
Dimas mencumbui sang istri, dia menelusuri setiap lekuk tubuh sang istri dengan ciumannya.
Senyumnya tersungging saat melihat sang istri yang sudah berkabut gairah, dia menatap lekat netra indah sang istri lalu ******* bibirnya.
" Lakukan sekarang, agar aku bisa segera tidur," kata Gita melepas ciuman nya.
Dimas tertawa mendengar ucapan dari sang istri lalu tanpa basa-basi lagi Dimas langsung melakukan penyatuan nya.
Entah ini sudah ke berapa kali mereka melakukan kegiatan ranjang itu. Seakan tak ada hari esok, mereka terus melakukan kegiatan panas itu di hari bahagia ini.
" I love you Gadis seksi ku," kata Dimas menciumi seluruh wajah sang istri.
" I Love you to Dokter gadungan ku. Wait ... sepertinya aku bukan gadis lagi setelah apa yang kau lakukan padaku seharian ini," kata Gita.
Dimas tertawa dengan ucapan Gita, lalu memeluk tubuh sang istri dari belakang.
" Kau akan selalu menjadi gadis seksi di mata ku," kata Dimas sambil menciumi tengkuk leher Gita.
" Honey ... stop it. Itu geli." Gita langsung membalikkan tubuhnya menghadap kearah sang suami, agar dia berhenti menciumi tengkuk lehernya.
Lalu mereka tidur dengan saling berpelukan.
.
.
Pagi menjelang, Dev terbangun karena merasa ada yang sedang menciumi wajah nya.
" Good morning, Beby," kata Zea yang sudah terlihat segar di pagi hari yang cerah itu.
" Hmmm, good morning my wife," sahut Dev menarik tangan sang istri hingga terjatuh di atasnya.
" Kak ... Lakukan itu di kamar kalian!!" teriak Alina yang baru keluar dari kamar mandi.
Dev dan Zea melihat kearah Alina yang sedang mencebik dengan berkacak pinggang.
" Ada apa, Alina? kau merasa terganggu?" tanya Dev sambil memeluk tubuh Zea yang ada di atasnya.
" Ck, kalian menodai mataku yang suci," jawab Al sambil berjalan kearah lemari nya.
Dev dan Zea tertawa, Lalu Dev bangkit dan langsung menggendong tubuh Zea keluar dari kamar Alina.
" Bye ... Adik ipar," kata Zea melambaikan tangannya pada Alina.
.
Kini Dev sudah berada didalam kamar nya, dia menurunkan Zea di tepi ranjang.
" Can I kiss you?" tanya Dev sambil menangkup wajah sang istri.
" Wait ... aku yang akan melakukan nya. Karena kau sudah kalah dalam pertarungan semalam, jadi kau tidak boleh melakukan apapun padaku sebelum aku menyetujuinya," kata Zea menahan dada Dev.
" Hufft, baiklah tuan putri," sahut Dev pasrah.
Lalu Zea menggerakkan jari telunjuknya kearah bawah. Dev mengerutkan keningnya dan tak mengerti apa maksudnya.
" Ck, berlutut Dev," kata Zea.
Dev pun berlutut dihadapan sang istri, lalu Zea menangkup wajah sang suami dan membelai pipinya yang mulai di tumbuhi jambang.
CUP
Zea mengecup kedua pipi dan bibir Dev.
" Sudah. Cepat sana mandi," kata Zea bangkit dari ranjangnya.
Dev mengerutkan keningnya dan menahan tangan sang istri.
" Hanya itu?" kata Dev.
" Ya ... hanya itu, cepat mandi Dev. Aku akan tunggu di bawah," kata Zea melepaskan tangan Dev di pergelangan tangannya, lalu keluar dari kamar itu.
Dev hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat sang istri yang sudah menghilang di balik pintu.
CEKLEK
Zea membuka pintu itu lagi dan berkata.
" Cepat mandi, Dev. Dalam waktu 5 menit kau sudah harus ada di ruang makan."
" Beby, itu terlalu __" Belum juga Dev menyelesaikan perkataan nya, Zea langsung menutup kembali pintu itu.
.
.
" Good morning, Mom." Zea menyapa sang mertua yang terlihat sedang menyiapkan makan pagi di ruang makan.
" Morning, sayang." sahut Abel melihat kearah sang menantu.
" Kemana semua orang, Mom?" tanya Zea sambil membantu Abel menyajikan makanan ke meja makan.
" Tuan Adi dan Lisa sudah pulang tadi pagi-pagi sekali, sayang. Katanya ada urusan penting disana," jawab Abel.
Kini di resort itu memang hanya tinggal keluarga Dev beserta Gita dan Dimas.
Sementara yang lain sudah pulang sejak kemarin setelah pernikahan itu selesai, dan tak menunggu pesta yang di adakan malam harinya.
Karena mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing.
" Aku dengar ... kau sudah mengalahkan Dev tadi malam, sayang?" tanya Abel.
" Ya, Mom. Aku menang dalam pertarungan itu," jawab Zea.
" Good morning ... Mom, Kakak Ipar!!" teriak Alina dan langsung memeluk Abel.
" Ck, bisakah kau tak berteriak, Al." Abel melepaskan pelukannya.
" Tidak bisa, Mom. Karena memang inilah diriku," sahut Al lalu duduk di kursi.
" Dimana yang lain?" tanya Alina sambil mengupas buah apel.
" Mungkin masih mandi. Al bisa kau panggil kan Dimas dan Anggita?" kata Abel.
Al tak langsung menjawab, dia masih ingat saat dirinya melihat pasangan itu berciuman dengan begitu hot didalam lift.
" Aaduuh ... Mom, perut ku mules. Aku ke kamar mandi dulu." Bohong Al sambil berlari kecil kearah toilet yang ada di lantai itu.
Zea tertawa melihat tingkah Adik Ipar nya itu, dia tahu betul bahwa Al saat ini sedang berbohong. Karena dia masih merasa malu jika harus bertemu lagi dengan pasangan itu.
" Ada apa dengan gadis itu," kata Abel sambil menggelengkan kepalanya.
" Good morning all," kata Dev menghampiri ruang makan lalu mencium kening sang Momy dan sang istri secara bergantian.
" Duduklah, Dev. Aku akan melayani mu," kata Abel mengambil sebuah piring.
" Tidak, Mom. Biar aku saja yang melayani nya," kata Zea mengambil piring dari tangan Abel.
Abel tersenyum dan berkata. " Baiklah sayang, sepertinya sekarang tugas ku sudah berkurang satu."
Zea dan Dev tertawa pelan mendengar perkataan Abel.
Lalu datanglah Dimas dan Anggita. Dan mereka pun makan pagi bersama.
Alina keluar dari toilet, dia melangkahkan kakinya maju mundur karena ada Dimas dan Anggita di ruang makan.
" Al ... kemarilah," kata Abel melihat Al sudah keluar dari kamar mandi.
Akhirnya Alina menghampiri meja makan, dia berjalan kearah meja makan sambil menundukkan kepalanya.
Semua tampak melihat kearah Alina.
" Ada apa, Al? kau seperti habis melihat hantu saja," kata Dev.
" Tidak kak, aku tidak melihatnya," kata Al keceplosan lalu menutup mulutnya.
Zea, Gita dan Dimas tampak tertawa melihat tingkah Alina. Sementara Dev dan Abel hanya saling memandang karena tak mengerti kenapa mereka tertawa.
" Al, makanlah." Abel memberikan piring yang sudah berisi makanan pada Al.
" Aku makan di kamar saja, Mom." Al berdiri dan akan melangsungkan kakinya meninggalkan ruang makan.
Tapi Dev memanggilnya.
" Al ... makan disini saja. Kita makan bersama," kata Dev tanpa melihat kearah Adiknya.
" Tidak, Kak. Aku __" perkataan Alina terpotong saat mendapatkan tatapan tajam dari sang kakak.
" Baiklah," sahut Al, kemudian duduk kembali di kursi itu.
Mereka pun makan pagi bersama di pagi yang cerah itu tanpa ada pembicaraan sama sekali.