
Satu minggu berlalu.
Hubungan Irza dan Valerie terlihat semakin dekat. Ardo sudah menyerahkan dokumen titipan dari Kinos pada Valerie.
Bahkan kehidupan Valerie sudah berubah lebih baik karena harta peninggalan dari orang nya itu.
Dia bahkan sudah menempati rumah yang cukup nyaman dan modern. Tak seperti kontrakan yang sebenarnya tak layak dia tempati.
Kondisi Lenski juga sangat membaik. Dia sudah di bolehkan pulang tapi tetap harus melakukan cek up rutin ke rumah sakit.
Tapi tidak dengan kondisi Ardo. Pria paruh baya itu masih dengan kondisi yang sama bahkan tak ada perubahan.
Gita masih setia menjaga sang daddy. Dimas pun juga masih setia menemani sang istri dan kembali mengelola perusahaan Yosi yang ada di Paris.
Kini Irza dan Valerie sudah ada di rumah sakit tempat dimana Ardo masih dirawat.
" Kau akan langsung ke perusahaan?" tanya Valerie sambil membuka Sitbelt nya.
" Tidak. Aku ingin menemui daddy terlebih dahulu," sahut Irza dan membuka pintu mobil nya.
Dia berjalan memutari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Valerie.
" Aku bukan tuan Putri yang harus selalu kau bukakan pintu mobil ku, Ir," kata Valerie tersenyum.
" Kau akan menjadi tuan putri ku," sahut Irza sambil menggandeng tangan Valerie.
Saat mereka masuk kedalam rumah sakit. Ada sepasang mata yang menatap kearah mereka.
" Aku harus melakukan sesuatu. Hubungan mereka semakin dekat dan aku takut jika Irza terlanjur jatuh hati dengan wanita itu, dia akan mengabaikan ku," gumam Leyra yang memang sejak tadi dia mengikuti mobil Irza secara diam-diam.
" Aku harus menyusun sebuah rencana lagi."
Dia menutup kaca jendela mobilnya dan menyalakan mesin mobil nya.
Leyra. Wanita itu sangat mencintai Irza namun sayangnya pria itu hanya menganggap nya seorang sahabat.
Wanita itu adalah wanita yang sangat baik dan perhatian. Namun saat mendengar Irza sudah bertunangan, dia berubah menjadi sosok wanita yang sangat ambisius untuk mendapatkan cinta nya.
Seminggu yang lalu dia sudah pernah merencanakan sesuatu. Dia berusaha minum obat tidur dengan dosis tinggi dan tanpa resep dari dokter.
Namun, bukannya perhatian yang dia dapat dari Irza. Tapi pria itu malah marah atas apa yang dia lakukan.
Leyra hanya diam dan dia cukup senang karena itu artinya Irza masih menyayanginya.
.
.
CEKLEK
Irza membuka pintu ruangan rawat Ardo. Dia masuk bersama Valerie yang sudah membawa makanan untuk Ardo dan juga Wilda.
" Selamat pagi, Mom, Dad."
" Pagi, sayang," sahut Wilda.
" Aku membawa kan kalian sarapan pagi," kata Valerie sambil memberikan paperbag pada Wilda.
" Terimakasih, sayang. Seharusnya kau tak perlu repot-repot," sahut Wilda menerima paper bag itu.
Lalu Valerie berjalan menuju ranjang dan menggenggam tangan Ardo.
" Bagaimana keadaan mu pagi ini, Dad?" tanya Valerie.
" Sangat baik, Sayang. Apa lagi setelah melihat senyum cantik menantuku ini," sahut Ardo yang masih bisa menggoda Valerie.
" Dad ... seharusnya aku yang menggodanya," kata Irza.
" Syukurlah. Aku akan menyuapi Daddy."
Valerie mengambil kan makanan yang dia bawa untuk Ardo.
" Mom. Kau makanlah dulu, biar aku yang melayani daddy," lanjut Valerie.
" Baiklah, Momy juga merasa lapar," sahut Wilda sembari duduk di sofa bersama Irza.
Dengan penuh perhatian, Valerie menyuapi Ardo. Irza hanya mengamati wanita yang penuh kelembutan itu dari sofa.
" Kau akan sangat beruntung memilikinya," bisik Wilda.
" Ya. Dia sangat lembut dan juga perhatian pada semua orang," sahut Irza sambil berbisik.
" Ir ..."
panggil Ardo.
" Ya, Dad?" sahut Irza.
" Bagaimana persiapan pernikahan kalian?" tanya Ardo yang sangat ingin menyaksikan pernikahan dari putra nya itu.
" Mungkin lusa berkas nya akan selesai, Dad. Aku hanya ingin menikah di rumah sakit di ruangan ini dan hanya di hadiri oleh keluarga dan dari dinas catatan sipil saja," sahut Irza.
" Kenapa begitu? aku ingin kalian melaksanakan pernikahan yang meriah," sahut Ardo.
" Ya. Kami akan mengadakan pesta nya setelah daddy sembuh," sahut Irza.
" Apa kau tak keberatan, Sayang?" tanya Ardo sambil menggenggam tangan Valerie.
Wanita itu tersenyum dan mengusap lengan Ardo.
" aku tidak keberatan, Dad. Aku tidak mau berpesta sementara Dady masih terbaring disini. Aku ingin berpesta saat daddy sudah sembuh dan bisa berdansa dengan ku," sahut Valerie yang membuat Ardo dan Wilda tersenyum.
Betapa beruntungnya mereka mendapatkan Menantu yang penyayang dan juga pengertian seperti Valerie.