My Lovely Girl

My Lovely Girl
S2 Valerie - Irza 23



Satu minggu berlalu.


Hubungan keluarga itu semakin damai dan mulai berjalan dengan normal kembali.


Begitupun dengan hubungan pernikahan Valerie dan Irza. Mereka terlihat semakin romantis dan harmonis hingga membuat Wilda bahagia melihat nya.


Kini semua tampak berkumpul di ruang makan untuk makan pagi bersama. Disana juga ada Lenski karena Wilda sendiri yang meminta anak itu untuk tinggal bersamanya.


Suasana di ruang makan itu tampak terlihat harmonis dan damai. Mereka semua sedang menyantap makanannya masing-masing.


" Mom ... Aku dan Dimas akan kembali ke negara kami hari ini," ucap Gita di sela-sela makan nya.


Semua tampak kompak menghentikan kegiatan nya dan melihat kearah Gita.


" Kenapa bisa secepat itu, Sayang?" sahut Wilda yang ekspresi wajah nya kini sudah berubah sendu.


" Mom ... aku memiliki tanggung jawab disana begitu pun dengan Dimas. Aku berjanji akan sering menghubungi mu dan berkunjung kemari. Kalian juga keluarga ku sampai kapanpun," ucap Gita sambil memegang tangan Wilda.


" Kau berjanji akan sering mengabari kami, kan?" tanya Wilda yang kini air matanya sudah menetes.


" Yes. I promise, Mom. I love you," ucap Gita dan memeluk erat tubuh Wilda.


" Baiklah, jika itu sudah keputusan mu. Tapi aku harap kau bisa sering-sering kemari," sahut Wilda sambil mengusap punggung Gita.


" Ya. Itu pasti, Mom. Kalau ada waktu senggang kami pasti akan berkunjung kemari," ucap Gita melepaskan pelukannya dan mengusap air mata yang menetes di pipi Wilda.


Lalu mereka kembali melanjutkan makannya.


" Jam berapa kalian akan berangkat?" tanya Wilda sambil menyantap makanannya.


" Nanti sore, Mom. Dimas sudah menyiapkan semua nya," sahut Gita tersenyum.


" Baiklah."


Mereka menyelesaikan makanannya sampai selesai tanpa ada yang berbicara lagi.


.


.


Kini mereka Gita sedang berada di halaman belakang bersama dengan Wilda dan Valerie. Mereka melihat kearah Arkana yang sedang asyik bermain dengan Lenski di sana.


" Aku pasti akan sangat merindukan kalian," ucap Wilda sambil menatap kearah Arkana.


Gita tersenyum dan menoleh kearah Wilda. Dia memegang tangan wanita paruh baya itu.


" Kami juga pasti akan sangat merindukan mu, Mom."


Gita menyandarkan kepalanya di bahu Wilda dan Wilda mengusap pipi Gita.


Valerie hanya tersenyum dan menatap kearah mereka.


" Tapi mom!!" ucap Gita tegas dan kembali menegakkan posisi duduknya.


" Bukan kah kau sebentar lagi akan memiliki cucu dari Irza dan juga Valerie?" ucap Gita semangat.


Wilda tersenyum dan menatap kearah sang menantu yang pipinya sudah bersemu merah.


" Aku tidak yakin, mereka akan memberikan cucu secepat itu padaku," ucap Wilda bergurau.


" Kalau begitu mintalah pada menantu mu itu, Mom. Dia pasti akan segera mengabulkan keinginan mu, benar kan adik ipar?" ucap Gita menatap kearah wajah merah Valerie yang seperti kepiting rebus.


Lalu Wilda memegang tangan Valerie.


" Apa kau tidak keberatan jika Momy meminta seorang cucu padamu, sayang?" tanya Wilda dengan suara lembutnya.


Valerie tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


" A-aku tidak keberatan, Mom. Doa kan saja, semoga aku cepat hamil," ucap Valerie gugup.


Wilda kembali tersenyum dan itu membuat Valerie juga tersenyum.


Valerie hanya menganggukkan kepalanya saja dan mereka berpelukan.


" Ah ya. Kalian kan belum berbulan madu?" tanya Gita.


" Iya. Itu benar, sayang. Kalian harus pergi berbulan madu agar kalian bisa menikmati waktu berdua. Dan siapa tahu tuhan akan mempercepat membiarkan mu seorang momongan," sahut Wilda.


" Tapi, mom. Sepertinya itu tidak perlu. Irza juga sedang sangat sibuk dan aku takut jika dia akan merasa terganggu jika aku meminta hal itu," sahut Valerie sendu.


" Heiii ... biar aku yang menangani hal itu. Dia tak akan berani membantah ku," sahut Gita.


" Apa Irza akan menyetujui nya, Kak?" tanya Valerie.


" Ya. Dia pasti sangat menyetujui hal ini," sahut Gita.


Lalu mereka kembali berbincang ringan dan menikmati momen kebersamaan bersama Gita yang sebentar lagi akan pergi.


.


.


Sore menjelang.


Irza sudah pulang dari perusahaan karena ingin melepas kepergian Gita. Kakak yang selalu dia hormati dan sayangi.


Irza masuk kedalam mansion dan langsung di sambut oleh teriakan Arkana. keponakan tersayang nya.


" UNCLEE!!" teriak Arkana sambil berlari kearah Irza.


Pria itu membungkuk dan menyambut pelukan Arkana. Dia menangkap tubuh mungil itu dan mengangkat nya tinggi-tinggi.


" Aku akan sangat merindukan mu, Uncle."


Irza memeluk tubuh mungil itu dan mengusap punggung nya.


" Uncle juga pasti akan sangat merindukan mu, Boy," ucap Irza.


Lalu Semua orang pun keluar dari mansion menuju halaman depan. Irza keluar dengan menggendong tubuh Arkana.


Gita dan Dimas berpamitan pada semua yang ada disana.


" Jangan lupakan permintaan ku tadi, Ir. Kau harus segera melakukan nya dan mewujudkan keinginan Momy," ucap Gita.


" Baiklah - baiklah," ucap Irza.


" Heii ... jangan menjawab kau seolah terpaksa melakukan nya, Ir!! atau kau mau aku membawa Valerie bersama ku agar kau tahu rasa!!" tegas Gita yang membuat semuanya tertawa.


" CK. Aku tidak akan membiarkan Kakak kejam ku ini membawa istri ku," sahut Irza sambil merangkul bahu Valerie.


Semua kembali tertawa.


" Jaga Momy baik-baik."


Gita memeluk tubuh Irza dan pria itu juga membalas pelukan itu.


" Pasti, Kak. Jaga dirimu baik-baik disana dan jangan lupakan kami disini," ucap Irza.


Gita melepaskan pelukannya.


PLAKK


Dia langsung memukul lengan Irza dengan keras.


" Kenapa kau menganiaya ku, Kak!"


" Itu kenang-kenangan dari ku," sahut Gita dan langsung masuk kedalam mobilnya.


Semua melambaikan tangannya saat mobil itu mulai berjalan keluar dari halaman mansion itu.