
Malam menjelang.
Irza tampak baru menyelesaikan pekerjaannya, dia melihat kearah jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Pria itu beranjak dari kursi dan berjalan keluar dari ruangan itu.
Dia berjalan menuju lift dan tiba-tiba ponselnya berdering. Pria itu mengambil ponsel yang ada di saku celananya dan melihat nama sang istri disana.
Senyumnya mengembang dan dia langsung mengangkat telepon dari sang istri.
" Hallo."
" Honey ... kau masih di perusahaan?" tanya Valerie dari seberang telepon.
Irza menghentikan langkahnya dan hanya berdiri di samping pintu lift.
" Hmmm ... ada apa, Beby? kau merindukanku?" sahut Irza.
" Tidak. Aku hanya ingin bertanya saja, apa kau akan pulang dan makan malam di mansion? jika iya aku akan menunggu mu," sahut Valerie.
" Wait ... selama seharian ini aku meninggalkan mu dan tak menghubungi mu tapi kau bilang kau tak merindukan ku? why?" sahut Irza.
Valerie terdengar tertawa di seberang sana.
" Kau tidak menjawab pertanyaan ku, Honey!" sahut Valerie.
" Heii ... kau yang tak menjawab pertanyaan ku! apa kau mau suami mu ini di goda oleh banyak wanita diluar sana?"
sekali lagi Valerie hanya tertawa.
" Jika itu sampai terjadi maka aku akan menjadi singa betina yang menyeramkan! jawab aku, kau makan di mansion atau tidak?"
Irza terkekeh saat mendengar jawaban dari sang istri.
" Aku sudah ada janji makan malam bersama dengan relasi bisnis ku malam ini, Honey. Jadi aku tidak bisa makan bersama mu di mansion. Kau tak masalah, kan?" sahut Irza.
" Ya. Aku tak masalah. Jangan pulang terlalu larut jika kau tak mau tidur diluar! aku akan mengunci pintunya jika pada jam 10 malam kau belum juga pulang!"
Valerie langsung memutuskan panggilan itu secara sepihak. Dan itu membuat Irza menggelengkan kepalanya.
" Dia mengancam ku? atau memperingatkan ku?" gumam Irza.
Pria itu langsung menekan tombol lift agar pintu nya terbuka setelah memasukkan ponselnya kembali kedalam saku celananya.
Dia melangkahkan kakinya masuk kedalam lift dan pintu lift pun langsung tertutup.
.
.
Di sebuah mansion besar keluarga Agraha.
Semua pelayan tampak sibuk menatap makanan yang akan di hidangkan di meja makan.
Bahkan Tuan Veloz Agraha, sang tuan rumah tampak sudah bersiap untuk menyambut tamu kehormatan nya.
" Kau sudah menghubungi Leyra?" tanya Veloz pada Meya sang istri yang tengah merias diri di depan cermin.
" Sayang sekali Irza sudah lebih dulu menikah. Jika tidak aku ingin menjodohkan dia dengan Leyra. Toh mereka sudah berteman dekat sejak dulu," sahut Veloz sambil memakai jam tangan mewah nya.
" Itu karena kau tak menuruti perkataan ku dulu. Jika kau mau mendengar kan ku, maka bisa jadi mereka kini sudah menikah," sahut Meya tanpa membantu sang suami yang tampak kesulitan memakai jam tangan nya.
Veloz menghela nafasnya. Dia cukup menyesal karena dulu Meya pernah menyarankan untuk menjodohkan Leyra dengan Irza.
Tapi pria itu tak menghiraukan saran dari Meya karena sibuk dengan perusahaan nya. Padahal hubungan nya dengan Tuan Ardo, Daddy Irza cukup dekat dan mungkin saja Ardo akan menyetujui hal itu.
Dan itu sudah terlambat. Karena Irza kini sudah menikah.
" Kenapa kau diam? kau menyesal karena tak mendengar kan ucapan ku?" kata Meya bangkit dari kursinya dan berjalan melewati Veloz tanpa ada niatan untuk membantu sang suami.
Veloz hanya diam sambil melihat kearah Meya yang berjalan keluar dari kamar.
" Benar-benar istri tak berguna!" gumam Veloz yang sebenarnya sudah sangat muak dengan sikap sang istri.
.
.
Leyra sedang berada dalam perjalanan menuju Mansion orang tuanya setelah mendapatkan perintah dari sang Momy yang menyuruh nya untuk segera ke mansion.
Dia tak tahu bahwa malam ini keluarga nya akan makan malam bersama dengan Irza karena Meya memang tak memberitahu nya.
Wanita itu hanya berpenampilan biasa dan hanya merias sedikit wajahnya karena dia berpikir sang Momy mengajak nya makan malam bersama dengan relasi bisnis sang daddy yang berujung dengan memperkenalkan nya dengan anak dari relasi bisnis nya itu.
Leyra tak pernah bisa menolak atau membantah perintah dari kedua orang tuanya. Karena dia memang seorang putri yang penurut.
Tapi dia selalu punya cara untuk menggagalkan setiap perjodohan yang sudah di rencanakan oleh sang daddy.
Kini mobilnya sudah memasuki gerbang tinggi di mansion nya. Dia begitu tak semangat dan sangat malas untuk keluar dari mobilnya.
Hingga tak lama setelah itu, ada sebuah mobil yang sangat dia kenal masuk kedalam gerbang dan berhenti tepat di samping mobilnya.
" Bukankah itu mobilnya Irza?" gumam Leyra.
Seseorang keluar dari mobil dan itu adalah Jo, asisten dari Irza. Pria itu berjalan ke arah kursi penumpang dan membuka kan pintu mobil.
Dan keluarlah sosok pria tampan yang menjadi pujaan hati Leyra, yaitu Irza.
Senyum Leyra terpancar dan wanita itu langsung merapikan rambut serta riasannya sebelum keluar dari mobilnya.
" Oh my. Kenapa Momy tak mengatakan bahwa Irza yang akan makan malam bersama di mansion ini! jika aku tahu, aku pasti akan berpenampilan sesempurna mungkin," gumam Leyra.
Saat Irza dan Jo sudah berjalan kearah beranda mansion. Leyra keluar dari mobil dan memanggil Irza.
" Irza!!!"
Merasa dirinya di panggil, Irza langsung menghentikan langkahnya dan menoleh pada Leyra yang tersenyum manis pada nya.
Pria itu membalas senyuman itu sambil merentangkan kedua tangannya.
Leyra berlari kearah Irza dan mereka langsung berpelukan.