmikan perusahaan nya di sana.
.
.
Satu bulan telah berlalu.
Valerie tampak sedang di sibukkan dengan persiapan pesta pernikahan Jay dan Rani yang akan di laksanakan di penginapan nya.
Ya. Rani sudah menghubungi nya dan memberi tahu kapan tanggal pernikahan nya pada Valerie agar Valerie bisa mempersiapkan semuanya.
Rani bahkan sudah dalam perjalanan ke negara kecil itu, karena dia juga ingin melihat dan mengawasi persiapan acaranya.
Sementara itu, Irza sudah kembali ke Paris dan kini sedang berada di sebuah restoran bersama Jay.
" Kau yakin ingin melangsungkan acara pernikahan mu di penginapan itu?" tanya Irza sambil menyantap makanannya.
" Ya. Itu sudah keputusan sang Ratu, Ir. Dan aku hanya mampu menurutinya," sahut Jay.
" Kalau begitu kau pasti sudah mengenal siapa pemilik penginapan itu?" tanya Irza masih fokus dengan makanan nya.
" Ya. Penginapan itu milik keluarga Archer yang kini sudah di turunkan pada cucunya yang bernama Valerie Archer."
Irza langsung tersedak saat mendengar nama Valerie sang istri.
" Heii ... Bro!!! Pelan-pelan makan nya. Apa kau sedang terburu-buru?" kata Jay yang memang belum mengenal istri dari sahabat nya itu karena dia sibuk dengan petualangan nya ke semua negara bersama Rani.
Irza menatap kearah wajah Jay dengan tatapan tajam nya. Hatinya bergemuruh saat kembali mendengar nama sang istri dan kini dia sudah tahu tempat persembunyiannya.
' Aku akan segera menjemput mu, Valerie. Dan aku akan menghukum mu karena kau sudah berani pergi dariku dan membawa bayi-bayi ku,' batin Irza.