
Kini Irza dan Valerie sudah berada di dalam pesawat pribadinya. Saat di dalam pesawat, Irza kembali di sibukkan dengan pekerjaan nya.
Pria itu tampak sudah fokus dengan laptopnya. Valerie hanya diam sambil melirik kearah laptop sang suami.
' Andai di pesawat ini ada sila dan Yenni,' batin Valerie sambil menghela nafasnya.
Wanita itu tampak memejamkan matanya karena dia benar-benar bosan berada di pesawat itu.
" Permisi. Ini camilan dan minuman nya, Tuan Nyonya."
Mendengar suara yang tak asing itu membuat Valerie langsung membuka kedua matanya. Senyum nya tersungging saat melihat kedua pramugari yang tak lain adalah Sila dan Yenni.
Mereka tersenyum senang saat kembali bertemu dengan istri sang konglomerat yang sangat ramah dan baik seperti Valerie.
Irza melirik kearah sang istri yang seperti memberi kode pada dua pramugari itu dengan tatapan mata nya.
" Pergilah dengan mereka jika kau ingin mengobrol dengan mereka, aku tahu kau merasa bosan," kata Irza yang membuat Valerie langsung menatap dengan tatapan sumringah pada sang suami.
" Benarkah? apa boleh?" tanya Valerie memastikan.
" Hmmm ... tapi tidak perlu ke kabin belakang. Duduk saja di kursi belakang," sahut Irza sambil mengusap lembut pipi halus Valerie.
Wanita itu tampak sangat senang. Lalu dia mengecup bibir sang suami ketika Sila dan Yenni masih ada disana.
Dia pramugari itu tampak tersenyum saat melihat adegan mesra itu. Dan menundukkan kepalanya.
" Thank you, mu Honey bunny!"
Valerie bangkit dan langsung menarik tangan kedua pramugari itu.
Irza tersenyum saat melihat tingkah sang istri dan kembali memfokuskan diri pada laptop nya.
Valerie berbalik dan mencium pipi Irza dan membuat pria itu terkejut. Irza melihat kearah sang istri yang tersenyum pada nya sambil mengambil kue kering serta minuman nya tadi.
" Aku hanya ingin mengambil ini, Honey. Nikmati pekerjaan mu," kata Valerie dan pergi dari hadapan Irza.
Irza menggelengkan kepalanya dan menatap kearah laptop nya lagi.
.
.
Kini Valerie sedang asik mengobrol dengan dua pramugari itu. Mereka duduk di bangku paling belakang dan mereka sama-sama menikmati camilan yang ada di hadapannya.
" Bagaimana dengan bulan madu mu di Swiss?" tanya Sila.
" Sangat menyenangkan! Kita tinggal di sebuah villa yang sangat indah. Dan aku betah berada disana," kata Valerie.
" Benarkah? jadi suami mu itu punya sebuah villa di Swiss? itu pasti sangat mewah," sahut Yenni.
" Ya. Villa itu terletak di sekitar bukit dan di kelilingi oleh kebun teh. Udaranya disana sangat dingin dan membuat ku ingin selalu bercinta dengan suami ku," kata Valerie yang membuat kedua pramugari itu tertawa.
" Lalu bagaimana dengan permainan ranjangnya? pasti dia sangat Hot, bukan?" tanya Sila dengan suara yang hampir berbisik karena takut jika Irza mendengar.
Seketika wajah Valerie berusaha memerah dan dua pramugari itu melihat hal itu.
" Cerita kan pada kami, Val. Aku sangat penasaran," tanya Sila.
Valerie terkekeh sambil menutup mulutnya sendiri.
" Ya. Aku akui dia memang sangat hot, dan aku selalu menginginkan dia menghujam ku lagi dan lagi," sahut Valerie dengan sedikit berbisik.
Sila dan Yenni tampak terkekeh sambil menyenggol lengan Valerie.
" Kalian tahu, bahkan kami pernah semalaman tak tidur dan hanya melakukan percintaan panas itu sepanjang malam. Kita juga pernah melakukan hal itu di are kebun teh," lanjut Valerie dan membuat dua pramugari itu tertawa.
" Kau yang maniak atau dia yang terlalu Hot?" tanya Sila.
" Hhmmm ... sepertinya kita sama-sama maniak," sahut Valerie dan mereka tertawa bersama.
Irza mendengar tawa dari ketiga wanita itu dan membuat dirinya berpikiran yang aneh-aneh.
" Apa yang sedang mereka bicarakan?" gumam Irza sambil melanjutkan kegiatannya.
" Dasar wanita. Kalau sudah berkumpul mereka akan melupakan para lelaki," gumam Irza sambil menggeleng kan kepalanya.
.
.
Perjalanan pun berakhir.
Kini pesawat itu sudah mendarat di sebuah bandara internasional yang ada di Turki.
Sepanjang perjalanan itu, 80 persennya Valerie lewatkan dengan bercengkrama dengan dua pramugari itu.
Dan Irza membiarkan hal itu karena dia memang cukup sibuk dengan pekerjaan nya. Karena dia ingin secepatnya menyelesaikan pekerjaan itu sebelum dirinya melanjutkan perjalanan bulan madu nya.
Valerie tampak berpamitan pada dua pramugari yang sudah menemani perjalanan nya dan tak membuat nya merasa kesepian lagi.
" Bye ... semoga di penerbangan ku yang selanjutnya, kalian tetap ada di pesawat ini," kata Valerie.
" Semoga saja," sahut Sila.
" Nikmati perjalanan bulan madu mu, Val. Dan semoga setelah pertemuan selanjutnya ada kami mendengar kabar bahagia dari mu," kata Yenni.
" Hmmm ... Doakan agar aku cepat mendapatkan momongan," sahut Valerie.
Irza menghampiri mereka dan menggandeng tangan sang istri.
" Sudah acara perpisahan nya?" tanya Irza dan Valerie menganggukkan kepalanya.
" Baiklah. Kita lanjutkan perjalanan kita, Beby!"
Valerie tersenyum dan langsung di gandeng oleh sang suami menuruni tangga pesawat.
" Bye ..." kita Valerie pada dua pramugari yang masih berdiri di ambang pintu pesawat.
Mereka tersenyum dan melambaikan tangannya pada Valerie.