My Lovely Girl

My Lovely Girl
Bab 53



Zea mendorong dada bidang Dev yang ingin mencium bibirnya.


" Ada apa, Beby?" tanya Dev sambil mengerutkan keningnya.


" Kita akan bertarung terlebih dahulu, baru kau bisa mencium ku," sahut Zea tersenyum mengejek.


" What ... kau mau menyiksa ku, Beby?" sahut Dev.


" Itu lah peraturan nya, Tuan," kata Zea melepaskan tautan tangan Dev di pinggang nya.



" Sampai bertemu nanti malam di atas ring, Beby," kata Zea mengecup bibir Dev lalu meninggalkan pria itu di lantai dansa.



" Sial, jadi dia menganggap serius pertarungan ini? Baiklah, aku akan melayani mu, Nyonya," gumam Dev sambil menatap kepergian Zea.



.


" Ada apa dengan mereka?" apa mereka bertengkar?" tanya Gita melihat Zea menjauh dari Dev.


" Tidak, Kak. Mereka hanya akan bertarung nanti malam," kata Daniel tiba-tiba muncul dari belakang Gita.


" What ... yang benar saja, Daniel?" kata Gita lalu menoleh pada Daniel.


" Ya, itu yang aku dengar." Daniel berdiri di sebelah Gita, lalu menatapnya.



" Ada apa?" tanya Gita menatap heran pada Daniel.



" Apa kau tidak merencanakan sesuatu pada kak Zea?" tanya Daniel tiba-tiba.



" What ... untuk apa?" tanya Gita.


Daniel menghendikkan bahunya lalu pergi dari hadapan Gita.


" Anak itu pasti mengira aku masih membenci Zea," kata Gita pelan sambil menatap kepergian Daniel.



Lalu tiba-tiba ada yang menarik tangan nya dengan paksa masuk kedalam resort dan menuju lift di resort itu.



Setelah ada di dalam lift orang itu langsung melepaskan tangannya dan mendorong tubuh Gita hingga bersandar ke dinding lift yang dingin itu.


" Dimas ... kau mengagetkan ku saja," ucap Gita sambil mendongak kan kepalanya menatap wajah pria itu.


Dimas hanya tersenyum sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Gita.


Pria itu perlahan memiringkan kepalanya lalu mencium bibir Gita secara perlahan.


Gita membalas ciuman itu sambil mengalungkan tangannya di leher kokoh Dimas.


Mereka berciuman lama di dalam lift hingga lift itu berhenti.


Ting ...


Pintu lift terbuka, tiba-tiba ada seorang wanita berteriak melihat adegan ciuman itu.


" Aaaaaa ...." Alina langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Gita dan Dimas langsung melepaskan ciumannya, lalu melihat kearah wanita itu.


"Aku tidak melihatnya Kak, sungguh, aku tidak melihatnya!!" kata Alina masih dengan tangan yang menutupi wajahnya.


Dimas dan Gita tertawa melihat tingkah Alina yang begitu polos, lalu keluar dari lift dan berjalan menjauhi Alina yang masih mematung di tempatnya.


Setelah beberapa menit Alina masih berdiri di depan lift dengan posisi yang sama.


Ting ...


Pintu lift terbuka lagi dan terlihat Zea keluar dari dalam lift, dan menatap heran pada adik ipar nya itu.


" Al ..." panggil Zea sambil menepuk pundak Alina.


" Tidak Kak, aku tidak melihatnya, sungguh!!" kata Alina dengan tegas.


Zea tertawa mendengarnya, lalu Alina membuka tangan yang menutupi wajahnya karena mendengar tawaan dari Zea.


" Kak Zea ...." Alina mengedarkan pandangannya mencari sepasang pengantin baru yang tadi di lihatnya sedang berciuman di dalam lift.


" Kemari, ikut aku," kata Zea menarik tangan Alina menuju kamar nya.


.


.


Sementara di kamar yang berbeda, tepatnya di dalam kamar pengantin Dimas dan Anggita.


Mereka berciuman dengan begitu intens dengan kondisi keduanya yang sudah tak ditutupi oleh sehelai benang pun di tubuhnya.


" Hemmpp ..." lenguhan Gita dalam ciumannya.


Tangan mereka saling bertautan bersamaan dengan bibir mereka yang saling memagut.


Dimas menurunkan ciumannya di leher Gita dan menciptakan beberapa tanda merah disana.


Pria itu terus menelusuri lekuk tubuh indah sang istri dan meninggalkan tanda kepemilikan di setiap jengkal kulit mulus Gita.


Gita tampak seperti cacing kepanasan dengan meliuk-liuk kan tubuhnya di bawah tubuh kekar sang suami.


Dan menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh pria tampan itu.


Setelah cukup lama melakukan pemanasan, kini tiba di bagian inti dari kegiatan itu.


" Are you ready, Honey?" tanya Dimas menatap lekat wajah Gita yang berada di bawah nya.


Gita menarik nafas panjang, lalu menghembuskan nya dan berkata.


" Hmmm, I'm ready."


" Aku akan melakukannya dengan perlahan," kata Dimas mengecup bibir Gita.


Gita menganggukkan kepalanya berulang kali sambil menghembuskan nafasnya, karena dia masih ingat rasa sakit saat pertama kali melakukan nya.


Lalu dengan sangat perlahan Dimas melakukan penyatuannya.



" Apakah sakit?" tanya Dimas ketika berhasil memasukkan separuh senjatanya.


Gita menggeleng sambil menggigit bibirnya.


Lalu Dimas melanjutkannya dengan sangat perlahan, Gita merasakan sesuatu yang menerobos masuk sambil memejamkan matanya.


" Buka matamu, Honey. Tatap mataku saat kita melakukan nya," kata Dimas berbisik di telinga Gita sambil bergerak perlahan di atas tubuh sang istri.


Lalu Gita membuka matanya dan menatap lekat mata tajam Dimas.


Dimas terus bergerak perlahan sambil menautkan tangan nya dengan tangan Gita.


Gita mulai menikmati percintaan kedua nya itu, yang kini sudah di lakukan dengan status sebagai istri dari Dimas.


Dan itu membuat Gita bernafas lega karena dia memberikan kehormatannya pada pria yang kini sudah resmi menjadi suami nya.


Dimas mempercepat gerakan nya dan Gita menyeimbanginya. Mata mereka saling bertaut menikmati percintaan itu.


Lalu Dimas mendekatkan wajahnya pada wajah Gita lalu mencium bibirnya.


" Rasakan lah cinta ku yang sangat besar pada mu, Honey," kata Dimas setelah melepas kan ciumannya.


Dia terus bergerak cepat hingga mereka mendapatkan kenikmatan nya bersama dengan menumpahkan seluruh benihnya di rahim Anggita.


" I love you, Gadis seksi ku," kata Dimas sambil menciumi seluruh wajah Anggita.



" I love you to, Dokter gadungan ku," jawab Gita.


Lalu mereka tertidur sambil berpelukan di bawah selimut yang sama.


.


.


.


" Hahahaha ..." Zea meledakkan tawanya saat mendengar alasan dari Alina yang menutup wajahnya tadi di depan pintu lift.


" Iiish ... Kakak ipar, kenapa kau tertawa?" kata Alina merebahkan tubuhnya di ranjang.


" Kau itu adikku yang paling polos, kau berdiri seperti orang bodoh di depan pintu lift, karena itu?" kata Zea masih tertawa.


" Aku sangat malu, Kak. Bagaimana ini?" kata Alina sambil menutupi wajahnya dengan bantal.


Zea tersenyum lalu menghampiri Alina dan ikut berbaring di atas ranjang.


" Hei, kau hanya melihat nya, kan? dan bukan kau yang sedang berciuman," kata Zea mengambil bantal yang menutupi wajah Alina.


" Tapi sama saja, aku malu pada kak Dimas dan kak Gita, Kak," kata Alina mencebik.


Lalu Zea membalikkan tubuhnya, dengan posisi tengkurep sambil menghadap kearah Alina.


" Hei, dengar kan aku. Seharusnya yang malu itu mereka, karena mereka sudah berciuman di tempat umum. Bukan malah kau yang malu, Alina ...," kata Zea sambil mencubit gemas hidung mancung Alina.


" Benarkah?" kata Alina menatap Zea.


Zea hanya menganggukkan kepalanya pada Alina sambil tersenyum.


" Oouuwh ... aku sayang padamu, Kak," kata Alina memeluk leher Zea.


CEKLEK ...


" Apa yang kalian lakukan disini!!" kata seseorang dengan nada yang dingin.