My Lovely Girl

My Lovely Girl
Bab 37



Dev menurunkan Zea di kursi taman, dan mereka saling mengobrol disana sembari menikmati pemandangan di senja itu.


"Kau ingin konsep pesta pernikahan yang seperti apa, Beby?" tanya Dev sambil mengelus rambut Zea yang panjang.


"Aku tidak tahu, Aku belum memikirkannya," jawab Zea menyenderkan kepalanya di lengan kekar Dev.


"Hmm, yang terpenting kau harus pulih terlebih dahulu. Baru pikirkan tentang itu, oke," jawab Dev mengecup puncak kepala Zea.


"Ah ya ... kau bilang pesta pernikahan kita akan diadakan bersama pesta pertunangan Gita, kan?" tanya Zea mendongakkan kepalanya menatap sang suami.


"Ya, apa kau setuju dengan rencana itu?" jawab Dev menundukkan kepalanya menatap sang istri.


"Em ... hemm. Aku setuju, nanti aku akan menghubungi Gita dan mendiskusikan tentang konsep pesta kita," sahut Zea kembali menatap hamparan rumput yang luas di depan nya.


"Itu terserah pada mu, Beby. Aku akan memenuhi semua yang kau inginkan," sahut Dev mencium kening Zea.


.


.


.


Malam menjelang, Dev dan Zea baru menyelesaikan acara makan malamnya bersama.


Dan kini mereka sedang berada di ruang mini teater yang terdapat di mansion itu.


Zea sudah mulai menerima pernikahan nya ini, dan akan memberikan kesempatan pada Dev untuk mengambil hati nya.


Zea menyenderkan tubuhnya pada dada bidang suami nya yang memang terlihat sangat nyaman.


Dan Dev melingkarkan tangannya di pinggang ramping Zea, memeluknya dari belakang serta mendarat kan dagunya di bahu sang istri.


Mereka tampak sangat menikmati kebersamaan ini sembari menonton film action kesukaan nya.


Zea Tampak fokus dengan film itu dan sesekali memundurkan tubuhnya hingga bokongnya tak sengaja menempel dengan junior milik Dev.


'Shitt,' umpat Dev dalam hatinya, ketika bokong Zea menempel sempurna dengan junior nya.


Sementara itu, Zea yang sangat fokus dengan film yang di tonton nya sampai tak merasakan sesuatu yang begitu keras menempel di bokongnya.


Ketika film itu menunjukkan adegan romantis sepasang kekasih yang sedang berciuman, zea reflek memegang bibirnya.


'Apa aku pernah berciuman dengan Dev?' batin Zea menoleh pada Dev yang sedang menatapnya.


Lalu Dev memegang tengkuk leher Zea, mendekatkan dengan wajahnya hingga dia bisa mencium bibir **** Zea yang begitu dia rindukan.


Dev perlahan mencium bibir Zea dan sedikit menggigit nya agar terbuka.


Lalu Zea membuka mulut nya hingga Dev bisa langsung menelusuri bibir **** itu dengan lidahnya.


Pria itu terus menekan tengkuk leher Zea, agar bisa memperdalam ciumannya.


Sementara itu, Zea yang merasakan darahnya berdesir saat Dev mencium bibirnya hanya menutup matanya, dan menikmati apa yang dilakukan suaminya itu.


Lalu Zea membuka matanya, saat Dev melepaskan ciumannya.


Dev menatap wajah Zea yang kini pipinya sudah memerah karena malu dengan apa yang terjadi barusan.


"Jangan menatapku seperti itu, Dev," ucap Zea menutupi pandangan mata Dev agar berhenti menatapnya.


Dev tertawa pelan melihat Zea yang tampak salah tingkah.


Lalu Dev mengangkat tubuh Zea agar menghadap kearahnya.


Zea pun hanya pasrah dan mengalungkan tangannya di leher Dev.


Perlahan Dev mendekatkan wajahnya pada wajah Zea, sembari menatap mata indah wanita itu, sampai hidung mancung mereka bersentuhan dan keningnya saling menempel.


"Can I kiss you again?" ucap Dev lirih. Dan Zea hanya membalasnya dengan anggukan kepala.


"Tapi kali ini kau harus membalas ciuman ku," ucap Dev lagi sembari menempelkan bibirnya pada bibir Zea.


Tanpa basa basi lagi, Dev langsung ******* bibir wanita cantik di hadapannya itu. Dan kini Zea pun membalas ciuman nya.


Ciuman yang awalnya perlahan, kini semakin menggebu seakan menuntut untuk melakukan yang lebih.


"I want you ...," ucap Dev dalam ciumannya itu dengan deru nafas yang berat.


"hmmm ... I know," sahut Zea tanpa melepas pagutannya.


"Can I do it now?" tanya Dev melepaskan ciumannya tapi masih menempelkan bibirnya dengan bibir Zea.


Dan Zea hanya menganggukkan kepalanya, tanda bahwa dia siap untuk melakukan kewajiban nya sebagai seorang istri.


Tanpa aba-aba, Dev langsung menggendong Zea keluar dari ruangan itu menuju kamar nya.


Perlahan Dev membaringkan tubuh Zea di atas ranjang king sizenya.


Pria itu langsung menindih tubuh sang istri dan langsung mencium bibirnya, wanita itu menyambut ciuman itu dengan mengalungkan tangannya di leher sang suami.


Dev kini beralih mencium leher jenjang Zea, yang tampak menggoda di matanya. Sambil membuka satu persatu kain yang menempel pada tubuh sang istri.


Pria itu menyusuri setiap jengkal lekuk tubuh sang istri dan meninggalkan tanda kepemilikan di sana.


Kini Dev menatap tubuh polos sang istri dengan seringai di wajahnya.


"Your so sexy, Beby," ucap Dev mengerlingkan matanya pada sang istri yang tampak menyilangkan tangannya untuk menutupi dadanya, tapi itu sia-sia karena Dev masih bisa melihat benda bulat itu.


"Beby ... come on. Kau malu pada suami mu sendiri?" lirihnya dengan mengerutkan keningnya.


"Aku merasa aneh saja, jika harus memperlihatkan nya padamu," jawab Zea canggung.


laku Dev mengangkat tangan Zea dan merentangkan nya di atas kepala.


Sehingga tampaklah benda bulat sang istri yang begitu menantang di matanya.


Zea melengkungkan tubuhnya saat Dev bermain disana.


"Dev ..." lirihnya dengan nada yang mendayu.


Dev yang mendengar suara **** yang keluar dari mulut sang istri tersenyum dan semakin membangkitkan gairah nya.


Kini tiba saatnya melakukan penyatuan mereka. Dev memandang wajah sang istri yang berkabut gairah, lalu mencium bibirnya dan menyesap dalam kupingnya.


"Aku akan melakukannya perlahan," bisik Dev di telinga Zea, yang membuat Zea bergidik.


Cukup sulit Dev membobol milik Zea, karena memang dia masih virgin.


Dan setelah beberapa kali mencoba, akhirnya mereka melakukan penyatuannya di malam yang dingin itu.


"Aakkhh ..., " pekik Zea saat merasakan sesuatu yang menembus harta yang paling berharga miliknya.


"Apakah sakit," tanya Dev menatap sang istri yang terlihat meneteskan air mata nya.


Zea hanya mengangguk sambil menutup matanya.


"I'm sorry, Beby," ucap Dev menghapus air mata sang istri, lalu mencium keningnya.


"Aku akan melakukannya dengan perlahan," ucap Dev.


Dev melakukan sesi penyatuannya dengan perlahan, karena ini masih yang pertama bagi sang istri.


Dan dia takut menyakiti wanita yang telah memberikan kehormatannya padanya.


Setelah beberapa menit berkutat di atas ranjang, akhirnya dia melepaskan benih nya di rahim sang istri.


"Oouuwh ... Beby," ucap Dev lalu menciumi seluruh wajah sang istri.


Dan merebahkan tubuhnya di samping sang istri.


"Thank you, Beby. I LOVE YOU SO MUCH," ucap Dev memeluk tubuh Zea lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


Mereka pun tertidur lelap setelah melakukan malam pertama yang cukup berkesan bagi mereka.