My Lovely Girl

My Lovely Girl
S2 Valerie - Irza 2



Ting ...


Pintu lift terbuka. Irza langsung keluar dari dalam lift setelah membisikkan sesuatu di telinga Valerie.


Sementara Valerie masih terpaku di dalam lift hingga pintu nya kembali tertutup. Dan wanita itu memutuskan untuk menunggu adiknya yang kini tengah di operasi.


CEKLEK


Irza membuka pintu ruangan perawatan Ardo dengan perlahan. Dia sudah melihat sang Momy yang sudah tertidur di kursi sebelah ranjang dengan kepala yang tersandar ke ranjang.


Lalu Irza menghampiri Wilda dan mengangkat nya perlahan. Dia merebahkannya tubuh Wilda di sofa panjang yang ada di ruangan itu.


Dia juga menutupi tubuh Wilda dengan selimut yang ada di sofa itu.


Irza kemudian mencium kening Wilda dan dia langsung keluar dari ruangan itu.


.


.


Valerie tengah menunggu di depan ruangan operasi. Dia duduk di ruang tunggu sambil memikirkan apa yang di bisikan oleh Irza.


" Aku berani membayar berapa pun asal kau mau menjadi istri sementara ku, aku akan menanggung semua biaya pengobatan adik mu sampai sembuh tanpa kau harus menjual tubuh mu pada pria hidung belang di luar sana. Pikirkan itu baik-baik," bisik pria itu saat di dalam lift.


Lalu ada tangan yang tiba-tiba menepuk bahunya sampai wanita itu terkejut.


" Apa kau sedang memikirkan tawaran ku?" tanya Irza yang sudah ada di sebelah nya.


Valerie menoleh pada Irza dan menatap heran pada pria tampan itu.


" Apa kau tidak memiliki kekasih? kau tampan dan kaya raya. Tidak mungkin jika tak ada wanita yang tidak tertarik dengan mu," kata Valerie.


Irza tersenyum miring mendengar ucapan dari wanita cantik itu.


" Bagaimana dengan mu? kau cantik dan seksi. Kau bahkan nyaris sempurna secara fisik. Tak mungkin jika tak ada pria yang tak menyukai mu, apa kau tak punya kekasih yang bisa kau mintai pertolongan? hingga kau nekat menjual dirimu?" sahut Irza bertanya balik.


" CK. Itu bukan urusan mu," sahut Valerie sambil memalingkan wajahnya.


" Dan pertanyaan yang kau lontarkan tadi juga bukan urusan mu," sahut Irza dengan tetap menatap wajah cantik itu.


Mereka sama-sama terdiam. Valerie tampak fokus menatap kearah pintu ruangan operasi yang masih tertutup, dan Irza yang fokus dengan wajah cantik Valerie.


Wanita itu sadar jika dia sedang di tatap oleh pria tampan yang duduk di sebelah nya. Lalu dia mengangkat tangan nya dan menutupi mata Irza.


" Jangan menatapku seperti itu. Aku memang sangat cantik dan aku menyadari kelebihan ku itu. Maka aku ingin memanfaatkan nya dengan mencoba menjual diriku dengan harga yang fantastis," kata Valerie dengan percaya dirinya.


Irza tertawa dan mengambil tangan Valerie yang menutupi pandangan nya.


" Jangan lakukan hal itu lagi. Sayangi dirimu sendiri, jika kau membutuhkan banyak uang kau cukup datang padaku. Maka aku akan memberikan nya padamu dengan suka rela," sahut Irza.


Wanita itu tersenyum miring dan melihat kearah Irza yang tengah membelai lembut tangan nya.


" Ku rasa kau tidak memberikan nya secara sukarela, Tuan. Dan aku sangat tahu apa mau mu," kata Valerie dan menarik tangan nya yang tengah di genggam oleh Irza.


Pria itu hanya tertawa menanggapi nya.


Lalu pria itu mendekat kan mulut nya ke telinga Valerie.


" Pikirkan tawaran ku tadi baik-baik sebelum aku berubah pikiran dan meminta kembali uang ku padamu," bisik Irza.


Lalu pintu ruangan operasi pun terbuka. Valerie langsung bangkit dan menghampiri dokter yang keluar dari ruangan itu.


" Bagaimana kondisi adikku, Dokter? apa operasi nya berjalan lancar?" tanya Valerie khawatir.


" Operasi nya berjalan dengan lancar. Tapi kita harus menunggu hasil nya. Kita akan membawa nya ke ruang ICU terlebih dahulu karena kondisinya belum stabil," sahut dokter itu.


Setelah itu beberapa perawat mendorong ranjang adik Valerie keluar dari ruangan operasi dan di pindahkan ke ruang ICU.


Valerie dan Irza mengikuti kemana perawat membawa Lenski, adik Valerie.


Sampailah mereka di depan ruangan ICU. Valerie kembali terduduk lemas di kursi yang ada di depan ruangan ICU.


Tangannya mencengkram kuat rambut kepalanya dan menundukkan kepalanya.


Irza menghampiri wanita itu dan mengusap punggungnya.


" Dia pasti akan baik-baik saja," kata Irza.


" Hmmm ... Thanks. Kau tak pulang?" tanya Valerie.


" Tidak. Aku sedang menunggu daddy ku yang dirawat disini," sahut Irza.


Valerie menoleh pada Irza.


" Lalu kenapa kau malah disini?" tanya Valerie.


" Sudah ada Momy disana. Dan mereka sudah tertidur," sahut Irza dengan wajah yang mulai sendu.


Valerie melihat perubahan di wajah pria tampan itu.


" Apa sakit nya parah?" tanya Valerie.


" Kanker paru-paru stadium 4 dan jantung koroner," sahut Irza sambil menghela nafas nya.


Valerie mengangkat tangan nya dan mengusap punggung pria itu. Tapi pria itu malah menarik nya dan memeluk nya.


" Maaf. Aku sedang butuh pelukan dari seorang wanita," kata Irza dalam pelukan itu.


Valerie mengerutkan keningnya.


" Kau bisa meminta pelukan pada Momy mu, Tuan!" sahut Valerie kesal.


" Mommy sedang tidur dan aku tak mau mengganggu nya."


Mereka hanya berpelukan dan saling menguatkan tanpa ada yang bersuara.


" Maukah kau menikah dengan ku?" tanya Irza dalam pelukan itu.


Valerie Archer



Irza Herlando