
Dimas dan Anggita berdansa di lantai dansa bersama para tamu serta keluarga.
Pernikahan itu tampak sangat meriah tanpa ada kendala.
Semua tampak bahagia menyaksikan pernikahan akbar 2 pasangan itu.
Dimas dan Anggita tampak keluar dari kerumunan orang yang tengah berdansa.
Pria itu menggandeng tangan Gita menuju meja dan meminta pelayan untuk menghidangkan makanan untuk mereka karena mereka sangat lapar.
" Kau bahagia?" tanya Dimas mengusap lembit wajah Gita.
" Hmmm, aku bahagia." Gita tersenyum pada Dimas.
" Ehemm ... Ehem." Seseorang berdehem di belakang Dimas.
Gita melihat kearah seseorang yang ada di belakang Dimas dan tersenyum.
" Kak Arga?" kata Gita beranjak dari kursinya.
Dimas menoleh dan juga beranjak dari kursinya dengan merengkuh pinggang Gita.
Arga tersenyum miring melihat tangan Dimas yang berada di pinggang Gita.
" Selamat, Anggita ... Dimas. Selamat atas pernikahan kalian, semoga kalian selalu bahagia," kata Arga sambil mengulurkan tangannya pada Dimas dan Anggita secara bergantian.
" Thanks," sahut Dimas tersenyum penuh kemenangan karena kini dia sudah memiliki Gita sepenuhnya.
" Terimakasih Kak, kau sudah menyempatkan diri untuk datang ke pesta ku." Gita tersenyum pada Arga lalu pada Dimas.
Lalu Arga memberikan kado pernikahan untuk pasangan itu.
" Terimalah, ini kenang-kenangan dariku," kata Arga tersenyum getir.
Pria itu berusaha tersenyum ketika hatinya sedang merasakan sakit karena takdir yang tak berpihak pada cinta nya.
" Terimakasih, aku akan menyimpan nya," kata Gita menerima kado dari Arga.
Gita menaruh kado itu di tempatnya dan meninggalkan Arga dan Dimas sebentar.
" Berikan dia padaku jika kau bosan padanya, karena aku akan selalu menerimanya kapanpun dan dalam keadaan apapun," kata Arga berbisik.
" Itu tidak akan pernah terjadi, Arga," sahut Dimas menatap tajam mata Arga.
" Kak, ayo kita makan bersama." Ajak Gita menghampiri mereka.
" Tidak, aku ada urusan dan harus segera pergi, Gita. Permisi." Arga langsung meninggalkan pesta itu dengan perasaan yang kacau.
" Dia sedang patah hati," bisik Dimas di telinga Gita.
" Benarkah?" tanya Gita tak tahu.
" Ya, itu sangat terlihat, Honey." Dimas menarik tangan Gita kembali ke kursinya.
" Dia pria yang sangat baik dan juga tampan, semoga dia cepat menemukan wanita yang mencintai nya." Gita duduk dan masih menatap kepergian Arga.
" Honey, kau memuji pria lain di hadapan suami mu!!" tegas Dimas tak suka.
Gita tertawa lalu mengecup bibir Dimas dan berkata.
" Aku hanya memuji nya, bukan jatuh cinta padanya."
Dimas tertawa pelan mendengar perkataan dari sang istri sambil mencium keningnya.
.
.
" Jadi kau tetap ingin bertarung dengan ku, Beby?" tanya Dev.
" Ya, itu sudah jadi perjanjian kita, bukan?" sahut Zea menatap manik mata sang suami.
" Jika kau kalah, bersiaplah untuk ku hajar di atas ranjang semau ku, Beby," kata Dev berbisik.
" Dan jika kau kalah, bersiaplah untuk menuruti semua perintah ku, Tuan!" sahut Zea.
Mereka bertatapan tajam sambil terus berdansa.
" Hei, sepertinya akan ada pertarungan hebat setelah pesta ini," kata Daniel tiba-tiba datang dan merebut Zea dari tangan Dev.
" Heii, dia istri ku!!" tegas Dev tak terima.
" Dia kakak ku, kalau kau lupa," sahut Daniel sambil berdansa dengan Zea.
Sementara Zea hanya tertawa melihat tingkah laku adik dan suaminya.
" Daniel, kembalikan Zea padaku!!" kata Dev mengikuti langkah dansa mereka.
" Tidak, aku akan mengembalikan nya padamu setelah aku puas, Kak Dev." Daniel terus berdansa sambil menjulurkan lidahnya pada Dev.
" Kau pikir aku ini mainan, Daniel?" kata Zea.
" Oh my, aku hanya ingin menikmati kebahagiaan ini dengan mu sebentar saja, Kak," sahut Daniel.
Zea hanya menggelengkan kepalanya.
Dev terus berdiri di lantai dansa itu sembari menunggu Daniel mengembalikan Zea padanya.
Lalu tiba-tiba ada tangan yang menariknya dan mengajaknya berdansa.
" Haii ... Kakak ku yang tampan," kata Alina tersenyum manis pada Dev.
Dev tersenyum sambil merengkuh pinggang kecil Alina lalu memeluknya.
" Hallo ... adikku yang cantik," kata Dev memeluk tubuh mungil Alina.
Alina melepaskan pelukannya lalu melanjutkan dansa nya bersama sang kakak.
" Selamat atas pernikahan mu, Kak. Aku sangat bahagia, akhirnya ada yang mengambil alih tugas momy menjagamu."
Alina mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan sang kakak.
Dev tertawa karena perkataan sang adik sambil mencubit hidung mancungnya.
" Terimakasih, adikku yang manis." kata Dev mencium puncak kepala Alina.
Alina memeluk erat tubuh pria tampan itu sambil berkata.
" I love you, Kak. Kau adalah cinta pertamaku, dan aku harus membagi cinta pertamaku ini dengan wanita lain. Sungguh kejam dunia ini," kata Alina dengan manjanya.
Dev tertawa sambil membalas pelukan dari Alina.
" I love you more, my sweety," sahut Dev.
Alina menganggap Dev cinta pertama nya, karena memang sejak kecil Dev yang selalu menemani nya dan selalu memperhatikan nya.
" Aku punya satu permintaan," kata Alina sambil mendongakkan kepalanya.
" Hmmm ... katakan," sahut Dev menatap wajah Alina.
" Aku ingin membawa momy bersama ku. Apa Kakak akan mengijinkan nya?" tanya Alina sambil mengedipkan matanya berulang kali.
Dev tertawa mendengar permintaan konyol dari sang adik.
" Kenapa? Kau sudah bosan hidup sendiri?" tanya Dev masih betah memeluk Alina.
" Tidak, aku hanya iri melihat kedekatan Alea disana bersama Mominya." Dev tertawa mendengar alasan dari Alina, lalu melepaskan pelukannya.
" Oke, aku akan mengijinkan mu membawa momy tapi dengan satu syarat!" tegas Dev memegang kedua pundak Alina.
" Apa syarat nya, Kak?" tanya Alina.
" Kau harus menuruti apa pun perintah Momy dan kau harus menjaga Momy," kata Dev sambil mencolek hidung mancung Alina.
" Oke, aku setuju," kata Alina menggoyangkan kepalanya.
" Aku sangat menyayangimu, Kak." kata Alina sambil memeluk Dev.
" Berbahagialah bersama kakak ipa. Dan secepatnya kau harus memberi ku 2 keponakan," kata Alina melepaskan pelukannya sambil memberikan 2 jarinya di hadapan Dev.
" What ... 2 keponakan?" kata Dev menunjuk 2 jari Alina.
" Ehem, aku ingin memiliki keponakan kembar. Pasti kan sangat menggemaskan," kata Alina.
Dev tertawa sambil mengacak rambut Alina.
" Kakaaakk!!! Kau tahu berapa lama aku menata rambut ku ini!!" teriak Alina kesal.
Dev hanya terus tertawa sambil terus mengacak rambut Alina yang mulai berantakan.
" Kakak menyebalkan!!!" teriak Alina mencebik, lalu pergi dari hadapan Dev karena takut sang kakak akan merusak tatanan rambut nya lagi.
Dev tertawa sambil menggelengkan kepalanya melihat sang Adik yang terlihat kesal.
" Dev, kau merusak tatanan rambut nya," kata Zea berdiri di samping Dev.
Dev merengkuh pinggang Zea dan mendekatkan bibirnya ke telinga nya.
" Aku sengaja melakukan nya, agar dia bisa pergi dariku," bisik Dev.
Zea tertawa mendengarnya, sambil memukul lengan Dev.
" Kau jail sekali rupanya, kau tahu ... selama 3 jam dia menata rambut nya itu agar terlihat sempurna, Dev. Dan kau malah merusaknya," kata Zea sambil menggelengkan kepalanya.
Dev hanya mengangkat kedua bahunya tanda dia tak mau tahu.
" Apa kau sudah selesai bermain dengan adik tengilmu itu, Beby?" tanya Dev sambil mengecup pundak Zea yang terbuka.
"Ehemm ...," sahut Zea.
" Sekarang saatnya kau bermain dengan ku," kata Dev lalu mencium bibir penuh Zea.