
Dev memijat lembut dada sang istri, Zea pun tak keberatan dengan hal itu. Karena memang sudah lama dia tak merasakan sentuhan dari sang suami.
" Kau menikmatinya?" tanya Dev terus melanjutkan kegiatannya.
" Hhmm," sahut Zea sambil memejamkan matanya menikmati sentuhan dari sang suami.
Lalu satu tangan Dev beralih ke bagian sensitif dari sang istri. Sementara tangan yang satu lagi masih tetap berada di dada sang istri.
Terdengar lenguhan seksi keluar dari mulut Zea, saat tangan Dev dengan lihai bermain di area tubuhnya yang sensitif.
Dev tersenyum melihat sang istri yang sangat menikmati sentuhan demi sentuhan yang di lakukan oleh nya.
Hingga wanita itu sudah mendapatkan puncaknya, hanya dengan permainan lihai dari tangan Dev.
" I love you," kata Dev sambil mencium tengkuk leher sang istri.
Lalu Zea membalikkan tubuhnya, dia duduk dipangkuan sang suami dan menghadap kearah nya.
Tanpa basa-basi lagi, Zea langsung menarik tengkuk leher sang suami dan ******* bibirnya dengan penuh nafsu.
Dev sangat senang mendapatkan serangan tiba-tiba dari sang istri dan dia membalas ciuman itu dengan tak kalah panasnya.
" Hemmpp ...," desah Zea dalam ciuman itu.
Mereka terus berciuman dengan gerakan erotis yang di lakukan oleh Zea. Wanita itu menggoyangkan pinggulnya di atas pangkuan Dev. Dan hal itu membuat Dev tak bisa menahan lagi hasratnya terhadap sang istri.
" I want you now, Beby. Please ...," kata Dev melepaskan ciumannya.
Zea tersenyum miring sambil membelai wajah tampan sang suami, lalu beralih dengan menciumi leher Dev yang terlihat basah. Dan itu terlihat sangat menggoda bagi Zea.
" Beby ... Please," kata Dev dengan nada yang begitu menggoda.
Zea tak menggubrisnya, dia terus menciumi leher sang suami hingga tercipta tanda merah disana. Lalu dia berbalik menciumi dada bidang Dev.
" Aaaahh ...," desah Dev yang sudah sangat terpancing gairah nya oleh sentuhan sang istri.
Lalu Zea menghentikan aksinya, dia menatap lekat wajah tampan sang suami yang kini terlihat berkabut gairah.
" Aku sangat suka menggoda mu," kata Zea dengan seringai tipis di bibirnya.
" Kau menyiksaku, Beby." Dev merengkuh pinggang sang istri hingga menempel pada tubuhnya.
" Aku suka menyikapi mu, dan ini akan menjadi hobi baru ku sepertinya," kata Zea sambil tersenyum.
" Oouuwh ... Please, Beby. Aku sudah tak tahan," kata Dev.
Sementara itu Zea terus menggesekkan miliknya pada senjata sang suami yang sudah siap untuk bertempur.
" Tunggu, aku belum puas menyiksa mu," kata Zea mendekatkan bibirnya pada bibir sang suami.
Dev ingin mencium bibir seksi wanita itu, tapi Zea dengan cepat menjauhkan bibirnya dari bibir Dev.
Lalu Zea mendekatkan lagi bibirnya, Dev ingin memagut bibir itu tapi Zea menjauhkan nya lagi.
Mereka sama-sama tertawa, Lalu Zea mendekatkan lagi bibirnya dan dengan cepat Dev ******* bibir manis itu.
Zea tersenyum dalam ciuman itu, dan mereka lagi-lagi berciuman. Zea langsung melakukan penyatuan nya dengan posisi dirinya duduk di pangkuan sang suami.
Mereka terus berciuman sampai Dev menyemburkan benihnya di dalam rahim sang istri.
Lalu mereka mengakhiri kegiatan panas itu dengan saling berpelukan.
" I love you so much, semoga kau cepat memberikan ku Dev junior."
Zea tertawa mendengar ucapan dari sang suami sambil memeluk nya dengan erat.
.
.
Sementara itu, di luar mansion tepatnya di ruang tengah. Alina dengan kehebohannya menyuruh para pelayan di mansion untuk menyiapkan segala sesuatu yang akan di bawanya ke luar negeri.
" Apa pesanan aku kemarin sudah di siapkan, Bik?" tanya Alina sambil memakan cemilan nya.
" Sudah, Non. Saya sudah menyiapkan semua permintaan Nona Al sejak kemarin," kata pelayan lawas di mansion itu.
" Apa bibik sudah memasukkan nya kedalam koper?" tanya Alina lagi.
" Sudah, Non. Semua sudah ada di koper yang ini," kata bibik Neni sambil menunjuk koper yang lebih kecil.
" Baiklah, aku akan mandi dulu. Kalian bereskan ini semua, Terimakasih bantuannya!!" teriak Alina sambil berjalan kearah kamar nya.
Abel keluar dari kamarnya, dia melihat para pelayan yang sedang membereskan barang-barang di ruang tengah, lalu dia menghampiri mereka.
" Barang-barang siapa ini?" tanya Abel.
" Ini semua barang-barang nona Alina, Nyonya."
" What ... gadis itu benar-benar," kata Abel sambil menggelengkan kepalanya.
Zea turun dan menghampiri Abel.
" Ada apa, Mom?" tanya Zea.
" Ini semua milik Alina, sayang. Dia mau membawa semua barang-barang ini," sahut Abel.
Zea tertawa sambil menggelengkan kepalanya melihat semua barang yang akan di bawa oleh Alina.
Lalu Alina keluar dari kamarnya dengan sudah berpakaian rapih.
" Haii semua ... aku sudah siap," kata Alina menghampiri Zea dan Abel yang ada di ruang tengah.
" Astaga!! Ada apa ini?" kata Dev terkejut melihat barang-barang yang sudah selesai di packing oleh para pelayan.
" Ini barang-barang ku, Kak. Ini semua barang-barang kesayangan ku, jadi aku harus membawanya," kata Al dengan ekspresi cerianya.
" What ... kau mau membawa semua barang-barang ini, Al?" tanya Dev.
" Iya dong Kak, Kakak kan sudah menyiapkan apartemen yang lebih besar disana. Jadi aku akan membawa beberapa barang kesayangan ku," sahut Al dengan manjanya.
" Kenapa kau tidak membawa mansion ini sekalian?" sahut Dev ketus.
" Eemm ... kalau aku membawa mansion ini, lalu Kakak mau tinggal dimana?" sahut Al sambil memiringkan kepalanya seolah sedang berpikir.
PLETAK
Dev menjitak kepala adiknya.
" Bawa semua barang-barang mu di mansion ini, sekalian dengan ranjang dan lemari mu!! Dan setelah itu jangan pernah kembali lagi kemari," kata Dev lalu keluar untuk melihat mobilnya sudah siap apa belum.
" KAKAAAKK !!!" teriak Alina sambil mengusap kepalanya.
Zea dan Abel tampak tertawa melihat pertikaian kecil dari 2 bersaudara itu.
Lalu mereka semu keluar dari mansion.
Dev menyuruh pelayan untuk mengeluarkan barang-barang Alina dan memasukkan nya kedalam mobil range Rover miliknya.
Setelah itu Dev dan semua keluarga masuk kedalam mobil yang lain. Dev mengendarai mobil itu sendiri.
Sementara mobil yang satu lagi di bawa oleh supir, dan mobil itu hanya berisi barang-barang milik Alina.
Kini mereka sudah tiba di bandara, dimana jet pribadi milik keluarga Bramasta terparkir.
" Jaga dirimu baik-baik disana, Mom. Jangan terlalu capek, Kau harus menjagamu kesehatan mu kalau Momy menginginkan seorang cucu," kata Dev mencium punggung tangan sang Momy.
" Bukan seorang cucu Kak!! Tapi dua orang cucu!!" teriak Alina.
" Ya ya ya ... Aku akan segera memberikan 2 cucu sekaligus kalau kau tak merepotkan Momy disana," sahut Dev.
Semua tampak tertawa, Lalu Dev mencium pipi sang Momy dan memeluknya.
" Momy harus berjanji akan menjaga kesehatan Momy disana," kata Dev dalam pelukannya.
Abel tersenyum sambil mengusap punggung sang putra. Dia sangat tahu kekhawatiran putranya itu.
" Aku akan menjaga kesehatan ku, Dev. Tenang saja, Tugas mu kini hanya satu," kata Abel melepaskan pelukannya.
" Kau harus segera memberikan ku cucu sebanyak-banyaknya." Dev dan Zea tertawa mendengar permintaannya dari Abel.
Lalu Abel menghampiri Zea, dia menangkup pipi sang menantu dan berkata.
" Aku titip kan putra ku padamu, sayang. Bersabarlah menghadapinya, dan kau harus segera memenuhi permintaan ku," kata Abel lalu mencium kening Zea.
" Aku akan sangat merindukan Momy," kata Zea, lalu mereka berpelukan.
" Kenapa tidak ada yang melepas kepergian ku?" kata Alina mencebik.
Zea tersenyum dan melepaskan pelukannya, dia berjalan menghampiri Alina lalu memeluknya.
" Aku akan merindukan teriakan mu, Al. Dan mansion akan sepi tanpa mu," kata Zea.
Alina tiba-tiba menangis dalam pelukan Zea.
" Kenapa kau menangis, Al?" tanya Zea melepaskan pelukannya.
" Aku baru saja memiliki seorang Kakak perempuan, tapi sekarang aku harus berpisah dengan kakak perempuan ku," kata Alina dalam tangisan nya.
" Heii, kita masih bisa saling berhubungan, kan? jadi berhentilah menangis," kata Zea menangkup pipi Alina.
" Ck, Kenapa kau tumbuh jadi gadis yang cengeng, Al." Dev langsung menghampiri sang adik dan memeluknya.
" Kakak berjanji lah. Kau akan sering mengunjungi ku dan Momy ke London, bahkan kalau bisa setiap weekend kalian harus mengunjungi kami," kata Alina dalam pelukan Dev.
" Bahkan setiap malam aku akan mengunjungimu," sahut Dev melepaskan pelukannya.
" Benarkah?" kata Alina dengan tatapan mata yang berbinar.
" Ya, tapi dalam mimpi." Semua tampak tertawa mendengar ucapan dari Dev.
Lalu Dev dan Zea melepas kepergian Alina dan Abel sambil melambaikan tangannya.
Alina Zaquena Bramasta