
Irza tiba di mansion nya. Dia masuk kedalam mansion dan langsung menuju halaman belakang.
" Bik ... apa Kak Dimas sudah ada di rumah?" tanya Irza.
" Iya, Tuan. Sepertinya Tuan Dimas sedang ada di ruang kerja nya," sahut pelayan itu.
" Baiklah. Terimakasih, Bik."
Irza langsung masuk kedalam dan menuju ruang kerja kakak ipar nya itu.
CEKLEK
Dia langsung masuk ke dalam ruangan itu tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu.
Dimas melihat ke arah pintu yang terbuka dan dia melihat Irza.
" Ada apa Ir Kenapa kau sampai menyusulku kemari?" tanya Dimas.
lalu Irza duduk di kursi yang ada di seberang meja Dimas.
" Ada yang ingin aku sampaikan padamu Kak ini penting," kata Irza.
" Apa ini tentang kondisi Dedi?" tebak Dimas.
" Iya, ini tentang keadaan Dedi, Kak. Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu terlebih lagi pada kak Gita, namun aku belum mempunyai keberanian untuk bicara langsung dengan kak Gita," kata Irza.
" Hmmm ... katakan. Aku yang akan mengatakannya nanti pada Gita," sahut Dimas.
Pria itu tampak termenung, dia bingung akan mengatakan hal itu dimulai dari mana.
" Dedi divonis kanker stadium 4 oleh dokter," kata Irza sambil menundukkan kepalanya.
Dimas tak langsung menjawab. Apa yang dia khawatirkan ternyata benar. Dia sudah mengira bahwa Dedi Ardo terkena penyakit lain selain jantung koroner.
" Huuffft ... aku sudah menduganya," sahut Dimas lirih.
Irza langsung mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Dimas.
" Bukankah Kakak juga seorang dokter? kakak pasti tahu bagaimana caranya agar Dedi bisa sembuh dari penyakit itu," kata Irza penuh harap.
" Meskipun ada, itu sudah sangat terlambat, Ir. Dadi terkena jantung koroner dan juga kanker paru-paru yang cukup parah. Dan kita hanya bisa menunggu keajaiban dari Tuhan. Apa yang dikatakan dokter? Apakah kau belum menanyakan hal itu?" tanya Dimas.
" Belum, Kak. Aku hanya tahu dari momi, dan Mommy terlihat sudah sangat putus asa. Jadi dia tidak mungkin menanyakan sesuatu pada dokter," sahut Irza sendu.
Pria itu menundukkan kepalanya, dan tak terasa buliran bening menetes dari sudut matanya.
" Kau harus kuat Ir. jika kau terlihat lemah seperti ini. Lalu bagaimana Mommy dan Gita akan semangat?" kata Dimas sambil menepuk bahu Irza.
" Kau benar, Kak. Dan sepertinya aku harus memikirkan tentang permintaan Dedi," ucap Irza.
" Apa permintaan Dedi? apa dia menyuruhmu untuk segera menikah?" tanya Dimas.
Irza hanya menganggukkan kepalanya sambil mengusap air matanya.
" Maka menikahlah. Berikan kebahagiaan pada Dedi, agar dia memiliki semangat kembali untuk bisa segera sembuh," sahut Dimas menyemangati Irza.
" Tapi aku belum menemukan wanita yang cocok untukku, Kak. Karena aku masih belum memikirkan tentang pernikahan," sahur Irza.
" Apa kau perlu bantuanku?" tanya Dimas.
" Tidak, Kak. Terimakasih."
Irza langsung bangkit dari kursinya dan pergi dari ruangan itu.
Dimas hanya melihat kepergian adik iparnya itu dia sangat mengerti apa yang dirasakan Irza saat ini.
" Sepertinya aku harus membantunya," gumam Dimas.
Pria itu langsung fokus kembali dengan laptopnya, dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya dan kembali ke kamarnya.
.
.
Dia akan langsung kembali ke rumah sakit untuk menemani Wilda di sana.
Saat dalam perjalanan menuju rumah sakit tiba-tiba ada seorang wanita yang muncul di depan mobil nya.
Wanita itu dengan sengaja menghadang mobil yang melintas. Wajahnya tampak merah karena sedang menangis.
Dia merentangkan kedua tangannya di depan mobil Irza, hingga pria itu menginjak rem mobilnya dalam-dalam.
CHIIIITT
Mobil Irza berhenti tepat di hadapan wanita itu. pria itu mengumpat kesal karena wanita itu tiba-tiba muncul di hadapan mobilnya.
" Apa dia sudah gila," gumam Irza sambil membuka seatbelt-nya.
Pria itu keluar dari dalam mobil sport nya, dia ingin memaki wanita itu namun sebelum dia mengatakan hal itu, wanita itu berlutut di hadapannya sambil menangis.
" Tolong aku, Tuan. Tolong bantu aku, adikku sedang sakit parah dan aku butuh tumpangan untuk ke rumah sakit," kata wanita itu.
Irza mengerutkan keningnya melihat ke arah wanita yang sedang berlutut di hadapannya. Lalu dia melihat ke arah seorang anak kecil yang masih berusia 10 tahun yang tertidur di pinggir jalan.
" Kau bisa menghentikan sebuah mobil dengan cara yang lain. Namun bukan dengan cara yang seperti tadi, karena itu sangat membahayakan para pengendara lainnya. Bagaimana kalau tadi aku tidak sempat mengerem mobilku, atau Bagaimana jika aku menabrakmu! maka itu akan memperumit masalah!!" marah Irza.
" Iya. Aku tahu itu salah, maafkan aku, Tuan. Sekarang tolonglah aku, aku ingin membawa adikku ke rumah sakit. Beri aku tumpangan, Tuan," sahut wanita itu dengan posisi masih berlutut di hadapan Irza.
" Sekarang berdirilah!! jangan sampai berlutut di hadapan orang yang belum kau kenal seperti ini karena kau bisa saja dimanfaatkan oleh orang yang tak bertanggung jawab," sahut Irza.
Lalu wanita itu berdiri dan berjalan ke arah adiknya yang masih tergeletak di pinggir jalan. Irza mengikuti wanita itu dia langsung mengangkat adik dari wanita itu dan membawanya ke mobilnya.
Dia menyuruh wanita itu masuk ke dalam mobilnya, lalu dia juga masuk dan duduk di kursi kemudiannya.
Irza langsung melajukan mobil itu ke rumah sakit tempat di mana dedinya dirawat.
" Bertahanlah, Sayang. Kita akan segera sampai di rumah sakit dan kau akan mendapatkan pertolongan," kata wanita itu yang masih bisa didengar oleh Irza.
Dia melihat wanita itu dari balik spionnya.
" Sebenarnya dia sedang sakit apa?" tanya Irza.
" Usus buntu. Dokter menyarankanku untuk segera mengoperasinya tapi aku belum memiliki cukup uang untuk biaya operasi yang mahal itu," sahut wanita itu sambil menangis.
Irza tampak terdiam dia tidak tahu harus menjawab apa.
.
.
Sesampainya di rumah sakit Irza langsung menggendong tubuh anak itu masuk ke dalam ruangan IGD dengan diikuti oleh wanita itu dari belakang.
Saat adik dari wanita itu tengah di tangani di ruang IGD, tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya yang berpenampilan seksi dengan dua body guard di belakangnya muncul di hadapan wanita itu.
" Valerie!!! beraninya kau kabur dari tugasmu, sebelum kau melayani pria tadi. Pria itu sudah membayarmu!!" tegas wanita itu.
" M-maaf, Madam. aku mendapat kabar adikku sakit jadi aku meninggalkan tugasku," sahut wanita yang di tolong Irza.
" Sekarang ikut aku! cepat layani pria itu sebelum dia mengamuk. Kau harus menyelesaikan tugasmu dulu baru bisa ke sini lagi," sahut wanita itu sambil menarik tangan Valerie.
" Tapi Madam, aku harus menemani adikku dulu, Madam. Tolong pengertiannya, lagi pula aku belum menerima uang dari pria itu," sahut Valeri memohon.
" Itu karena pria itu sudah membayarmu padaku dan sekarang cepat kau susul pria itu dan layani dia!!" bentak wanita yang di sebut Madam itu.
Valeri menghempaskan tangan wanita itu dengan kasar hingga tangannya terlepas dari genggaman wanita itu.
" Aku tidak mau karena aku harus menemani adikku dulu!!" bentak Valerie.
PLAAK PLAAK
Wanita itu langsung menampar kedua pipi vallery secara bergantian.
" Kau hanyalah anak baru dan sudah berani membentak dan melawanku!!" bentak wanita itu.
Irza mulai mengerti apa permasalahan dari dua wanita itu lalu dia berdiri di hadapan Valeri.